Drone, Primadona Pesawat Tanpa Awak

Drone primadona pesawat tanpa awak – Drone merupakan sebutan untuk pesawat tanpa awak yang saat ini sangat popular digunakan untuk berbagai tujuan. Drone bisa dipasangi dengan kamera yang dapat digunakan untuk mengambil gambar dan merekam video. Drone juga sangat bermacam-macam jenis dan spesifikasinya, bergantung pada tujuan penggunaan.

Pesawat tanpa awak ini merupakan pesawat yang dikendalikan dari jarak jauh sehingga, tidak membutuhkan pilot yang harus duduk di dalam pesawat. Penggunaan dan pengembangan teknologi pesawat tanpa awak sudah dimulai sejak sebelum perang dunia I, pertama kali di tanggal 22 Agustus 1849. Pada saat itu, ada pertempuran antara Austria melawan kota Venesia, Italia. Austria meluncurkan ratusan balon berisi bom dari kapal Austria Vulcano. Dan balon – balon tersebut pun berhasil mengenai target, walaupun beberapa diantaranya tetap ada yang meleset dari sasaran. Pada 8 November 1898, Nicolas Tesla, mematenkan remote untuk pengendali jarak jauh. Tesla mengembangkan dan membuat kapal dan balon yang bisa dikendalikan dari jarak jauh.

Pesawat tanpa awak pertama yang digunakan untuk keperluan militer adalah Hewitt-Sperry Automatic Airpane.

Teknologi tersebut sudah mengusung konsep Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Unmanned Aerial Vehcle (UAV) atau disebut wahana udara tak berawak merupakan sebuah wahana terbang yang mempunyai kemampuan dapat beroperasi tanpa adanya pilot di dalam wahana tersebut. UAV merupakan wahana udara tak berawak yang salah satu pengoperasiannya dengan cara dikendalikan dari jarak jauh. UAV dapat berupa, pesawat atau helikopter yang menggunakan sistem navigasi mandiri.

Hewitt-Sperry Automatic Airplane kemudian diambil alih oleh Angkatan Darat Amerika Serikat dan dikembangkan sebagai mesin terpedo udara. Pada tahun 1918, pengembangan pesawat tanpa awak melahirkan generasi selanjutnya yang bernama Bug Kettering. Selain Amerika, Inggris juga mengembangkan pesawat tanpa awak yang disebut Fairey Queen dan DH.82B Queen Bee. Pesawat tersebut yang mempelopori istilah dan pengembangan lebih lanjut mengenai Drone. Pada periode perang, pesawat tanpa awak memang hanya digunakan untuk keperluan perang dan menjalankan misi rahasia. Kemudian pada era Perang Dunia II, Drone digunakan untuk alat latihan para tentara untuk menembak target. Abraham Karem, insinyur Israel yang kemudian bermigrasi ke AS ini awalnya membuat pesawat nirawak dari garasi rumahnya di Irvine, California yang dinamakan Albatros. Prototipe pesawat nirawak buatan Karem berhasil dilirik Badan Proyek Riset Pertahanan AS (Defense Advanced Research Projects Agency/DARPA) yang kemudian mendanai penelitian lanjutan dari prototipe yang dikembangkan Karem. Mulai saat itu, riset drone di AS berkembang hingga terciptalah drone bernama Predator yang fenomenal itu.

Baca juga   Memantau Kegiatan Anak di Sosmed

Badan Intelijen AS (CIA) juga mengembangkan drone hingga lahir Drone Predator yang terkenal untuk membawa misi militer. Selain militer, Drone dalam perkembangannya mulai digunakan untuk keperluan lain, di Australia drone ini digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan. Di Indonesia, lembaga riset seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), kemudian beberapa kampus riset seperti ITB, UGM, dan Universitas Surya dengan TNI AD juga sudah membuat prototipe dari pesawat drone. LAPAN menyebut drone dengan LAPAN LSU (LAPAN Surveillance Unmanned (LSU) dan BPPT menyebutnya dengan PUNA (Pesawat Udara Nirawak). PUNA memiliki fungsi untuk memantau banjir, gunung berapi, kebakaran hutan, jumlah titik api pada kebaran hutan, pemetaan wilayah dan pertahanan negara bahkan digadang-gadang nantinya akan mampu menjadi pelengkap persenjataan TNI.

