Jurnalis Harus Paham Isu Sensitif Gender

PONTIANAK- Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender bagi SDM Media Cetak di Kalbar dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Barat.

Ketidaksetaraan gender dan hak anak masih jadi hambatan dalam arus pengutamaan gender dan masih banyak masalah sosial yang cukup kompleks terutama permasalahan di Kalbar

“Untuk menghadapi itu KPPPA mencoba menggalang partisipasi banyak pihak.  Tidak hanya pemerintah bisa akademisi, lembaga riset. Serta media untuk sama-sama berperan dan terlibat aktif dalam upaya perlindungan anak dan perempuan,” ungkap Kepala Bidang Data Gender dan Anak KPPPA Kalbar Paskalia Ema.

Menurutnya keterlibatan aktif dari kalangan media merupakan suatu element penting. Dikarenakan sebagai mediator dan jembatan membantu pemerintah dan masyarakat. Dalam penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak memiliki jaringan yang cukup luas.

“Jika melihat banyaknya isu beredar tentang ketidaksetaraan gender menjadi hal yang dianggap begitu sulit untuk mewujudkan kesejahteraan. Maka dalam pelatihan ini para jurnalis diharapkan akan lebih memiliki pemahaman dalam pelaksanaan reportase sensitif gender,” jelasnya.

Media juga harus lebih peka serta dapat menjadi pengawas erhadap kasus kekerasan. “Sehingga masyarakat dapat mengkonsumi produk medis yang berkualitas,” cetusnya.

Sementara itu, Ketua PWI Kalbar Gusti Yusri mengatakan dengan pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan peran SDM Media Cetak yang dapat membantu menetapkan agenda sosial dan politik yang menjadi isu krusial. Serta dapat menentukan isu-isu sosial yang relevan.

“Diharapkan juga media bisa memusatkan perhatian pada persoalan yang menyangkut perempuan, anak perempuan dan kaum terpinggirkan. Sekaligus dapat mengangkat suara mereka secara aktif,” harap Yusri.

Ia menyatakan melalui pelatihan ini juga media dapat menyediakan ruang bagi representasi perempuan. Yang mencerminkan luasnya aktivitas mereka di dalam masyarakat. Termasuk memperlihatkan bahwa perempuan bukan kelompok yang monolitik.

“Isu gender jadi isu global. Hanya sampai jurnalis di Kalimantan Barat yang biasa ada tersurat tentang sebuah pelanggaran,” pungkasnya. (dpw