GENCILNEWS -Terdapat llima persoalan pertanian di Indonesia. Pertama persoalan tanah yang rusak karena penggunaan pestisida berlebih, kemudian penggunaan pupuk kebanyakan untuk mendapatkan hasil baik tanpa memikirkan ukuran proporsionalnya.

Hal tersebut diakui Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Moeldoko, usai pelantikan pengurusan HKTI Kalbar sekaligus pameran expo pertanian 2018, di Jalan Bardan, Minggu (5/8/2018).

“Setelah kepengurusan HKTI Kalbar terbentuk, lima persoalan pertanian dapat teratasi dengan muara kesejahteraan bagi petani, termasuk lahan sempit juga menjadi persoalannya,” ungkapnya.

Mengenai persoalan lahan semakin sempit, menurutnya banyak ditemukan di Pulau Jawa. Tapi untuk Pulau Kalimantan persoalannya tentang gambut.

“Mengenai hal itu, saya belum lama ini sudah berdiskusi dengan pengurus gambut nasional dengan tujuan meminta bantuan untuk menyelesaikan persoalan gambut di wilayah Indonesia,” terangnya.

Setelah persoalan tanah, persoalan permodalan bagi petani jadi fokus HKTI. Ia menjelaskan meski pemerintah sudah menyiapkan skema KUR tetapi dirasa petani masih kesulitan dalam mendapat akses permodalan. Dalam sampaian Ketua HKTI Kalbar, Moeldoko akan mencoba menjadi fasilitator untuk mengkomunikasikan ini ke bank. “Tentu ini positif,” katanya.

Baca juga   Tahun 2019, Sutarmidji Targetkan Pontianak Bebas Kawasan Kumuh

Kemudian, soal teknologi pertanian, belum semua petani mengerti. Dia melihat, masih banyak petani dalam pengelolaannya menggunakan cara-cara tradisional. Harusnya, ini tak boleh dipertahankan lagi. Perkembangan teknologi adalah kebutuhan dan harus dilakukan petani. Contoh pengembangan teknologi sudah dilakukannya. Yaitu benih padi n 70. dengan benih tersebut dalam 70 hari padi bisa dipanen. Jika normalnya butuh waktu 105 hari. Artinya, penghematan waktu bisa sampai 35 hari.

Kemudian soal manajerial petani belum termaksimalkan. Kebanyakan petani ketika ditanya harga pokok produksi tak tahu. Artinya, dia tak bisa mengukur untung atau buntung. “Ini harus diberi pemahaman. Mereka (petani) harus diajari,” pintanya.

Terakhir terkait persoalan pasca panen khusus untuk tanaman padi jika masih menggunakan cara tradisional akan merugi bagi petaninya. Dalam lahan satu juta hectare setelah dihitung bisa hilang satu hektare. Dengan hadirnya HKTI di Kalbar, mudah-mudahan bisa menyelesaikan lima persoalan ini. Nasib para petani mesti diperjuangkan.

Baca juga   BI Siapkan Rp3,2 T Jelang Lebaran

“Pesan saya pada pengurus HKTI Kalbar, segera konsolidasikan organisasi ini sampai ke akar,” urainya.

Ketua HKTI Kalbar, Edy Suyanto akan mengemban amanah ini. HKTI Kalbar akan berkerja keras untuk mewujudkan ketahanan pangan berbasis kesejahteraan petani.

“Mengenai program kerja sudah disusun. Selain itu, arahan Presiden pada pembukaan ASAF yang menginginkan kejayaan rempah dan buah tropis nusantara kembali berjaya akan diupayakannya di Kalbar,” paparnya.

Dalam pelantikan Ketua HKTI Kalbar, PJ Gubernur, Dodi Riadmandji juga berpesan agar peran organisasi untuk kebaikan dan kemajuan masyarakat Kalbar, khususnya HKTI mesti bisa menjadi tulang punggung bagi petani.

“Di Kalbar sendiri, sektor pertanian masih menjadi sektor unggulan baik itu dari sisi industri dan pariwisatanya. Untuk memajukannya, diperlukan keseriusan dengan memaksimalkan SDM dan SDA yaitu petani,” pungkasnya. (dpw)

 

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.