GENCIL.NEWS Direktur RSUD Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak, Yuliastuti Saripawan, angkat bicara terkait balita yang meninggal akibat DBD d rumah sakit yang dipimpinnya itu, Jumat (19/1).

Ia   menjelaskan penanganan yang diberikan pihaknya sudah sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur). Apalagi katanya saat ini ruangan ICU penuh sesak pasien.

“Dari awal kami juga menyarankan dirujuk ke tempat yang lain, karena waktu itu RSUD Soedarso juga penuh, terpaksa ambil pertolongan pertama, jadi dinaikkan ke ruangan atas,” terangnya.

Kata dia, kondisi Zahra saat dibawa ke rumah sakit memang masuk kondisi  shock atau Dengue Shock Syndrome (DSS). DSS  adalah sindrom syok/renjatan yang terjadi pada penderita DBD. Sekitar 30-50% penderita demam berdarah dengue akan mengalami syok dan berakhir dengan suatu kematian, terutama bila tidak ditangani secara dini.

Baca juga   Telah Terbit Majalah Pontianak Info Edisi Januari 2018

Beberapa penyebabnya karena trombositnya terlalu rendah, dan kurangnya rehidrasi cairan. Biasanya pasien yang mengidap DBD selalu diperiksa struktur darahnya. Biasanya tiap 12 jam pasien diambil darah untuk mengetahui peningkatan atau penurunan trombosit.

Namun jika sudah melewati masa kritis biasanya pasien hanya diperiksakan Haemoglobin, Hematokrit dan Trombosit perhari. Kadar trombosit yang sangat turun sangat berbahaya. Apalagi jika disertai perdarahan, seperti muntah darah dengan warna muntahan cokelat kehitaman, BAB darah di mana warna feses kehitaman, mimisan hingga keluar ruam merah dengan jumlah yang banyak.

Ia menjelaskan, pihaknya sudah bekerja maksimal untuk menyelamatkan balita DBD itu, namun saat itu posisi ruang ICU penuh.

Baca juga   Vaksin Demam Berdarah Digunakan Secara "Eksklusif"

“Anak itu harus masuk ICU, karena penuh maka kami tetap usahakan ditolong dulu, tapi akhirnya dapat ruang ICU di Soedarso,” paparnya.

Kata dia, alat ventilator yang merupakan alat bantu napas untuk pertolongan anak, saat itu dipakai semua.

“Masalahnya RSUD Pontianak hanya punya tiga buah, jadi tidak mungkin dicopot dari pasien lain karena semua pasien kita perlakukan sama tanpa pengecualian,” ucapnya.  (all)