GENCIL.NEWS PONTIANAK-Kesadaran masyarakat akan asupan gizi bagi kehidupan masyarakat masih belum mencapai 100 persen.

Di Indonesia tingkat kesadaran masyarakat akan kecukupan gizi masih sangat rendah.

Dari 44 Provinsi yang ada, 9 Provinsi menjadi kawasan terendah akan asupan gizi.

Sembilan Provinsi yang terendah asupan gizi yaitu Riau, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Gorontalo, Maluku dan Papua.

Oscar Permadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementrian Kesehatan RI, mengakui 9 Provinsi yang terendah akan gizi tersebut hingga saat ini menjadi intervensi pemerintah akan peningkatan gizi yang seharusnya dikonsumsi masyarakat sekitar.

“Sembilan provinsi dengan 10 kabupaten dan 1000 desa menjadi perhatian pemerintah khususnya di Kementrian Kesehatan akan intervensi peningkatan gizi di Indonesia,” ungkapnya kepada Gencilnews.com, Senin (12/2/2018).

Baca juga   Penelitian : Udara Panas dapat Pengaruhi Kecerdasan Orang Dewasa

Dari 9 Provinsi, 10Kabupaten/kota tersebut adalah Kabupaten Rokan Hulu, Lampung, Cianjur, Pemalang, Brebes, Lombok Tengah, Ketapang, Gorontalo, Maluku Tengah dan Lanny Jaya.

Sementara untuk cakupan desa yang masih rendah, diakui mantan Kadis Kesehatan Kota Pontianak ini beberapa diantaranya Menaming, Suka Maju, Buyut Idik, Mataram Ilir, Mandiraja, Ciwalen, Glonghong, Losari, Sukadana, Cigadung, Batu Tajam, Rangga Intan, Ambara, Pulau Hatta, Kuabaga, Arungwi dan masih banyak desa lainnya mwncapai 1000 desa.

Dari ke sepuluh kabupaten/kota yang memiliki asupan gizi rendah, salah satunya ada di Kabupaten Ketapang Provinsi Kalbar.

“Untuk Kalbar, intervensi kami memang di Kabupaten Ketapang dengan cakupan gizi terendah,” jelasnya.

Mengantisipasi gizi rendah, Oscar menjelaskan bahwa pemerintah terus mensosialisasikan makanan yang cukup gizi selain menjadikan kebiasaan akan makanan sehat yang dikonsumsi masyarakat.

Baca juga   Gerakan Nasional Kebangsaan Rakyat Indonesia (GNKRI) Mengusung ''Gerakan''

“Bahwa kita masih belum terbiasa dengan makanan sehat dengan cukup gizi yang menjadi masalah dasar mengapa di beberapa kawasan kekurangan gizi,” katanya lagi.

Tugas pemerintah, ditambahkan Oscar bukan saja mengingatkan masyarakat Indonesia akan pentingnya gizi tetapi juga menjelaskan bahwa asupan gizi berhasil dikonsumsi oleh generasi penerus sehingga menjadi sebuah kebiasaan.

“Hal tersulit adalah bagaimana membiasakan makanan bergizi ini dikonsumsi oleh anak-anak yang menjadi generasi penerus kita. Kalau sudah terbiasa mengkonsumsi gizi tinggi kedepan tak lagi ada kata kekurangan gizi,” pungkasnya.