GENCILNEWS – Negara yang besar adalah negara yang menghargai jasa pahlawannya, begitulah titah Bung Karno selaku bapak proklamator dan founding fat her Indonesia. Namun selama ini kebanyakan dari kita hanya mengenal pahlawan-pahlwan nasional yang terkenal saja, seperti Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, Antasari, ataupun Christina Martha Tiahahu.

Peran mereka dalam bergelirya melawan penjajah memang sudah tidak diragukan. Kisah mereka terkenal dan tertuang di dalam buku-buku sejarah pelajaran sekolah. Namun, selain pahlawan-pahlawan tersebut, tetap ada pahlawan-pahlawan lain yang jasanya tidak kalah penting dalam merebut kemerdekaan. Dan berikut ini, adalah pahlawan-pahlawan pejuang kemerdekaan dari Kalimantan Barat yang kisahnya tidak banyak diketahui orang-orang.

pahlawan pontianak
Al Habib Hamid II (foto house -shine)

1. Al Habib Hamid II
Mungkin namanya terasa asing di teling anda, tapi jasanya pasti anda kenal. Pria berkharisma yang pada zamannya dikenal dengan nama Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie ini adalah pencetus lambang negara kita, Sang Garuda. Ia juga merupakan salah satu delegasi Konfrensi Meja Bundar yang digelar di Den Haag, Belanda yangmana saat itu beliau menjadi salah satu wakil negara buatan Belanda.
Beliau terkenal sebagai orang yang cerdas, sepantaran dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan oran-orang penting pada zamannya. Ia juga merupakan orang pertama yang menempuh pendidikan di Akademi Militer Belanda dan menjadi ajudan Ratu Julliana dengan pangkat terakhir mayor jendral.
Sayangnya, beliau diduga memiliki peran pada pertistiwa Westerling sehingga ia harus menjalani hukuman penjara selama 16 tahun. Karena peristiwa itu pula lah, namanya kerap kali dihapuskan pada buku-buku yang mencantumkan daftar nama pahlawan asal borneo.

2. Abdul Kodir
Kepala pemerintahan Melawi pada tahun 1845 yang menyandang gelar Raden Temenggung itu adalah ahli siasat nan cerdas dan berbakat. Beliau bisa tetap menyatu dengan rakyatnya sekaligus bermuslihat dengan pihak Belanda sampai akhirnya beliau dapat membangung sepasukan lengkap bersenjata yang anti-Belanda. Dengan semua hadiah dan gelar yang dijanjikan oleh pemerintahan Belanda supaya Raden Temenggung ini mau melunakkan sikapnya, Abdul Kodir tetap tegar pada pendiriannya membela ibu pertiwi.

Beliau memang bukan petarung garis depan, namun beliau adalah ahli siasat perang nan hebat dan penuh perhitungan. Beliau berhasil memporak poradakan semua rencana penyerangan yang disusun oleh Belanda dengan kelihaiannya memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin Melawi. Meski pada akhirnya Belanda mengetahui siasat Abdul Kodir dan memenjarakannya di banteng Belanda yang kokoh, Abdul Kodir sudah menyumbangkan banyak jasanya dalam memperjungkan kemerdekaan Indonesia.

 

 

3. J.C Oevaang Oeray
Jika sekilas mendengar namanya, anda mungkin akan mengira bahwa beliau ini bukanlah orang Indonesia. Namun siapa sangka, J.C Oevaang Oeray ini adalah pejuang asli Indonesia yang sangat gigih dalam meperjuangkan kemerdekaan. Terlihat dari kegigihannya dalam menempuh pendidikan, mulai dari Sekolah Rakyat, Sekolah Guru, Sekolah Seminari Nyarumkop, bahkan sekolah pastor pernah ia jalani, meskipun pada akhirnya ia tidak menyelesaikan pendidikannya di sekolah pastor.

Baca juga   Saprahan di Pontianak Ada Sejak Abad 18

J.C Oevaang Oeray ini aktif menyumbangkan pendapat dan pandangannya kepada masyarakat luas, hingga pada akhirnya masyarakat dapat melihat bakat kepemimpinan di dalam dirinya. J.C Oevaang Oeray menjadi bagian dari pemerintahan masa itu, sampai akhirnya Belanda datang dan mengganti sistem pemerintahan untuk menjauhkan rakyat dari pemerintahan nasional. J.C Oevaang Oeray bersama beberapa orang pejuang dari Kalimantan terus beusaha mengembalikan system pemeintahan Indonesia seperti seharusnya. Perjuangan mereka tidak sia-sia, J.C Oevaang Oeray dan teman-teman seperjuangannya turut merasakan detik-detik kemerdekaan Indonesia. Bahkan setelah itu, J.C Oevaang Oeray diangkat menjadi Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Barat. J.C Oevaang Oeray terus mengabdikan dirinya di bidang pemerintahan sampai akhir hayatnya pada tahun 1986.

4. Rahardi Oesman
Pria berperawakan tinggi, tegap, dan berkacamata ini adalah salah satu pahlawan nasional asal Kalimantan barat yang memiliki kecakapan dan kecerdasan setara dengan orang eropa pada masa itu. Lulus dari sekolah ELS, yangmana adalah sekolah Belanda yang mengizinkan anak-anak pribumi untuk mengenyam pendidikan di dalamnya, lelaki berlatar belakang keluarga terhormat yang memiliki nama di bidang percetakan ini melanjutkan sekolahnya ke kota Jakarta, dimana ia pertama kali mengikuti organisasi bertaraf nasional, Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).

