Sidik Nugroho : Kisah Pemberontakan Karena Ketidakadilan

Salah satu fungsi karya sastra adalah memberikan perenungan tentang berbagai realitas sosial yang terjadi di masyarakat.

Fungsi ini yang tampaknya sering muncul dalam karya-karya Sidik Nugroho. Sejak menulis kisah berseri dengan tokoh Elang Bayu Angkasa di novel Tewasnya Gagak Hitam, Neraka di Warung Kopi, dan Ninja dan Utusan Setan, Sidik menyuguhkan berbagai kisah ketidakadilan sosial dalam karya-karyanya.

Walaupun karya-karyanya lebih terkesan ringan dan menghibur daripada berat atau sastrawi, Sidik tampak menggarap karya-karyanya dengan serius.

Ia penulis yang memerhatikan detail, sekaligus efektif bila bercerita dalam arti tidak bertele-tele. Kesan ini juga yang tampak pada novel Serikat Kegelapan.

Novel Serikat Kegelapan bercerita tentang perampokan bank sebagai bentuk aksi protes terhadap ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat.

Tokoh pertama bernama Tirto, guru yang menyaksikan pejabat korup di sekolahnya, juga guru lain yang melakukan kekerasan terhadap siswa. Tahun lalu, kalau kita sering mendengar atau membaca berita, kekerasan di sekolah beberapa kali diberitakan. Kisah tentang Tirto diceritakan agak panjang daripada dua tokoh lainnya kemudian. Di sini, yang menarik juga kisah cinta Tirto dengan Yanti, penjaga perpustakaan.

Tokoh kedua bernama Satria menyaksikan seorang aktivis lingkungan hidup dilenyapkan. Aktivis itu, dalam novel ini bernama Hartono, adalah orang yang sering menulis di media cetak tentang bahaya pertambangan emas tanpa izin. Merkuri yang digunakan untuk memurnikan emas dan tercampur di air sungai dapat membahayakan kesehatan tubuh manusia. Dan sosok Hartono yang menyuarakan keadilan, dibenci oleh orang-orang serakah yang ingin terus mengeruk emas. Bila akrab dengan berita, mungkin kita bisa mengingat tokoh lain dalam dunia nyata yang bernasib mirip, walaupun tambangnya bukan emas, tapi pasir.

Tokoh ketiga adalah Romi yang anak perempuannya menjadi korban pemerkosaan. Di pengadilan, seorang yang menjadi pelaku malah berubah status menjadi tersangka. Pemerkosaan yang dilakukan empat orang dalam cerita ini juga mungkin akan mengingatkan pembaca tentang kasus pemerkosaan yang lebih keji, bila akrab dengan berita. Dulu, ada perempuan yang meninggal setelah diperkosa, mayatnya dibuang begitu saja.

Satria, Tirto, dan Romi yang mengalami ketidakadilan itu dulunya adalah teman satu sekolah. Mereka bertemu lagi karena sekolah mereka hendak menyelenggarakan reuni. Mereka pun dulu akrab, pernah mendirikan sebuah grup band. Sebelum reuni sekolah terselenggara, mereka bertiga bertemu lagi. Di pertemuan itulah, mereka saling mengungkapkan kekesalan.

Baca juga   Ilmuwan Gunakan Tes Tuba Selamatkan Kepunahan Badak

Di pertemuan itu, Satria yang dulunya merupakan kaki tangan seorang bos tambang emas yang memerintahkan untuk melenyapkan aktivis lingkungan hidup, berinisiatif mengajak dua temannya merampok bank. Satria sepertinya dilanda trauma. Ia tak memberontak ketika menyaksikan bosnya melenyapkan Hartono, bahkan ia menjadi salah satu suruhan untuk melaksanakan tugas itu. Trauma itulah yang hendak ia hapus dengan melakukan suatu tindakan yang adil. Ia merenung suatu malam, “Keadilan apakah yang bisa kuperoleh dengan menembakkan satu peluru?” (halaman 167).

