Delegasi dari 137 negara menghadiri konferensi anti tembakau selama
seminggu untuk bertukar gagasan dan mengusulkan kebijakan untuk
mengatasi pandemi tembakau di seluruh dunia. Para penyelenggara
mengatakan kemajuan telah dibuat sejak Konvensi Kerangka Kerja
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai Pengendalian Tembakau mulai
berlaku pada tahun 2005, tetapi masih banyak yang harus dilakukan.

Penyelenggara Konferensi ke-8, Para Pihak Konvensi WHO, yang dikenal
sebagai COP8, mengatakan kemajuan penting telah dibuat dalam mengurangi
permintaan tembakau. Hal ini terutama disebabkan oleh pajak yang tinggi
terhadap rokok, yang menghambat penjualan.

Mereka mengatakan pemerintah juga telah membuat kemajuan dalam
menetapkan lingkungan bebas asap rokok, kemasan dan pelabelan, dan dalam
melarang promosi iklan serta sponsor tembakau .

Tetapi Kepala Sekretariat Konvensi, Vera da Costa e Silva mengatakan
aturan mengenai iklan lintas perbatasan masih kurang dan sulit
ditegakkan. Ia memberi tahu VOA bahwa industri tembakau sangat pintar
dalam menghindari larangan-larangan tersebut dengan menggunakan
Instagram, Facebook, dan media sosial lainnya untuk menarik orang agar
menggunakan produk mereka yang mematikan.

Baca juga   WHO Setiap Orang Wajib Prioritaskan Vaksin

“Dengan menggunakan media sosial, mereka tidak hanya menarik
perhatian anak muda pengguna terbesar media sosial namun juga menjadikan
tembakau sebagai hal yang bisa diterima secara sosial. Mereka
mempertahankan lingkungan bahwa tembakau harus terus menjadi bagian dari
lingkungan alami dan tetap di masyarakat,” ujar Da Silva.

Dalam hal ini, industri tembakau sangat sukses. WHO melaporkan ada
lebih dari satu miliar perokok di dunia, sekitar 80 persen dari mereka
tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. WHO mengatakan
tujuh juta orang meninggal lebih dini akibat tembakau setiap tahun.

Da Silva mengatakan gangguan tembakau, dikombinasikan dengan
munculnya produk tembakau baru merupakan hambatan paling serius bagi
pelaksanaan Konvensi Anti-Tembakau.

Baca juga   Minum Teh Panas Mungkin Kurangi Risiko Glukoma

Ia mencatat tidak ada konsensus ilmiah mengenai apakah teknologi
baru, seperti rokok elektronik dan vaping bisa digunakan sebagai
strategi pengurangan dampak buruk untuk membantu orang berhenti merokok.
Ia mengatakan COP menyerukan kepada pemerintah agar mengatur dan
melarang produk-produk ini sampai tersedia lebih banyak bukti mengenai
dampaknya. (my)

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.