Ketua Peradi: Kasus Narigi Harus Penuhi Dua Unsur Jika Dilanjut Ke Persidangan

GENCILNEWS – Kasus Joke Bomb yang dilakukan Frantinus Nirigi didalam Pesawat Lion, Jumat lalu dalam proses melakukan sidang pra peradilan di Pengadilan Negeri Pontianak.

Meski pada akhirnya sidang ditunda, namun Ketua Korwil Peradi Kalimantan BTU, Hadi Suratman menjelaskan akan batal demi hukum kasus Frans Narigi tersebut jika sidang kedua dan ketiga Praperadilan, pihak yang dituntut yaitu Kementrian Perhubungan dan Polresta Pontianak tidak hadir memenuhi panggilan persidangan.

“Tentu jika sampai sidang tiga kali berturut-turut dipanggil dengan layak dan patut namun tetap tidak datang maka Frans akan memenangkan sidang Praperadilan tersebut karena yang dituntut tidak menggunakan haknya dalam meraih perlawanan atas gugatan Narigi,” ungkapnya kepada Gencil.News.

Menurutnya sidang praperadilan, diakui Ketua Peradi DPC Pontianak ini ditempuh dengan alasan agar mengetahui sah tidaknya seseorang itu ditangkap sesuai dengan pasal 20.

“Pihak tergugat harus menjelaskan dan memberikan perlawanan atas gugatan yang mereka lakukan. Dan peluang melakukan praperadilan ada pada setiap kasus pidana yang berakibat seseorang itu ditahan dan digeledah sesuai pasal 77 KUHAP,” tuturnya.

Hadi Suratman juga mengakui jika pihak tergugat kasus praperadilan Frans Narigi sampai sidang ketiga tidak datang, yaitu pihak Kementrian Perhubungan dan Polresta Pontianak, terdapat dua kemungkinan.

“Pertama tergugat tidak mendapatkan haknya atau bisa juga dikatakan tidak menghormati pengadilan. Terlepas menang kalah harus datang agar tidak dianggap tidak menghormati pengadilan,” ujarnya.

Hadi berharap, kasus ini merupakan kasus yang berdasarkan penegakan hukum yang mencari keadilan dan demi kepentingan umum harusnya jangan berat sebelah karena dalam pidana ada dua suatu kejahatan dapat dihukum jika memenuhi unsur Actud reus atau kejahatannya dan unsur mens rea dilihat dari kejiwaan saat melakukan, atau psykis elemen dan mental elemen.

“Kita bisa melihat kasus Frans ini, kejiwaan atau kejahatannya, harus memenuhi dua unsur itu. Kalau dia bawa bom logikanya sudah ditangkap sebelum masuk bandara,” pungkasnya. (dpw)