Festival Tembawang Lestarikan Kearifan Lokal

Festival Tembawang Lestarikan Kearifan Lokal

GENCIL.NEWS, KAPUAS HULU – Festival Tembawang sedang diselenggarakan di Desa Nanga Semangut, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu.

Setelah dibuka langsung oleh asisten 3 Bupati Kapuas Hulu, M. Yusuf, pada Jumat (13/10) lalu, Acara ini akan berlangsung selama 3 hari, yaitu mulai dari Jumat sampai Minggu (15/10)

Rangkaian kegiatan Festival ini diantaranya ialah expo produk hijau desa, Festival seni dan tari budaya yang menampilkan lomba sumpit, pangka’ gasing, lomba sampan, lomba tari tradisional dan berbagai lomba budaya lainnya.

Ada juga pameran kuliner khas masyarakat Desa Nanga Semangut dan prodak-prodak hijau masyarakat seperti buah kemayong, kopi, bawang dayak, produk-produk kerajinan (Gelang, cincin, dompet, tas, beruyut dll), serta sayur-sayuran hijau masyarakat.

Adapun Tujuan dari festival ini ialah Memperkenalkan budaya masyarakat dalam menjaga alamnya yang sustainable, memperkenalkan produk hijau desa yang merupakan hasil dari pengelolaan tembawang masyarakat, serta membangun jaringan pasar sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui industri rumah tangga di desa-desa peserta.

Selain itu bertujuan agar kearifan lokal terjaga dan keharmonisan antar desa terbangun. Festival ini merupakan cara untuk mentranformasikan kearifan lokal kepada generasi muda dan generasi selanjutnya dalam sistem pengelolaan lahan yang berkelanjutan, serta mempromosikan potensi wisata di kabupaten Kapuas Hulu sehingga jumlah kunjungan wisatawan dapat meningkat, hal ini akan berdampak pada meningkatnya pendapatan masyarakat dan penigkatan PAD (desa, kabupaten).

Ketua panitia Festival Tembawang, Ardianto menjelaskan jumlah desa yang berpartisipasi sebanyak 18 desa.

“Jumlah desa yang berpartisipasi langsung dalam kegiatan ini sebanyak 18 desa dari 6 kecamatan yaitu Kecamatan Bunut Hulu, Kalis, Putussibau Selatan, Hulu Gurung, Putussibau Selatan, Mentebah dan Embaloh hilir,” katanya

Lebih lanjut dia mengungkapkan hal ini diluar perkiraan panitia.

“Awalnya kami mengira jumlah peserta yang hadir bakalan sedikit dan hanya dari 4 kecamatan, tetapi kenyataannya banyak yang terlibat, hal ini menunjukan masyarakat sangat antusisa menyambut kegiatan festival ini,” ujarnya.

Tidak lupa dia mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu kegiatan ini, terutama Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, dalam hal ini Dinas Kepemudaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas Hulu, LSM Sampan Kalimantan, TFCA Kalimantan, TNBKDS, WWF dan pihak lain yang ikut ambil bagian dalam penyelenggaraan Festival Tembawang.

Sejalan dengan hal tersebut, kepala Desa Nanga Semangut, Zaini menjelaskan kegiatan Festival Tembawang merupakan pertama kalinya dilaksanakan di Desa Nanga Semangut.

“Kegiatan ini awalnya diinisisai oleh pemerintah desa Nanga Semangut dan LSM Sampan Kalimantan. Selain itu kegiatan festival ini masuk dalam rangkaian kegiatan Festival Danau Sentarum Betung Kerihun (BKDS) yang telah dilaunching pada tanggal 24 mei 2017 di indor Putussibau dan acara puncaknya nanti tanggal 25 Oktober 2017 di Lanjak,” jelasnya.

Zaini mengungkapkan sebenarnya banyak kendala yang mereka hadapi, namun banyaknya pihak yang berpartisipasi baik secara, materi maupun ide, festival ini bisa terlaksana.

“Festival Tembawang ini akan dijadikan agenda tahunan pemerintah desa dan masyarakat desa nanga semangut, serta akan dipadukan dengan beberapa kegiatan wisata lainnya diantaranya wisata alam Gurung Nekan, Gurun Besiak,” ucapnya.

Selain masyarakat dari berbagai desa, hampir semua SKPD Kabupaten Kapuas Hulu menghadiri festival ini.

Terminologi Tembawang digunakan untuk mempermudah penyebutan sebuah wilayah yang ditumbuhi oleh pepohonan, buah-buahan dan tumbuhan lainnya, yang merupakan hasil proses perkembangan pemukiman dan budidaya sesuai dengan sistem adat dan hukum adat yang memiliki manfaat ekonomi, ekologi, tradisi seni dan budaya tersebut.

Masyarakat Dayak Sub Dayak Urung Da’an menyebut Tembawang dengan istilah Kolokap Buaa’ Tuo, Sub Dayak Suru’ menyebut dengan istilah Temawakng, dan Sub Dayak Punan menyebut dengan istilah Lepu’un. Jadi tembawang merupakan indigenous agroforesty system masyarakat hukum adat dayak maupun Melayu yang menjadi sumber pangan dan pendapatan.

Bagi konservasi, Tembawang berfungsi sebagai jaringan ekosistem yang menghubungkan kelestarian dan menjaga keanekaragaman hayati ekosistem daerah aliran sungai dan hutan alam.

Sesuai dengan filosofis yang terkandung dalam terminologi tembawang, kepala desa Nanga Semangut berharap tujuan dari festival ini dapat tercapai, terutama dalam menjaga kearifan lokal di Kapuas Hulu.