Tindakan yang adil bagi Satria dan dua temannya itu pun bukan beraksi seperti Robin Hood, perampok yang peduli pada kemiskinan rakyat. Mereka tak membagi-bagi uang untuk orang lain. Mereka merampok bank juga karena alasan-alasan ekonomis. Keuangan Satria, Romi, dan Tirto sedang krisis.

Namun, aksi merampok bank karena alasan pribadi itu mereka anggap adil karena krisis yang mereka hadapi juga merupakan akibat dari ketidakadilan yang mereka alami. Satria berhenti bekerja karena bosnya sendiri melenyapkan seseorang yang tak berdosa. Tirto berhenti menjadi guru karena menyaksikan korupsi di sekolahnya, dan bahkan sempat adu jotos dengan seorang guru yang sering memperlakukan murid dengan kejam. Romi pun kehilangan pekerjaan setelah anaknya diperkosa, dan istrinya mengalami depresi karena pemerkosaan itu.

Mereka bertiga, dibantu seseorang yang mereka rekrut belakangan, kemudian merencanakan aksi perampokan itu secermat mungkin. Bank yang mereka sasar, berada di Singkawang, mereka intai dan survei agar aksi mereka berhasil. Di bagian inilah kisah ini menjadi makin seru.

Cara mereka merencanakan penyamaran, pemantauan terhadap petugas penjaga bank, upaya mengetahui siapa pemegang brankas dan manajer bank, upaya menghindari pengejaran polisi, juga taktik agar perampokan berhasil dalam hitungan menit, direncanakan secermat-cermatnya. Dan yang membuat kisah perampokan ini masuk akal adalah karena latar Singkawang, kota yang tergolong kecil. Bukan Jakarta, misalnya.

Baca juga   Dongkrak Eksistensi Di Pariwisata, Pemerintah Ketapang Gelar Expo

Membaca Serikat Kegelapan membuat kita tak hanya terhibur dengan rencana dan aksi yang penuh ketegangan, tapi juga menghayati nasib orang-orang kecil yang bingung mengambil tindakan ketika dihadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan. Bila diminta memberi rating atau bintang untuk novel ini, maka saya akan memberi empat dari lima bintang. Untuk memesan buku ini dapat mengontak penulis langsung di akun media sosialnya.

Sekilas Tentang Penulis:

Sidik Nugroho adalah penulis novel produktif yang saat ini bermukim di Pontianak. Ia pernah diundang di festival sastra internasional Ubud Writers and Readers Festival pada bulan Oktober 2016. Ia menulis banyak novel misteri dan kriminal beberapa tahun belakangan. Karya-karyanya bisa dilacak di situsnya sidiknugroho.com. Novel Tewasnya Gagak Hitam (2015) lolos seleksi program penerjemahan yang dihelat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berjudul The Death of the Black Crow.

Selain menulis novel, Sidik Nugroho juga cukup aktif menulis esai dan opini seputar pendidikan, sastra, dan sosial. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Berkat tulisan-tulisannya, ia beberapa kali memenangi penghargaan menulis yang dihelat Kemdikbud dan pernah diundang sebagai pemakalah panel dalam seminar kritik sastra di Jakarta.

Terakhir, Sidik Nugroho juga cukup sering menjadi ghostwriter atau penulis bayangan. Bila sedang tidak mengerjakan proyek menulis novel ia menulis buku untuk kepentingan pihak lain. Menurutnya, ghostwriting membuat kemampuan menulisnya terus terasah, karena tidak setiap saat ia mendapat ide yang cukup kuat untuk ditulis sebagai sebuah novel. Lewat ghostwriting ia belajar menulis biografi dari tokoh masyarakat atau pengusaha yang kisah hidupnya menginspirasi orang lain.(raw)

Judul                     : Serikat Kegelapan
Penulis                  : Sidik Nugroho
Penerbit                : Kopihitam
Terbit                    : Okober 2017
Tebal                     : 232 halaman

 

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.