GENCIL.NEWS Jam di tangan menunjukkan pukul 13.30 WIB, ketika saya tiba di bumi Uncak Kapuas, Kabupaten Kapuas Hulu, kawasan ujung Kalimantan Barat.

Menempuh perjalanan dengan menggunakan pesawat udara adalah kemudahan plus kenyamanan saat ini, mengingat sebelumnya Kapuas Hulu hanya bisa diakses melalui jalur darat, menggunakan mobil dengan jarak tempuh satu harian penuh.  Namun, seiring beroperasinya rute penerbangan, Kapuas Hulu kini bisa ditempuh hanya dalam waktu 1 jam 10 menit dari Pontianak.

Hari itu, cuaca cukup panas. Angin di bulan Februari melambat, semilirnya terasa menyapu kulit. Saya pun bergegas menuju terminal bandara. Bandara Pangsuma, begitu tulisan terpampang di pintu kedatangan bandar udara tersebut. Diambil dari salah satu nama pejuang lokal, bandara ini berlokasi di Kelurahan Kedamin Hulu, Kecamatan Kedamin, Kabupaten Kapuas Hulu.

Bangunan bandara mirip bangunan rumah panjang. Tampak sederhana, dengan hanya memiliki satu ruang tunggu, pemeriksaan barang dan cek barang yang digabung dengan ukuran ruang yang tak terlalu luas.

Bandara Pangsuma dalam satu hari hanya melayani dua hingga tiga kali rute penerbangan.

Nyatanya tidak butuh 10 menit ketika semua barang bawaan saya sudah aman di tangan.

Mobil carteran yang memang sudah dipesan jauh-jauh hari menunggu di luar bandara,  langsung membawa saya ke penginapan setempat.

Karena hari itu adalah hari Jumat dan kedatangan pun siang, maka field trip dengan tujuan Desa Tanjung Jari pun disegerakan. Saya tidak sendiri, saya bersama rekan satu profesi dari Pontianak dan rencananya membawa tiga rekan jurnalis lokal.

Tak butuh lama ke lokasi desa tujuan, perjalanan dengan mobil bisa di tempuh lebih kurang 15 menit. Desa Tanjung Jati adalah desa terdekat yang terletak di Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu.

Desa itu dihuni 600 jiwa dengan 184 kepala keluarga. Uniknya, Desa Tanjung Jati terpisah dari daratan, sehingga jika dilihat dari atas, Desa Tanjung jati menyerupai pulau tersendiri.

Karena mobil kami tidak bisa masuk desa lantaran hanya bisa ditempuh dengan akses jembatan gantung, kami pun terpaksa berhenti di batas desa.

Jembatan gantung tak bernama ini menurut informasi di bangun awal tahun 2010. Jembatan ini adalah akses utama bagi penduduk desa yang ingin ke kota, begitu juga sebaliknya.

Memiliki panjang lebih kurang 200 meter dan lebar tak sampai 1 meter ini terasa berayun saat kami dan rombongan berjalan pelan memasuki desa.

Kebetulan hari itu, akan ada pemeriksaan lansia di posyandu desa. Fasilitator kami langsung mengarahkan kami ke lokasi. Namun, mengingat kami berjalan kaki menuju posyandu  yang terletak di tengah desa, sepajang perjalanan kami pun mendapati hal-hal menarik.

Penduduk desa umumnya adalah petani padi dan peladang. Berbagai pekerjaan buruh pun dilakukan untuk menyambung hidup, termasuk meramu Pari sejenis pohon Pari yang daunnya bisa diolah menjadi bubuk tepung.

“Daun Pari juga menjadi sandaran di sini. Lumayan per kilo dihargai Rp 30 ribu. Biasanya mereka bisa meramu dengan mesin sendiri hingga 50 kilo tapi tidak selalu ada musim-musimnya panen,” kata Fasilitator Kecamatan (fascam) Harri Ramdani.

Baca juga   Cegah Kejahatan 4C, Polres Kapuas Hulu Lakukan Patroli

Pohon Pari umumnya tembuh di daerah rawa dan banyak dijumpai di sekeliling desa, terutama di tepian sungai.  Ada penduduk desa menjadikan daun Pari sebagai tambahan penghasilan, ada juga sebagian penduduk Desa Tanjung Jati yang menjadi pemasok bibit  pohon Pari.

Di sepajang jalan menuju puskesmas desa, juga terlihat pemandangan para ibu yang mengayak padi. Para prianya tampak asik membantu sang istri mengumpulkan sekam padi dan mengeringkan sekam padi yang sudah diayak.

Makin menuju ke dalam dalam desa, makin mendapati keanekaragaman desa.

Warga menyapa kami dengan ramah, sesakali saya dan rombongan berinteraksi dengan mereka, meskipun sekadar mengucap ‘assalamualaikum’, mengingat rata-rata penduduk desa beragama Islam. Kebanyakan rumah penduduk menyurupai rumah panggung, sama seperti di kawasan pusat kotanya (Putussibau, red).

Banjir yang kerap melanda menjadi alasan utama mengapa rata-rata pondasi rumah penduduk Kapuas Hulu, termasuk Desa Tanjung Jati tinggi hingga mencapai 1,5 meter dari permukaan tanah.

Dilihat dari kehidupan masyarakatnya,terutama sektor pangan, Desa Tanjung Jati bisa dikatakan cukup terpenuhi. Ini bisa dilihat dari jejeran warung kebutuhan pokok hampir di sepanjang desa. Belum lagi lahan padi dan kebun yang mereka miliki.

Akhirnya, posyandu desa di depan mata. Rombongan kami disambut ramah oleh ibu kepala desa dan kader-kader posyandu serta bidan setempat. Kami dipersilahkan duduk, kue manis pun dihidangkan. Umumnya penduduk desa hanya mengeluhkan kelelahan, pinggang dan pinggul sakit. Sesakali mereka mengecek kadar gula darah dan hipertensi.

