Asrama Mahasiswa Sambas Memprihatinkan

GENCILNEWS – Ikatan Mahasiswa Kabupaten Sambas (IKMAS) Yogyakarta meminta Pemerintah Daerah (PEMDA) Kabupaten Sambas memperhatikan Asrama Mahasiswa Kabupaten Sambas (AMKS) Sultan Muhamad Tsafiuddin  yang beralamat di jalan Garuda, Gang Beo UH III Daerah Istimewa Yogyakarta.

AMKS merupakan Asset Pemda yang harus diperhatikan dan di rawat, AMKS Yogyakarta merupakan Struktur bangunan Bekas Rumah 2 lantai bukan bangunan layaknya Gedung Asrama yang dibeli pada Tahun 2006 lalu.

Menurut Ardy Sanjaya Dewan Kehormatan IKMAS dan juga alumni AMKS tahun 2015 bahwa kondisi asrama saat ini sangat memperhatinkan, atap genteng bocor, kamar yang tidak layak, kabel listrik yang semrawut, toilet hanya satu yang bisa digunakan.

“Memiliki 7 Kamar yang masing-masing kamar diisi 3 orang, di tambah 2 kamar terbuat dari triplek ukuran 1 x 3 cukup untuk 1 orang dan terdapat lagi 2 kamar di atas genteng yang ketika kita berdiri kepala kita akan membentur langit-langit kamar,” ungkapnya kepada wartawan.

AMKS, dijelaskannya acap kali digunakan oleh warga Sambas sebagai tempat menginap ketika berkunjung ke Yogyakarta dan tempat menginap bagi warga Sambas yang anak-anaknya akan di wisuda setelah menyelesaikan pendidikanya di Yogyakarta.

 

“AMKS menjadi rumah sementara bagi setiap warga sambas yang berkunjung ke Yogyakarta. Sudah selayaknya tempat ini harus di jadikan milik bersma warga Sambas,” tuturnya

Dengan keadaan yang memperhatinkan di atas, diakui Ardy tentunya warga AMKS tidak tinggal diam, iuran gotong royong untuk memperbaiki sering dilakukan bahkan tiap bulan iuran 100.000,- per orang di sisihkan untuk memperbaiki atap yang bocor.

“Pengurus AMKS dari tahun ke tahun sering mengirim proposal dan upaya audiensi bersama Pemda Sambas untuk dapat menyelesaikan persoalan bangunan AMKS yang sudah tidak layak ini,” katanya lagi.

 

Iapun mengakui pentingnya keberadaan AMKS bagi seluruh mahasiswa asal Sambas ini akibat antusias mahasiswa yang berkuliah di Sambas untuk tinggal di AMKS banyak sekali, tetapi dengan keterbatasan kamar dan kondisi kamar yang tidak layak pengurus memutuskan untuk membatasi penghuni baru.

“Dengan kondisi kabel listrik yang semrawut sejak bangunan asal di beli dan bangunan yang sudah tidak layak huni di tambah lagi daerah Yogyakarta rawan gempa, sudah selayaknya perlu mendapat perhatian khusus bagi Pemda Sambas,” paparnya.

 

Ardy lantas meminta Bupati Sambas Atbah selaku Kepala Daerah menanggapi hal ini, karena AMKS yang sekaligus juga menjadi tempat Sekertariat IKMAS dengan jumlah anggota 150 mahasiswa/i itu biasa digunakan oleh mahasiswa luar (Kos/Kontrakan) asal Sambas maupun luar daerah untuk melangsungkan pertemuan/rapat, belajar kelompok, berdiskusi dan sebagai tempat melepas kerinduan di tanah rantau.

“Selain bangunan AMKS yang tidak layak Asset seperti Komputer, Televisi, kipas dan alat kesenian yang dibeli pada tahun 2011 sudah tidak bisa digunakan lagi,” urainya.

 

AMKS yang dikenal oleh masyarakat Yogyakarta sebagai pusat Kesenian Akustik Melayu dan Tarian Melayu Sambas di bawah Divisi Kesenian IKMAS cukup sering mengadakan Even besar Kebudayaan Sambas seperti “Gelar Budaya Sambas (GBS)” hajatan yang diselenggarakan 2 tahun sekali, dan sering di undang dalam acara Kebudayaan yang di selenggarakan oleh mahasiswa dari luar Kalbar untuk menyiarkan budaya-budaya Sambas ke khalayak ramai juga sering dilakukan.

 

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi I DPRD Kalbar, Subhan Nur mempertanyakan hal ini kepada Bupati Sambas, selaku pihak yang bertanggung jawab akan hal ini.

“Kita pertanyakan visi misi Bupati Sambas yang ingin menciptakan generasu hebat. Bagaimana Sambas bisa hebat kalau memberikan fasilitas kepada mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan tinggi di Yogya saja tidak bisa,” ungkap Subhan diruang kerjanya, belum lama ini.

Menurutnya selaku wakil rakyat dapil Sambas, Subhan menekankan kepada pemerintah Sambas untuk memperhatikan masalah ini agar dapat diselesaikan dengan baik.

“Harus menjadi perhatian kepada Bupati Sambas dan harus dianggarkan ke APBD agar ada biaya perbaikan untuk asrama Sambas di Yogya tersebut,” tegasnya.

Perhatian pemerintah Kabupaten Sambas, ditambahkan Subhan harus dilakukan mengingat mahasiswa asal Kabupaten Sambas adalah sumber daya manusia yang menjadi kewajiban pemerintah memberikan fasilitas agar menjadi generasi yang berkualitas.

“Kita minta Bupati Sambas untuk segera menindaklanjuti hal ini,” pungkasnya. (dpw)