Alat Simulasi Bantu Guru dan Siswa di AS Hadapi Insiden Penenembakan

 

GENCIL.NEWS – Kekerasan senjata api merupakan realitas di Amerika, di mana lebih dari sepuluh orang tewas tertembak pada hari pertama tahun 2018. Insiden penembakan terjadi dimana-mana – di rumah, pusat belanja, jalanan, dan sekolah.

Di Amerika, sepanjang tahun 2017 lalu ada sembilan kasus penembakan di sekolah yang menewaskan 15 orang dan melukai 18 lainnya. Kini sebuah program simulasi baru dirancang untuk membantu guru dan siswa aman dari penembak.

“Tabitha sedang meneliti layar seleksi. Kami menyuguhkan berbagai jenis karakter. Tersangka dengan senjata api. Tersangka bisa orang dewasa atau anak-anak.”

Simulasi ini seperti jutaan video-games lain yang Anda lihat, tetapi ini bukan permainan. Video game ini membuat simulasi dari apa yang terjadi ketika seorang penembak memasuki sekolah.

Manajer Edge Project Bob Walker mengatakan, “Tersangka masuk sekolah dan membuat kekacauan. Simulasi ini menunjukkan bagaimana guru menanggapi situasi itu bersama siswa-siswa lewat tindakan-tindakan yang berbeda, misalnya menghadap ke dinding.”

Tidak mudah menyaksikan skenario ini, tetapi penyusun program ini mengatakan simulasi seperti itu bisa menyelamatkan banyak orang.

“Banyak fitur-fitur seperti ini memungkinkan guru menguji hal-hal yang sudah teruji sebelumnya. Contohnya di Virginia Tech, mereka memperoleh temuan, memblokir pintu sangat efektif. Jadi hal ini memberi sekolah-sekolah mencoba berbagai hal, dan menguji apa yang paling efektif di dalam lingkungan mereka,” tambah Walker.

Sasarannya adalah memberi guru dan pengelola sekolah, bahkan polisi, kesempatan mengalami lewat simulasi sebuah insiden penembak aktif di kampus sekolah.

Tamara Griffith dari Laboratorium Penelitian Angkatan Darat, atau ARL mengatakan, “Jadi lewat pengalaman kita kembangkan cara-cara untuk membela diri. Semakin banyak pengalaman yang diraih, semakin besar kemungkinan kita akan selamat. Jadi simulasi ini memungkinkan Anda untuk melatih dan meraih berbagai pengalaman, tahu cara yang efektif, dan yang tidak efektif.”

Bagi pengembang perangkat lunak ini, menciptakan simulasi ini cukup sulit.

“Kami duduk bersama dan mendengarkan rekaman pembicaraan telefon darurat dari beragam insiden, bulu kuduk berdiri ketika kami sedang membayangkan apa sedang terjadi, tetapi juga memberi kita kesempatan untuk mempersiapkan penegak hukum dan pemadam kebakaran dan penanggap-penanggap lainnya secara lebih baik menanggapi insiden seperti itu,” imbuh Tamara.

Penembak, para siswa dan pengelola sekolah dalam simulasi ini mengoperasikan “artificial intelligence” yang memungkinkan penyusun program mampu menguji strategi pengamanan yang berbeda dan mengkaji apakah hal itu bermanfaat atau tidak.

Simulasi ini tidak menyenangkan dan banyak kekacauannya, tetapi penyusun program ini mengatakan mereka berupaya menyiapkan para guru sebaik mungkin agar siap menghadapi situasi terburuk.

“Kita bisa mencegah jatuhnya banyak korban jiwa. Kita bisa menjadikan orang lebih siap dan kita bisa menjadikan lingkungan ini lebih aman jika kita bisa memberikan latihan simulasi untuk pihak yang tepat,” paparnya.

Program ini sudah digunakan oleh sejumlah petugas darurat, tetapi Army Research Lab merencanakan untuk mendistribusikan simulasi versi insiden di sekolah dengan cuma-cuma. [em/jm]