Sejarah dan Teknik Dasar Pencak Silat

GENCIl NEWS – Bagaimana Sejarah Pencak Silat di Indonesia dan Seperti apa Teknik Dasar Ilmu Bela Diri tersebut? Yuk simak Ulasan nya berikut ini. Pencak silat merupakan ilmu bela diri asli yang berasal dari nenek moyang leluhur Indonesia. Tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menemukan pencak silat namun, pencak silat sudah ada sejak jaman kerajaan dan penjajahan di Indonesia. Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi. Di jaman kerajaan, para pemuda dan prajurit yang ada di kerajaan umumnya menguasai teknik beladiri. Kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya dan Majapahit disebutkan memiliki pendekar-pendekar yang menguasai ilmu bela diri. Peneliti silat Donald F. Draeger mengatakan, bukti adanya seni bela diri bisa dilihat dari berbagai artefak senjata yang ditemukan dari masa klasik (Hindu-Budha) serta pada pahatan relief-relief yang berisikan sikap-sikap kuda-kuda silat di candi Prambanan dan Borobudur.


Pada jaman penjajahan pahlawan seperti Imam Bonjol, Fathahilah dan Pangeran Diponegoro merupakan ahli silat. Silat dipelajari secara sembunyi-sembunyi ketika masa penjajahan karena dilarang oleh Belanda. Mereka takut jika ilmu bela diri ini akan menjadi senjata untuk melawan Belanda. Seterusnya pencak silat terus tumbuh dan berkembang menjadi berbagai macam aliran di Indonesia. Pada saat Jepang menguasai Indonesia, silat boleh dipelajari secara terang-terangan tapi hanya dipergunakan sesuai dengan kepentingan Jepang saja. Pencak silat juga digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan setelah proklamasi. Pencak silat tidak hanya diajarkan melalui perguruan, tapi juga di pesantren-pesantren.

Pada tangga 18 Mei 1948 dibentuk organisasi Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSSI) oleh para jawara silat saat pekan olahraga di Solo. Kemudian organisasi ini berkembang menjadi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Pencak silat telah dikenal oleh sebagian besar masyarakat rumpun Melayu dalam berbagai nama. Di semenanjung Malaysia dan Singapura, silat dikenal dengan nama alirannya yaitu gayong dan cekak. Di Thailand, pencak silat dikenal dengan nama bersilat, dan di Filipina selatan dikenal dengan nama pasilat. Dari namanya, dapat diketahui bahwa istilah “silat” paling banyak menyebar luas, sehingga diduga bahwa bela diri ini menyebar dari Sumatera ke berbagai kawasan di rantau Asia Tenggara. Beberapa organisasi silat nasional antara lain adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Indonesia, Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) di Malaysia, Persekutuan Silat Singapore (PERSIS) di Singapura, dan Persekutuan Silat Brunei Darussalam (PERSIB) di Brunei.

Pada masa kepemimpinan Mayjen TNI Eddie Marzuki Nalapraya di IPSI, ada 10 organisasi dan perguruan pencak silat yang diberi gelar Perguruan Historis Pencak Silat dan dijadikan Anggota Khusus IPSI sebagaimana diatur di dalam Pasal 2 Anggaran Rumah Tangga IPSI. Pemberian gelar Perguruan Historis Pencak Silat berdasarkan pertimbangan bahwa 10 organisasi dan perguruan pencak silat tersebut dipandang mempengaruhi sejarah dan perkembangan IPSI serta pencak silat pada umumnya antara tahun 1948 dan 1973. Organisasi dan perguruan tersebut telah memberikan kontribusi dan pemikiran dalam proses pembentukan organisasi nasional tunggal pencak silat Indonesia yang diberi nama IPSI. Itu berarti organisasi silat ini sudah sejak lama ada di Indonesia dan merupakan organisasi silat yang besar dengan banyak cabang di setiap daerah.

Perguruan silat tersebut adalah:

