Koreksi Tarif Angkutan Udara dan Komoditas Pangan Dorong Deflasi Juli 2017

GENCIL NEWS – BANK INDONESIA – Setelah sebelumnya mengalami inflasi sebesar 1,24% (mtm), secara umum tingkat harga barang dan jasa di Kalimantan Barat mengalami penurunan. Realisasi inflasi Kalimantan Barat pada Juli 2017 tercatat sebesar -0,18% (mtm) atau 3,65% (yoy). Penurunan tarif angkutan udara dan beberapa komoditas pangan menjadi faktor terbesar dalam terjadinya deflasi Kalimantan Barat di bulan Juli 2017.

Inflasi Provinsi Kalimantan Barat pada Juli 2017 ini tercatat jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi bulan Juli dalam tiga tahun terakhir (1,54%, mtm). Hal ini tidak terlepas dari telah berakhirnya masa libur Idul Fitri dan sekolah sehingga menyebabkan koreksi tarif angkutan udara yang cukup dalam.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi Kalimantan Barat selama Januari-Juli 2017 mencapai 3,58% (ytd), masih dalam kisaran sasaran inflasi sebesar 4±1%.

Berdasarkan komoditasnya, komoditas yang memberikan andil terbesar pada deflasi Juli 2017 adalah angkutan udara, wortel, sawi hijau, mie kering instan serta bawang putih. Kelompok administered prices tercatat mengalami inflasi sebesar -2,28% (mtm), jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata secara historis selama tiga tahun terakhir yaitu sebesar 4,42% (mtm).

Sebaliknya, kenaikan harga rokok kretek (filter dan non filter) yang disebabkan oleh kenaikan cukai rokok sebesar 10,54% secara bertahap setiap bulan menahan laju deflasi kelompok administered prices.

Selain itu, koreksi harga kelompok komoditas volatile food (VF) juga berkontribusi terhadap deflasi Juli 2017. Kelompok komoditas VF tercatat mengalami inflasi -0,41% (mtm), lebih rendah dibandingkan rata-rata historis inflasi VF dalam 3 tahun terakhir sebesar 1,90% (mtm).

Komoditas utama VF yang mengalami koreksi harga pada bulan ini utamanya adalah sayur-mayur seperti wortel, sawi hijau, dan kangkung, serta komoditas lain seperti mie kering instan dan bawang putih. Pasokan beberapa komoditas sayur-mayur seperti wortel di pasar tradisional mempengaruhi koreksi harga pada komoditas tersebut.

Sementara itu, cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini menyebabkan berkurangnya pasokan ikan sehingga memicu peningkatan harga beberapa jenis ikan tangkap seperti ikan tongkol dan kembung. Peningkatan harga komoditas ikan tangkap serta beberapa komoditas lain seperti daging ayam ras, tomat sayur dan bawang merah menahan deflasi pada kelompok volatile food.

Sebaliknya, komoditas inflasi kelompok inti mengalami peningkatan. Inflasi pada kelompok ini tercatat sebesar 0,51% (mtm), meningkat dibanding bulan lalu yang sebesar 0,40% (mtm). Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan biaya sekolah (taman kanak-kanak, sekolah dasar dan sekolah menengah atas) seiring dengan dimulainya tahun ajaran baru di bulan Juli.

Kendati mengalami peningkatan, namun inflasi kelompok inti relatif lebih rendah dibandingkan dengan tingkat inflasi historis dalam tiga tahun terakhir (0,56%, mtm).

Ke depan, tekanan inflasi Provinsi Kalimantan Barat diperkirakan kembali meningkat. Kalimantan Barat diperkirakan akan kembali mengalami inflasi pada Agustus 2017, namun dalam rentang yang lebih terkendali.

Koordinasi pengendalian inflasi semakin diperkuat terutama dalam menghadapi sejumlah risiko terkait kembali munculnya gangguan kabut asap yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dari kelompok komoditas volatile food.

Dari sisi komoditas administered prices, terdapat potensi penyesuaian kembali tarif angkutan udara sejalan persiapan pelaksanaan Sembahyang Kubur dan Idul Adha. Berdasarkan pemantauan pola historis selama empat tahun terakhir (2012-2016), tekanan inflasi Agustus terutama bersumber dari potensi risiko inflasi kelompok komoditas buah-buahan, utamanya jeruk serta tarif angkutan udara.

Mencermati masih tingginya faktor risiko dan tantangan dalam pengendalian inflasi yang dihadapi, koordinasi TPID se-Provinsi Kalimantan Barat akan terus diperkuat dan difokuskan terutama dalam rangka memitigasi risiko kenaikan harga melalui terjaganya stok serta kelancaran distribusi bahan pangan strategis.

Beberapa langkah pengendalian inflasi yang telah dilakukan oleh TPID se-Kalimantan Barat serta rekomendasi penting yang dihasilkan oleh TPID antara lain melalui peninjauan langsung ke pasar tradisional untuk memastikan kecukupan stok komoditas pangan menjelang pelaksanaan Sembahyang Kubur dan Idul Adha, serta terus mengoptimalkan partisipasi masyarakat dan pemanfaatan virtual meeting oleh Bank Indonesia bersama dinas terkait dalam pemantauan harga komoditas kebutuhan pokok melalui aplikasi GENCIL.