Komoditi Pangan Naik, Kok Imbasnya Inflasi? Ini Penjelasannya.

GENCILNEWS – Cilers mungkin sering membaca banyak informasi atau berita ada istilah ekonomi nasional dan lokal melonjak alias tidak stabil inflasi pun menjadi naik.

Sebenarnya bagaimana kenaikan-kenaikan tersebut bisa memicu gelombang inflasi yang turun naik?

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Prijono, bisa menjelaskan secara rinci mengenai hal tersebut.

inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi.

Sementara untuk Provinsi Kalimantan Barat tercatat di bulan Juni 2018 naik.Nah, sebabnya itu tadi adanya kenaikan tarif angkutan udara dan harga beberapa komoditas bahan pangan.

Inflasi IHK Provinsi Kalimantan Barat pada Juni 2018 tercatat sebesar 1,36 persen (month to month/mtm) atau 3,46 persen (year on year/yoy).

Secara bulanan, inflasi IHK Provinsi Kalimantan Barat sebesar 1,36 persen (mtm) lebih tinggi dibandingkan dengan infalasi IHK nasional yang tercatat sebesar 1,59 persen (mtm).

Sementara itu, secara tahunan, inflasi IHK Provinsi Kalimantan Barat sebesar 3,46 persen (yoy) juga lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi IHK nasional yang tercatat sebesar 3,12 persen (yoy).

Kenaikan tarif angkutan udara disebabkan oleh meningkatnya permintaan seiring dengan kegiatan mudik pada periode lebaran.

Adapun kenaikan harga komoditas bahan pangan terutama disumabngkan oleh telur ayam ras, sawi hijau, wortel, kangkung. Kenaikan harga telur ayam ras disebabkan oleh meningkatnya permintaan.

Kenaikan harga wortel disebabkan oleh menurunnya pasokan dari luar Provinsi Kalimantan Barat. Adapun kenaikan harga sawi hijau dan kangkung disebabkan oleh menurunnya pasokan dari produsen lokal sehubungan dengan periode libur lebaran.

Ke depan, tekanan harga diperkirakan masih terjadi, namun pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan bulan lalu, seiring dengan telah berlalunya momen Hari Raya Idul Fitri.

Namun demikian, dampak lanjutan (multiplier effect)  kenaikan harga BBM non subsidi juga perlu menjadi perhatian.

Selain itu, terdapat beberapa resiko inflasi yang perlu diperhatikan yaitu, mengenai penyesuaian harga administered prices lain seiring peningkatan harga minyak dunia, kemudian penyesuaian batas bawah tiket angkutan udara, kemudian kebakaran lahan dan bencana asap, kemudian Anomali cuaca yang dapat menganggu distribusi pasokan bahan pangan, kemudian wacana kenaikan gaji PNS yang dapat meningkatkan ekspektasi harga, serta stabilitas keamanan pasca pelaksanaan pilkada serentak 2018.

Dalam rangka pengendalian inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Barat akan terus memperkuat koordinasi kebijakan. (all)