  1. Persaudaraan Setia Hati, Pencak Setia Hati diciptakan oleh Ki Ngabehi Soerodiwirjo pada tahun 1903 di daerah Tambak Gringsing, Surabaya, Jawa Timur.
  2. Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang pada awalnya bernama Setia Hati Pencak Sport Club (SH PSC) karena dilarang oleh Belanda, didirikan pada tahun 1922 di daerah Pilangbango, Madiun, Jawa Timur, oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo, murid Ki Ngabehi Soerodiwirjo pencipta Pencak Setia Hati. Setelah merdeka berubah nama menjadi PSHT.
  3. Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri, dirikan oleh Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo pada tanggal 2 Juli 1955 di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
  4. Perguruan Silat Nasional Perisai Putih, didirikan pada tanggal 1 Januari 1967 di Surabaya oleh Raden Achmad Boestami Barasoebrata atau dikenal juga dengan Pak Boestam.
  5. Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah, K.H. Busyro Syuhada, pendekar pencak silat aliran Banjaran pada tahun 1872, sekembalinya dari Tanah Suci beliau mendirikan Pondok Pesantren Binorong di Banjarnegara, Jawa Tengah. Di pondok pesantren para santri tidak hanya belajar agama, namun juga bela diri. Hal ini sudah dilakukan semenjak awal kemerdekaan.
  6. Phashadja Mataram, didirikan oleh K.R.T. Soetardjonegoro pada tanggal 20 Oktober 1950 di Yogyakarta.
  7. Perguruan Pencak Indonesia Harimurti Perguruan Pencak Indonesia Harimurti atau disingkat PerPI Harimurti didirikan oleh Suko Winadi di Yogyakarta pada tanggal 23 Oktober 1932.
  8. Persatuan Pencak Silat Indonesia atau disingkat PPSI didirikan pada tanggal 17 Agustus 1957 di Bandung, Jawa Barat, dengan diketuai oleh Kolonel R.A. Kosasih, Panglima Tentara dan Teritorium III Siliwangi, dibantu dengan Kolonel Hidayat dan Kolonel Harun.
  9. PPS Putra Betawi dibentuk pada tanggal 20 Januari 1972 sebagai wadah yang mempersatukan berbagai perguruan dan aliran silat Betawi pada masa itu ke dalam suatu organisasi yang sama. Para guru besar yang mendukung terbentuknya wadah organisasi ini berasal dari lebih 20 perguruan silat betawi.
  10. Keluarga Pencak Silat Nusantara atau disingkat KPS Nusantara didirikan sebagai kelompok studi informal pada tanggal 28 Juli 1968 di Jakarta oleh 3 orang intelektual muda yang aktif dalam bidang teknis IPSI, yaitu Mohamad Hadimulyo, B.Sc., dr. Mohamad Djoko Waspodo dan dr. Rachmadi Djoko Suwignjo.

Dalam pencak silat, apapun nama perguruannya terdapat teknik dasar yang berkembang sesuai dengan perguruan masing-masing.

Teknik-teknik dasar dalam pencak silat diantaraya adalah:

  1. Kuda-kuda, kuda-kuda merupakan sebuah sikap menapakkan kaki yang utama oleh pesilat yang berfungsi untuk persiapan menyerang lawan sekaligus mempertahahankan posisi agar tidak mudah dijatuhkan ketika berada dalam posisi bertahan.
  2. Sikap pasang merupakan sebuah posisi yang biasanya dikombinasikan dengan kuda-kuda dan posisi ini bersifat fleksibel. Disaat seorang pesilat bergerak ketika bertarung, sikap dan gerakannya akan selalu berubah sering dengan perubahan posisi lawan. Setelah menangkap sebuah titik celah pertahanan lawan, selanjutnya pesilat akan mencoba menyerang dengan serangan cepat, tepat dan tentunya terukur.
  3. Arah, berhubungan kemana pesilat akan melangkah ketika dalam posisi menyerang atau bertahan. Dalam dunia persilatan arah dikenal dengan depalan penjuru mata angin. Dan cara melatihnya adalah dengan menggeser kuda-kuda dan sikap pasang sesuai gambar mata angin yang ada. Pemahaman terhadap arah juga digunakan pesilat untuk mengecoh lawan agar tidak bisa membaca arah gerakannya.
  4. Pola langkah atau penggunaan langkah ialah perubahan injakan kaki dari sudut tempat ke tempat yang lain. Intinya pencak silat itu adalah gabungan dari kekokohan kuda-kuda yang dikombinasikan dengan fleksibel atau luwesnya pergerakan langkah dan disempurkanan dengan pemahaman arah yang benar. Untuk dapat menumbangkan lawan pesilat harus memahami pola langkah lawan.
  5. Pukulan dan tendangan, teknik yang dibutuhkan dalam menyerang dan bertahan. Tangkisan, gunting, dan kunci adalah usaha untuk mempertahankan diri dan menyerang lawan.

Di kalimantan sendiri banyak terdapat perguruan silat, diantaranya adalah Bersilat, Kuntau Banjar, Kuntau Kutai, Cuyusika Bangau Putihl, Pencak Silat Setia Budhi, Perguruan IKS.PI Kera sakti, PSOB Taruna Bhakti, dan Pukulan Patikaman Silat Kuntau, pergurun silat tersebut tergabung di dalam IPSI.