Yuk Kenali Sejarah Pontianak Lewat Kuwas

Yuk Kenali Sejarah Pontianak Lewat Kuwas

GENCIL.NEWS Tahukah kamu, di Kalimantan Barat, khususnya di Pontianak, terdapat komunitas yang perduli akan sejarah Kalbar khususnya di Kota Pontianak.

Komunitas Wisata Sejarah (Kuwas), merupakan komunitas anak muda perkumpulan pecinta sejarah yang ada di Kota Pontianak perduli akan bangunan serta sejarah yang ada baik di Kota maupun kawasan sekitar.

Berniat memperkenalkan sejarah Kota Pontianak, Komunitas sejarah pertama di Kalbar ini juga memiliki tujuan menggiatkan kembali wisata sejarah yang penuh akan historis yang tak pernah lekang oleh waktu.

Berawal dari diskusi mahasiswa serta dosen IKIP PGRI dan Universitas Pontianak, Kuwas berhasil membawa ribuan pelajar menghabiskan waktu weekend dengan mempelajari sejarah Pontianak.

Minggu pagi, Gencilnews mengikuti komunitas yang berdiri sejak 2014 ini menyusuri sungai kapuas, sungai terpanjang di Indonesia yang mereka sebut dengan trip sungai.

courtesy

 

Menggunakan kapal dengan muatan 30 hingga 50 orang, rombongan membawa siswa siswi SMA Muhammadiyah I Pontianak yang dimulai dari taman alun-alun Kapuas menyusuri air sungai dengan air coklar, khas air Sungai Kapuas memakan waktu sekitar 45 menit.

Trip sungai dimulai mengunjungi makam Kesultanan di Batulayang yang merupakan makam sultan pertama Pontianak, Sultan Syahrir Abdurrahman Alqadrie yang merupakan pendiri Kota Pontianak.

Ratusan pelajar Muhammadiyah melihat begitu banyaknya masyarakat yang datang berziarah ke seluruh makam yang merupakan keturunan sultan Pontianak hingga terakhir makam Sultan Hamid II yang merancang burung Garuda Pancasila dan merupakan anak sultan pertama pendiri Pontianak.

courtesy

Sekretaris Kuwas, Ricky Astriadi menjelaskan diawal perjalanan, Kuwas membawa pelajar dan para turis mengenal berkembangnya perjalanan sejarah Pontianak sampai Kota Singkawang dan Kabupaten Mempawah.

“Sekarang ini kita melakukan trip pertama yang dimulai dari kawasan Korem yang dulunya dikenal dengan Kota Kolonial, Korem, Kantor Pos, Bank BI, Garda Pramuka sampai bangunan SD 14,” ungkapnya kepada Gencilnews Minggu (9/2/2018)

 

Kawasan Korem yang saat ini disebut dengan taman alun Kapuas, dulunya  dikenal dengan tanah seribu memiliki panjang 1000 meter dengan luasan hingga RS Antonius.

“Pada saat itu Belanda dengan Keraton melakukan perjanjian dan sering kerjasama. Awal muasal kenal dengan kanal, dipecah menjadi beberapa sungai termasuk sungai jawi,” jelasnya.

Usai mengunjungi Makam Kesultanan rombongan menuju kawasan Tugu Khatulistiwa kemudian kapal menuju Masjid Jami’ yang merupakan masjid tertua di Pontianak.

 

 

Selain memperkenalkan sejarah melalui trip sungai, Kuwas juga mempersilahkan turis serta pelajar jika ingin mengikuti Trip kedua yaitu Kepala naga yang juga melewati Sungai Kapuas namun dengan trip berbeda.

Dimulai dari klenteng tiga yaitu pelabuhan Shenghie, kuning agung, gereja Gembala Baik yang merupakan rumah Tang Seng Hie yang membuka pelabuhan Senghie pertama kali.

courtesy

Jelajah kota, diakui Ricki dimulai di Tahun 2016 dari Pontianak kemudian Mempawah melewati istana Amantubilah, Masjid Jamiatil Khair, kemakam raja-raja dan klenteng Loufanvak lanjut ke Jamtang pasar Sedau, Kaliasin yang terkenal dengan blacan atau terasi dimana kawasan merupakan perkampungan China pertama kali di Kota Singkawang.

courtesy

Dari perkampungan China, rombongan dapat mengunjungi Masjid Raya Singkawang yang didirikan oleh Mbah Marican yang berasal dari India yang menyebarkan agama Islam pertama di Singkawang dan pendiri Masjid di Jalan Merdeka.

 

“Sejauh ini turis kebanyakan dari mahasiswa IKIP, Untan, Polnep diawal-awal namun sekarang pelajar disekolah-sekolah Pontianak sudah banyak yang tau,” jelasnya.

Iapun berharap dengan adanya Kuwas maka tidak hanya pelajar yang menikmati sejarah Pontianak, tetapi seluruh lapisan masyarakat termasuk turis lokal dan asing dari berbagai negara.

“Kedepan tentu tidak hanya sejarah Pontianak yang kita paparkan melainkan juga seluruh sejarah di 14 Kabupaten/Kota yang ada di Kalbar,” tuturnya.

Siswa SMA Muhammadiyah Pontianak, Solih Affandi mengaku senang mengikuti trip sejarah sungai ini sehingga mengetahui bangunan serta tempat-tempat mana saja yang bersejarah di kota kelahirannya.

“Pertama kali dan senang, kedepan pengen ikut lagi tapi dengan trip yang berbeda,” pungkasnya. (dpw)