Harga Pangan dan Biaya Sekolah Dorong Inflasi Kalbar di Agustus 2017

Harga Pangan dan Biaya Sekolah Dorong Inflasi Kalbar di Agustus 2017

GENCIL NEWS – BANK INDONESIA – Peningkatan harga beberapa komoditas pangan dan biaya sekolah menjadi faktor terbesar dalam terjadinya inflasi Kalimantan Barat di bulan Agustus 2017. Setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar -0,18% (mtm), secara umum terjadi peningkatan pada tingkat harga barang dan jasa di Kalimantan Barat. Realisasi inflasi Kalimantan Barat pada Agustus 2017 tercatat sebesar 0,14% (mtm) atau 3,31% (yoy).

Inflasi Provinsi Kalimantan Barat pada Agustus 2017 ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historisnya dalam tiga tahun terakhir yang tercatat sebesar -0.05% (mtm). Kelangkaan beberapa bahan pangan terutama daging ayam dan ikan tangkap Hal ini tidak terlepas dari kelangkaan yang terjadi pada beberapa komoditas bahan pangan, utamanya daging ayam dan ikan tangkap. Dengan perkembangan tersebut, inflasi Kalimantan Barat selama Januari-Agustus 2017 mencapai 3,72% (ytd) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi 2017 yaitu sebesar 4±1%.

Berdasarkan komoditasnya, komoditas yang memberikan andil terbesar pada inflasi Agustus 2017 adalah daging ayam ras, biaya sekolah menengah atas, biaya sekolah dasar, daging sapi dan ikan kembung. Kelompok volatile foods (VF) tercatat mengalami inflasi sebesar 1,05% (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata secara historis selama tiga tahun terakhir yaitu sebesar 0,74% (mtm).

Komoditas utama VF yang mengalami koreksi harga pada bulan ini utamanya adalah daging ayam ras, daging sapi, ikan kembung, ikan tongkol, dan jeruk. Peningkatan harga pada komoditas daging ayam ras disinyalir terjadi karena produksi ayam lokal sedang berada pada kondisi menjelang masa panen, sedangkan pasokan ayam dari luar Kalbar belum mencukupi kebutuhan.

Adapun masih ekstremnya kondisi cuaca menyebabkan nelayan enggan melaut sehingga mengurangi pasokan ikan terutama pada komoditas ikan tangkap, terutama ikan tongkol dan ikan kembung. Sementara itu, sebagaimana pola historisnya, peningkatan permintaan dalam rangka pelaksanaan kegiatan Sembahyang Kubur berpengaruh pada kenaikan harga jeruk. Inflasi lebih jauh pada komoditas VF tertahan oleh koreksi harga yang dialami oleh komoditas bumbu-bumbuan seperti bawang merah dan putih.

Sementara itu, tekanan inflasi kelompok komoditas core (inti) juga berkontribusi terhadap inflasi Agustus 2017. Kelompok komoditas inti tercatat mengalami inflasi 0,48% (mtm), lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis inflasi inti dalam 3 tahun terakhir yang sebesar 0,38% (mtm). Komoditas inti yang mengalami koreksi harga pada bulan ini utamanya adalah biaya sekolah (sekolah dasar hingga sekolah menengah atas).

Selain itu kenaikan harga oyong/gambas dan garam juga mendorong peningkatan tekanan inflasi kelompok inti. Penurunan harga pakaian (baju kaos berkerah dan tidak berkerah/t-shirt serta celana panjang jeans) serta gula pasir menahan inflasi pada kelompok inti.

Sebaliknya, kelompok administered prices (AP) pada bulan Agustus 2017 tercatat mengalami deflasi. Deflasi pada kelompok ini tercatat sebesar -2,04% (mtm), sedikit meningkat dibanding deflasi bulan lalu yang sebesar -2,28% (mtm). Tidak seperti pola historisnya, tarif angkutan udara justru mengalami deflasi pada Agustus ini sehingga mendorong deflasi AP.

Pembukaan rute direct flight dari kota-kota besar selain Jakarta menuju Pontianak disinyalir mendorong penurunan tarif tiket angkutan udara. Akibatnya tarif tiket tersebut tidak setinggi tahun sebelumnya meskipun pada Agustus bertepatan dengan pelaksanaan Sembahyang Kubur. Di sisi lain, peningkatan harga rokok tidak mampu menahan laju deflasi pada kelompok AP.

Ke depan, tekanan inflasi Provinsi Kalimantan Barat diperkirakan kembali meningkat. Kalimantan Barat diperkirakan akan kembali mengalami inflasi pada September 2017, namun dalam rentang yang lebih terkendali. Koordinasi pengendalian inflasi semakin diperkuat terutama dalam menghadapi sejumlah risiko terkait masih ekstremnya cuaca di lautan lepas yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dari kelompok komoditas VF.

Berdasarkan pemantauan pola historis selama empat tahun terakhir (2012-2016), tekanan inflasi September terutama bersumber dari potensi risiko inflasi kelompok komoditas inti seperti biaya kontrak rumah serta harga emas perhiasan dan VF, utamanya pada komoditas sayur-sayuran.

Mencermati masih tingginya faktor risiko dan tantangan dalam pengendalian inflasi yang dihadapi, koordinasi TPID se-Provinsi Kalimantan Barat akan terus diperkuat dan difokuskan terutama dalam rangka memitigasi risiko kenaikan harga melalui terjaganya stok serta kelancaran distribusi bahan pangan strategis.

Beberapa langkah pengendalian inflasi yang telah dilakukan oleh TPID se-Kalimantan Barat serta rekomendasi penting yang dihasilkan oleh TPID antara lain melalui peninjauan langsung ke pasar tradisional untuk memastikan kecukupan stok komoditas pangan, khususnya daging ayam dan ikan tangkap, serta terus mengoptimalkan partisipasi masyarakat dalam pengendalian inflasi dengan memanfaatkan informasi digital seperti PIHPS (tingkat nasional), PIPHS Enggang (tingkat provinsi) serta aplikasi GENCIL (Kota Pontianak).