Ada sekitar 60 lansia di Desa Tanjung Jati, 50 bayi dan balita. Program kesehatan pun sangat konsen dilakukan para kader desa. Kerjasama dan kekompakan kunci agar warga desa mau datang ke puskesmas dan ke posyandu. Desa Tanjung Jati memiliki fasilitas puskesmas pembantu (pustu), posyadu balita dan posyandu lansia, posbindu dan polindes.

Pendekatan secara kekeluargaan kerap dilakukan kader kesehatan desa untuk memberikan pemahaman kepada penduduk tentang pentingnya kesehatan, terutama para ibu dan anaknya. Kabar baiknya, menurut Ketua Posyandu Desa Tanjung Jati, Nelly Febrianti, kesadaran warga sudah jauh lebih baik, apalagi sejak program kesehatan perempuan dan anak masuk desa.

Ia mengakui, pola masyarakat desa masih terbentur dengan pemikiran lama, sehingga butuh kesabaran dan terus menerus dilakukan sosialisasi. Gerakan-gerakan seperti pelayanan posyandu yang selalu aktif, pemberian makanan tambahan, hingga sharing wawasan kepada penduduk tentang pentingnya asupan makanan.

Tidak hanya itu, setiap sebulan sekali akan ada ‘curhat’ warga kepada petinggi dan kader desa yang dilakukan secara kekeluargaan.

Peran posyandu sangat terasa dan berdampak luas kepada perkembangan ibu dan anak di Desa Tanjung Jati. Bagaimana tidak, awalnya masyarakat yang tidak mengetahui dan masih malu bertanya tentang kesehatan diri dan anaknya, mulai berani bertanya, sering datang membawa anaknya ke posyandu dan rajin melakukan apa yang disarankan kader-kader kesehatan setempat.

Baca juga   Deklarasi Rakyat, Midji-Norsan Tegaskan Untuk Jual Program Ke Rakyat Dan Semua Pihak Jangan Terpancing Isu Sara

Mauliyanti, bidan desa, mengaku, selama 10 tahun ia bertugas di Desa Tanjung Jati, baru beberapa tahun ini penduduk desa terketuk untuk rajin ke posyandu, baik ibu hamil, ibu yang memiliki bayi dan balita hingga lansia. Massifnya program pemerintah yang dibantu organisasi kesehatan non pemerintah makin menguatkan para kader kesehatan untuk terus tanpa henti memberikan kesadaran yang mulai tinggi di kalangan penduduk.

“Kalau dari grafik peningkatannya pelan setiap tahunnya, tapi di tahun 2017 makin baik menanjak ke arah tinggi dan semoga di tahun ini makin tinggi.

Tentu harapan terbesar saya kesadaran masyarakat stabil, sudah kuat dan mengakar bahwa kesehatan diri dan anak sangat penting untuk masa depan mereka. Ibu dan orangtua yang sehat akan menghasilkan generasi sehat. Pemahaman itu yang terus kita gaungkan.

Biar melekat sehingga timbul pola baru menjadikan pusat layanan desa yang ada di sini rujukan dan tidak pernah absen untuk datang karena tingkat kesadaran sudah kuat. Ini yang masih perlu kerja keras bersama, bagi bidan, kader, pemangku kebijakan desa agar terus menerus memberi pemahaman kepada penduduk. Tidak boleh putus asa,” ungkapnya.

Apalagi, petinggi desa mendukung penguatan kesehatan yang kerap diajukan kader, seperti alokasi untuk posyandu yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Kepala Desa Tanjung Jati , Wathan Kadarusman, begitu nama kades yang ditemui usai mengangkut persediaan barang untuk warung miliknya, ini mendukung setiap usulan dan rencana kader-kader kesehatan, terutama penambahan pos anggaran posyandu maupun program kesehatan warga lainnya.

Sejak tahun 2005 anggaran posyandu balita terus naik, dari Rp yang semula Rp 5 juta, tahun 2016 lalu naik menjadi Rp 8 juta dan tahun 2017 lalu juga mengalami kenaikan menjadi Rp 10 juta.

Rencananya tahun 2018 ini, pemerintah desa juga akan kembali meningkatkan anggaran tersebut hingga Rp 15 juta. Sementara kenaikan juga diikuti posyandu lansia yang awalnya dianggarkan Rp 10 juta, akan dinaikkan menjadi Rp 12 juta tahun ini.

Diakui kades, dari total anggaran Rp 700 tahun 2017 lalu, umumnya sudah terserap maksimal.

Dari jumlah itu 50% untuk infrastruktur, terutama jalan. Sementara sisanya dialokasikan untuk dana kesehatan lingkungan, sanitasi, posyandu, kebutuhan saran olahraga warga, maupun usulan warga yang dirembugkan dalam musyawarah desa.

Tak terasa matahari sudah hampir terbenam. Saya dan rombongan pun pamit dan kembali menuju jalan utama kembali ke penginapan. Cukup puas dengan penelusuran kami kali ini.

Meskipun harus berjalan kaki hingga 2 km, tak menyurutkan saya dan rombongan untuk mengeskplorasi desa. Satu hal yang bisa kami pelajari, bahwa saat ini masyarakat Desa Tanjung Jati sudah melek akan informasi kesehatan dan rutin datang ke pusat layanan kesehatan, baik puskesmas, polindes hingga posyandu meskipun butuh kerja keras lebih untuk menancapkan kesadaran kuat bahwa kesehatan diri dan anak penting bagi keberlangsungan generasi berikutnya. (*)

 

 

Oleh Wati Susilawati