Kemudian, beliau melanjutkan pendidikannya ke sekolah kedoteran yangmana sekarang adalah fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Sebagai mahasiswa, ia mulai mengikuti jejak orang tuanya dengan berperan di bidang media. Beliau berabung dalam Angkatan Pemuda Indonesia yang kemudia berperan dalam penyebaran informasi terkait kemerdekaan ke seluruh Indonesia melalui studio yang selalu diawasi secara ketat oleh pemerintah jepang. Tak hanya melalui siaran udara, Rahardi Oesman bahkan mengupayakan kembali ke kampong halamannya di Kalimantan Barat untuk mengabarkan secara langsung kemerdekaan Indonesia dengan berkedok sebagai anggota Palang Merah Indonesia. Jasanya tak hanya sampai disana, beliau bahkan salah satu pencetus dan pengupaya terbentukanya Tentara Keamanan Rakyat yang bertugas menjaga kemerdekaan Indonesia.

 

ali anyang (foto mister pangalayo)

5. Ali Anyang
Jika Rahardi Oesman mengharumkan nama Kalimantan barat dengan melebarkan kiprahnya di pusat negeri, Ali Anyang berjuang mengorbankan darah dan keringatnya di tanah kelahirannya langsung, pontianak. Ali Anyang adalah salah satu penggerak masyarakat Kalimantan barat untuk berperang melawan Belanda yang berusaha merebut kembali Indonesia khususnya daerah Kalimantan. Ali Anyang adalah pemimpin pemberontakan terhadap pemerintah Belanda yang sempat berhasil membangun kembali kuasanya setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Dengan menyerbu gudang-gudang persenjataan dan gudang makanan musuh, Ali Anyang menjadikan dirinya target palin dicari Belanda. Bahkan pemerintah Belanda menciptakan sayembara seharga 25.000 gulden bagi siapa saja yang dapat menyerahkan Ali Anyang. Ali anyang dan pasukannya bahkan harus mundur sampai ke hutan-hutan untuk mempertahankan diri. Setelah beberapa kali pertempuran, akhirnya Ali Anyang dapat hidup dengan tenang dan berkeluarga setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Ia bahkan pernah menduduki kursi ketua DPRD di daerah Singkawang.

Baca juga   Kisah Anak- Anak yang Berbakti Kepada Orang Tua Diusia Belia

6. Siradj Sood
Lelaki pejuang dari Sambas, Kalimantan barat ini adalah salah satu pejuang borneo yang memiliki darah keturunan muslim nan kental. ibundanya adalah Hajjah Zaenab, dan Ayahandanya adalah Haji Sood, yangmana adalah penasehat perekonomian dan perdagangan di kerajaan Sambas.

Siradj Sood adalah pembentuk organisasi Persatuan Bangsa Indonesia Sambas atau yang kemudian dikenal dengan nama Perbis. Organisasi Perbis ini dibentuk sekitar 2 bulan setelah proklamasi kemerdekaan dalam rangka menyebarluaskan kabar kemerdekaan di daerah sambas yang masih dijaga ketat oleh polisi Belanda. Bahkan, komandan polisi Belanda saat itu mengajak Siradj Sood untuk melakukan kerjasama menjalankan pemerintahan Belada di sambas.

Permintaan tersebut pastinya ditolak mentah-mentah oleh seluruh anggota organisasi, yangmana akhinya berujung pada pengawasan ketat oleh pemerintah Belanda. Saat akhirnya Perbis melakukan parade kemerdekaan, mereka mendapati bendera merah-putih-biru kebanggan Belanda berkibar di Kantor Kontrolir Sambas. Dengan emosi yang meluap-luap, masyarakat menarik turun bendera Belanda dan merobek bagian birunya sebelum kemudian dikibarkan lagi dengan pekikan “merdeka! Merdeka! Merdeka!” yang mengiringi.

Saat seorang anggota Perbis hendak mengibarkan bendera merah putih, tentara Belanda menembaki pejuang tersebut hingga tewas. Siradj Sood segera berlari untuk merebut bendera merah putih tersebut supaya tidak jatuh dan terinjak di tanah.

Karena perbuatannya yang gagah berani, Siradj Sood mendapatkan banyak luka tembak yang mengharuskan dirinya berpura-pura mati untuk menghindari serangan lanjutan Belanda.

Perjuangannya tidak sia-sia, setelah berpura-pura tewas, Siradj Sood diselamatkan oleh warga setempat dan semua luka di dalam dirinya berhasil diobati. Dengan adanya tragedi tersebut,semangat juang masyarakat Sambas kontan berkobar dan berakhir dengan keruntuhan Belanda di wilayah tersebut

 

7. Utin Patimah
Utin patimah adalah seorang pejuang kemerdekaan wanita yang berperang melawan pemerintahan jepang di pontianak pada ahun 1943.

Ia memimpin perjuangan kaum Dayak pedalaman yang didukung oleh masyarakat asli hutan yang sudah muak dengan pemerintahan jepang nan semena-menaTidak banyak yang tahu tentang Palawan wanita satu ini. Pun referensi tentang perjuangannya sangat terbatas yang diabadikan.

Namun, jasa dan perjuangan wanita satu ini patut dikenang da dijadikan pelajaran untuk seluruh masyarakat Indonesia.