GENCILNEWS – Awalnya, bangunan ini merupakan tempat tinggal Syekh Umar bin Ahmad Al Ba-nashir. Pada awal berdirinya Kesultanan Pontianak, beliau merupakan Qadi atau yang dikenal sebagai orang yang memiliki ilmu keagamaan serta kewibawaan yang sangat tinggi.

Di tempat ini, selain sebagai tempat tinggal dari Syekh Umar bin Ahmad Al Ba-nashir, juga menjadi tempat mengaji. Banyak orang yang belajar agama kepada beliau.

Karena semakin lama semakin banyak yang datang untuk menuntut ilmu agama, pondok tempat pengajian itu pun dijadikan surau yang dulu dikenal dengan Surau Bansir.

Syekh Umar pun mendirikan lagi bangunan di sebidang tanah yang agak menjauh dari tepian sungai kapuas sebagai tempat tinggalnya.

Seiring berjalannya waktu lokasi ini pun semakin ramai dan kemudian menjadi sebuah perkampungan yang kini menjadi Kampong Bansir.

Nama atau kata Bansir ini merupakan pelafalan dari Ba-Nashir. Sekitar tahun 1941, Surau Bansir berubah menjadi Masjid Kampong Bansir. Kemudian sekitar tahun 1968-1969, nama Masjid Kampong Bansir berubah menjadi Masjid Baitul Makmur.

Masjid Baitul Makmur terdiri atas satu lantai dan berbentuk panggung. Atap masjid terbuat dari bahan kayu sirap. Namun, karena bahan baku sirap makin sulit didapatkan, kini di beberapa bagian atapnya menggunakan genteng metal berwarna hijau. Di bagian luar, terdapat anak tangga yang langsung menyambung ke teras.

Satu bagian berada di sebelah kiri masjid dan satu bagian lagi berada di bagian belakang dan masih menggunakan kayu belian. Di sebagian sisi selatan dan bagian belakang terbuat dari kayu belian dan kayu mabang.

Di ruang utama masjid, keseluruhan lantai ditutupi dengan hamparan sajadah. Pilar-pilar masjid ini terdiri dari kayu belian yang kini dilapisi dengan keramik warna gelap. Dinding-dinding interiorntya juga terbuat dari kayu belian dan pada beberapa bagian juga dilapisi keramik putih.

Masjid Baitul Makmur ini berada di tepi Sungai Kapuas tepatnya di Jalan Imam Bonjol Gang Ramadhan, Kecamatan Pontianak Tenggara.

Karena letaknya berada di tepian Sungai Kapuas, dari jendela masjid, kita bisa melihat lalu lintas perahu atau kapal motor yang melintas. Sebagai masjid tertua kedua di Kota Pontianak, bentuk, cerita, dan sejarah dari Masjid Baitul Makmur entu telah menjadi bagian yang tak mungkin terpisahkan dari sejarah Kota Pontianak. (all)