Cegah Stunting, Amelia Atika Minta ‘Jemput Bola’

Cegah Stunting, Amelia Atika Minta ‘Jemput Bola’

 

GENCIL.NEWS – Anggota DPRD Pontianak Amelia Atika mengungkap, temuan anak dengan stunting rata-rata dialami oleh anak-anak yang taraf ekonomi orang tuanya menengah ke bawah.

“Berdasar informasi badan kesehatan dunia, Indonesia diurutan posisi ke 5 dengan jumlah anak stunting tahun 2017 ini,” kata Amelia Atika.

Penyebab kebanyakan munculnya stunting biasanya karena sang ibu tak paham akan pemenuhan gizi saat awal kehamilan dan selama hamil. Sehingga mengakibatkan kurang gizi kronis dalam jangka lama. Selain itu bisa jadi karena faktor perubahan hormon yang diakibatkan oleh stres pada ibu.

Di Pontianak kebanyakan kasus stunting ditemukan pada anak yang orang tuanya berpenghasilan rendah. Kata Amel sapaanya, warga Pontianak harus tahu gejala stunting. Anak stunting biasa berbadan lebih pendek untuk anak seusianya. Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih kecil untuk usiannya. Berat badan juga rendah dan pertumbuhan tulang tertunda.

“Bagi ibu hamil dan miliki anak bayi wajib tahu untuk mendeteksi kesehatan bayinya,” ungkapnya.

Menurut dia, kampanye 1000 Hari Pertama Kehidupan yang dilakukan tim PKK Pontianak beberapa waktu lalu sangatlah baik dan benar. Tapi tentunya education knowledge tentang stunting harus benar digalakkan.

“Kalau saat ini saya lihat masih ada beberapa kasus stunting yang tak tersentuh,” katanya.

Ada baiknya dari kader posyandu, Dinas Kesehatan Kota Pontianak melakukan jemput bola ke rumah warga untuk memeriksa ibu hamil dan bayi serta balita yang jarang pergi ke posyandu.

Tindakan ini kata dia demi mendapatkan data valid dan memeriksa kesehatan yang menyeluruh terlebih lagi untuk mengetahui apakah benar stunting tak ada pada anak-anak Pontianak

Istilah stunting mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian masyarakat Indonesia. Stuntingadalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa. Kemampuan kognitif para penderita juga berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.

Berdasarkan data WHO, Indonesia menduduki peringkat ke lima dunia untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Lebih dari sepertiga anak berusia di bawah lima tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-rata. Bahkan, kasus stunting di Indonesia semakin meningkat. Pada 2013 persentase penderita stunting sebesar 37,2 persen. (all/raw)