Sanggar Pontianak Timur Tampilkan Teater Tentang Realitas Sosial Di Taman Budaya

GENCIL.NEWS, PONTIANAK – Seleksi Parade Teater tingkat umum Kalimantan Barat menghadirkan 4 sanggar teater yang berasal dari Pontianak Timur. Bertempat di Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat, empat Teater ini akan menampilkan karyanya pada tanggal 14-15 Desember 2017 dengan jam tayang pementasan 15.30-selesai dan 19.00-selesai.

Adiansyah selaku pembina sekaligus pelatih sanggar-sangggar yang ada di Pontianak Timur mengatakan secara sekilas merekam realitas sosial yang terjadi saat ini. Adapun sanggar-sanggar yang terlibat dan judul pementasan adalah Karter “Seberkas Cahaya Pelangi”, Terbit 12 “Pelangi Cinta”, Senter “Warna-warni Pelangi”, dan Terbit Junior “Tertudoh”

“Tidak hanya mencerminkan satu sektor, sifatnya multisektoral, seperti keluarga, budaya atau kultural, politik, hingga urusan kenegaraan yang ada di perbatasan. Sanggar Karter dalam Naskah Seberkas Cahaya pelangi Menggambarkan tentang perbandingan klas sosial yang terbangun di tengah-tengah masyarakat,”jelasnya

Sanggar Karter menceritakan seseorang yang buta dari kecil dibuang orang tuanya di kuburan, lanjutnya, Lalu, dipungut oleh orang lain dan menjadi anak yang baik hati. Selain itu, menceritakan congkaknya orang kaya yang berbanding terbalik dengan orang miskin dalam bertindak dan bersikap.

“Sanggar Terbit 12 pada naskah Pelangi Cinta, yang sekilas menceritakan kultur Bugis. Namun, tidak pada kultur bugis secara utuh namun dikemas secara universal mengambil simpulan tentang cinta yang sesungguhnya dengan mengabdikan diri dalam cinta tersebut,”katanya

Kemudian jelasnya, Terbit Junior pada naskah Tertudoh yang menceritakan tentang Tembawang yang kini beralih fungsi dan dibabat habis dalam ekspansi korporasi maupun elemen-elemen pemodal lainnya baik sektor perkebunan sawit, tambang, HTI (Hutan Tanaman Industri) yang merampas dan mengubah hutan menjadi perusahaan.

“Selain itu, dalam naskah ini juga menceritakan sekelumit tentang satwa langka yang sudah hilang dalam peradaban zaman yang ada di Kalimantan Barat,”ungkapnya

Ia menjelaskan yang untuk sanggar Senter dalam naskah Warna-warni Pelangi yang menceritakan carut marut sebuah keluarga di daerah perbatasan yang dekat dengan negara tetangga namun dideskripsikan sangat pelosok.

“Dalam pementasan ini ditonjolkan konflik keluarga, konflik negara, dan isu-isu politik,”ungkapnya

Adiansyah menyampaikan bahwa ia ingin menampilkan sesuatu yang kompleks dari sanggar-sanggar Pontianak Timur.

Menurutnya, hal itu sangat penting sebagai kacamata bahwa dalam kehidupan ini keberagaman merupakan aspek penting untuk melihat sesuatu dengan cara pandang dari sektor kesenian.

“Kami berusaha memberikan proyeksi pandangan yang berbeda terhadap kondisi sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Hal ini menurut kami adalah sesuatu yang sangat perlu menjadi tontonan dalam teater. Sehingga setelah pementasan berakhir, setiap penonton dapat mengambil, dan menyimpulkan nilai-nilai yang kami kemas dalam pementasan” ujarnya.