Berdasarkan jenisnya, terdapat dua tipe drone, yaitu multicopter dan fixed wing. Fixed wing memiliki bentuk seperti pesawat terbang biasa yang dilengkapi dengan sistem sayap. Tipe fix-winged perancangannya cukup rumit karena memerlukan desain aerodinamika pada sayap dan badannya. Sedangkan multicopter adalah drone yang memanfaatkan putaran baling-baling untuk terbang. Multicopter dibagi menjadi dua tipe yang berbeda yaitu single-rotor dan multi-rotor. Tipe single-rotor berbentuk seperti helikopter menggunakan baling-baling tunggal, sedangkan multi-rotor menggunakan 3 sampai 8 baling-baling. Keuntungan dari multicopter bisa terbang vertikal hingga 300 meter, sehingga cocok untuk pemetaan infrastruktur, lahan pertanian dan wilayah hutan. Perbedaan keunggulan dari keduanya adalah Multicopter dapat terbang selama 40 menit dengan area cover 100-400 hektare. Sedang untuk jenis fixed wing, meski bisa meliputi area yang jauh lebih luas dan terbang hingga 1,5 jam, drone ini tidak bisa terbang secara vertikal. Pemilihan spesifikasi Drone memang harus disesuaikan dengan tujuan agar dapat berfungsi dengan maksimal.

Drone semakin berkembang dan dikenal oleh masyarakat sipil, tidak lagi digunakan hanya untuk keperluan militer. Perkembangan teknologi membuat drone juga mulai banyak diterapkan untuk kebutuhan sipil, misalnya di bidang bisnis, industri dan logistik, atau hobi seperti fotografi atau travelling. Amazon meluncurkan peluncuran layanan Amazon Prime Air. Pengangkutan barang menjadi lebih cepat, lebih praktis, minim human error, dan mampu menjangkau lokasi terpencil. Di Amerika Serikat dan Jepang, teknologi ini menjadi industri bagi end-user dalam waktu dekat. Termasuk perusahaan raksasa Google juga sudah lama memasuki industri drone. Google mengakuisisi produsen drone Titan Aerospace. Drone keluaran Titan dapat mengudara hingga mencapai lima tahun tanpa perlu mendarat atau mengisi ulang bahan bakar. Kemampuan produk drone Titan akan dimanfaatkan Google untuk menyebarkan layanan internet ke berbagai wilayah.

Baca juga   9 Tempat Mengerikan di Dunia

Di Indonesia sendiri Drone juga terus dikembangkan dan dihasilkan penemuan baru. Saat ini Drone, atau dalam sitilah bahasa Indonesia disebut Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) telah diproduksi oleh industri dalam negeri antara lain : PT. Dirgantara Indonesia, PT. UAV Indo, PT. Globalindo Tekhnologi Service Indonesia, PT. RAI (Robo Aero Indonesia), PT. Aviator dan PT. Carita. Adapun PTTA hasil produk dalam negeri tersebut saat ini digunakan untuk kepentingan olahraga kedirgantaraan dan beberapa industi masih mengadakan pengembangan PTTA untuk kepentingan sasaran latihan Arhanud. Dengan adanya kemampuan berbagai industri dalam negeri dalam mengembangkan PTTA tersebut, merupakan potensi dan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan PTTA yang memiliki kemampuan sebagai pesawat pengintai/pemantau sasaran/objek dari udara.

Beredarnya Drone secara umum dan semakin marak penggunaan drone untuk berbagai keperluan membuat pemerintah mengeluarkan peraturan dalam penggunaannya. Tetap diatur ya tidak boleh sembarangan. Kementrian Perhubungan membuat Undang-undang No.90/2015 tentang pengendalian pengoperasian pesawat tanpa awak di ruang udara yang dilayani Indonesia. Undang-undang ini baru diresmikan pada 12 mei 2015 yang isinya di antaranya adalah melarang pengoperasian drone di kawasan udara terlarang, di kawasan udara terbatas, dan kawasan keselamatan operasi penerbangan suatu bandar udara. Drone juga dilarang diterbangkan lebih dari 500 kaki atau 150 m. Untuk ketinggian yang lebih dapat meminta ijin pada Dirjen Pehubungan Udara paling lambat 14 hari sebelum dioperasikan.

drone dan teknologi
drone (foto dronewatchdogs)

Drone yang dipasarkan secara komersil dapat digunakan untuk mengangkut beban meski terbatas, membantu memancarkan sinyal wifi, mengambil foto dan video untuk kepentingan jurnalistik atau pribadi, pemantauan untuk berbagai macam kegiatan, dalam dunia pertanian drone dapat digunakan untuk proses pemupukan dan pengairan, digunakan untuk keperluan riset atau memiliki drone untuk bermain dan sekadar hobi. Untuk memiliki sebuah Drone memang kita harus merogoh kocek cukup dalam karena harganya yang lumayan mahal, apalagi jika spesifikasinya semakin tinggi dan canggih, tentu harga yang ditawarkan juga lebih mahal.

Penulis yang suka nulis