Hujan Empat Hari, Aktifitas Warga Pontianak Terhenti

GENCIL.NEWS – Sejak Kamis (10/1) hingga Minggu (14/1), Kota Pontianak dan sekitarnya diguyur hujan deras. Tidaknya hanya mengakibatkan ruas-ruas jalan terendan air. Hujan dengan intensitas tinggi juga mengakibatkan aktifita swarga sebagian terhenti. Seperti sejumlah toko kelontong di Jalan Tabrani Ahmad.

Pemilik toko kelontong Ahua (42) mengaku, tokonya terpaksa berhenti beraktifitas alias tutup sejak Sabtu (13/1) karena air sudah masuk ke dalam area toko. Beberapa produk yang dijual di tokonya tak ayal basah.

“Hujannya kan awet. Sejak Sabtu air sudah masuk ke dalam toko saya, tapi tidak terlalu tinggi, tapi pas Minggu sudah hampir 10 cm, mau tidak mau kita pun tutup. Barang-barang yang ada pun kita kemas cepat, ada yang basah, kardus pun kuyup,. Ini mah bukan tergenang lagi tapi kebanjiran,” ujarnya.

Ia mengaku, meskipun rugi karena seharian tidak buka, Ahua berharap hujan bisa segera reda karena jika masih hujan, kerugian yang dialami akan semakin besar.

Lokasi jalan Tani Makmur

“Kalau sehari okelah tapi kalau masih berhari-hari lagi hujannya, rugi kita banyak, apalagi yang kita jual adala bahan pokok sehari-hari. Pastinya semoga tidak lama-lama hujannya, tapi kalau hujan yaaa mau bagaimana lagi, sudah kehendak Tuhan,” ungkapnya.

Hal sama juga diungkapkan Suhari (51) pemilik toko kelontong Jalan Tebu. Ia mengaku hujan deras membuat tokonya terendam air hingga 15 cm.

“Kita tutup, kalau ada yang beli, mau tidak kita layani. Tidak benyak yang berbelanja hanya tetangga saja yang beli,” ucapnya.

Namun, yang paling ia khawatirkan adalah adanya binatang seperi ular yang menyelinap masuk tanpa ia ketahui.

“Saya lihat di media, ada nak yang kena patuk ular karena banjir. Kita takut yaa apalagi anak-anak saya masih kecil, aktif ke sana kemari, apalagi kalau air kayak gini, suka main. Semoga segera surut,”harap ibu empat anak ini.

BMKG mencatat hujan lebat yang melanda sebagian besar wilayah Provinsi Kalbar akibat dampak dari siklon tropis “TC Joyce Australia”. BMKG mengklaim massa udara dari Samudra Pasifik dan Samudra Hindia di sebelah barat Pulau Sumatera bertemu di sekitar Pulau Sumatera sampai Kalbar. Sejumlah perairan Kalbar pun dalam catatan BMKG berpotensi terjadi gelombang tinggi. (all)