GENCILNEWS – Kontroversi peran transgender mengguncang Hollywood. Scarlett Johansson mundur dari peran pria transgender yang akan dimainkannya setelah dikecam habis-habisan.

Masih ingat film “Transamerica?” Dalam film itu Felicity Huffman, seorang aktris, memerankan pria yang ingin menjadi perempuan transgender.

Atau Anda masih ingat film “Dallas Buyer’s Club”? Dalam film itu, Jared Leto, seorang aktor berperan sebagai perempuan transgender.

Mungkin Anda juga ingat serial televisi “Transparent” di mana aktorJeffrey Tambor, menjadi tokoh sentral karena digambarkan sebagai ayah yang berkeinginan kuat menjadi perempuan transgender.

Ada kesamaan dari ketiga film itu, yakni semuanya aktor atau aktris cisgender – atau identitas seksual sesuai dengan yang tertera pada akte kelahiran — yang memainkan peran transgender. Tidak cuma itu, ketiganya merebut penghargaan bergengsi. Leto meraih Oscar, Hufman mendapatkan Golden Globe, sementara Tambor berhasil membawa pulang Golden Globe dan Emmy.

Meski memerankan tokoh transgender, mereka, ketika itu, banyak dipuji. Mereka bahkan dinilai ikut menyuarakan kelompok LGBT, atau kelompok marginal yang selama ini suaranya kurang didengar.

Namun situasi itu kini berbeda. Sering munculnya gerakan#metoodi Hollywood, yang kemudian diikuti gerakan#OscarSoWhitedan#TimesUp, film-film yang menghadirkan aktor atau aktris cisgender – atau biasa disingkat cis – untuk peran transgender menuai protes. Banyak kritikus menilai seharusnya peran-peran transgender dimainkan oleh aktor-aktor transgender.

Baca juga   Film It Badut Horor Chapter Two Segera di Buat

Film yang akan segera digarap Hollywood “Rub & Tug” adalah salah satu contohnya. Scarlett Johansson yang dipilih untuk memerankan tokoh pria transgender dalam film itu dikecam. Media sosial ramai membicarakan Johansson dan banyak diantaranya meminta aktris itu mundur dari film itu, dan jika tidak, film itu akan diboikot.

Johansson memang akhirnya mundur. Apalagi setelah didesak produser film itu. Johansson sendiri sebelumnya mengatakan, pekerjaan di dunia film seharusnya tidak memperhitungkan gender melainkan kemampuan akting. Aktris itu mencontohkan apa yang telah dilakukan Leto, Huffman dan Tambor.

Pertimbangan produser film itu masuk akal. Ini bukan kali pertama Johansson menuai protes dan kemudian filmmnya gagal di boks office. Film “Ghost in the Shell” di mana Johansson mengambil peran yang seharusnya dimainkan perempuan Jepang dianggap melakukan aksiwhitewashingatau menggantikan tokoh kulit berwarna dengan kulit putih. Meskipun produser film itu membantahnya, film itu anjlok dalam pemasarannya dan banyak memperoleh resensi buruk dari kritikus film.

Baca juga   Hollywood Hadapi Ketidaksetaraan Gender

Banyak pembuat film kini menyadari bahwa isu transgender semakin mengemuka pada 2018. Ada banyak kalangan yang menyerukan agar Hollywood memproduksi lebih banyak cerita-cerita mengenai transgender. Apalagi kini ada sejumlah film yang berani menghadirkan aktor atau aktris trangender.

Film seri “Pose” karya sutradara Ryan Murphy di saluran televisi FX, contohnya, tak sungkan menghadirkan lima aktor yang terang-terangan mengaku transgender. Film itu juga bahkan melibatkan penulis dan produser yang transgender.

Hollywood tampaknya juga lebih ramah terhadap isu transgender. Setelah menominasikan dan bahkan memberikan penghargaan pada sejumlah film yang mengangkat isu transgender, tahun lalu film Chili yang berjudul “A Fantastic Woman” yang tokoh utamanya dimainkan perempuan transgender, mendapat penghargaan sebagai film berbahasa asing terbaik. [ab/uh]

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.