Dua hari setelah gempa berkekuatan 7,4 skala Richter disusul tsunami
yang menghantam Kabupaten Donggala dan Kota Palu di Sulawesi Tengah,
Presiden Joko Widodo akhirnya membuka pintu bagi masuknya bantuan
internasional.

Kebijakan itu diambil setelah pemerintah kewalahan melakukan
penangannan darurat terhadap korban gempa dan tsunami yang terus
bertambah. Belum lagi rusaknya infrastruktur yang mengakibatkan layanan
kebutuhan dasar, seperti pangan, tidak dapat dipenuhi.

Dalam jumpa pers mingguan di kantornya, Kamis (4/10), Juru bicara
Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menjelaskan sejak hari pertama
terjadinya gempa dan tsunami, berbagai negara sudah menawarkan bantuan
kemanusiaan baik yang disampaikan langsung melalui Presiden Joko Widodo
atau Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir. (Foto: Fathiyah Wardah/VOA)
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir. (Foto: Fathiyah Wardah/VOA)

Arrmanatha menambahkan Satuan Tugas Nasional Penanganan Gempa dan
Tsunami Palu telah menginventarisir kebutuhan mendesak dalam masa
tanggap darurat.

“Bantuan asing yang diharapkan, diprioritaskan adalah pesawat
terbang, pesawat angkut seperti C-130 atau sejenisnya, tenda pengungsi,
alat pengolahan air, genset, rumah sakit lapangan, dan peralatan
medisnya,” kata Arrmanatha.

Menurut Arrmanatha, sampai saat ini sudah ada 18 negara dan dua
organisasi internasional yang sudah memberikan daftar bantuan secara
konkret, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Turki, dan Arab Saudi. Dia
mengatakan pesawat yang membawa bantuan kemanusiaan dari Singapura dan
India sudah mendarat di Balikpapan dan Palu.

Baca juga   Komisi IV Haturkan Duka Mendalam Terkait Gempa di Lombok

Arrmanatha mengatakan sejauh ini sudah 13 negara mendapat izin masuk
untuk membawa bantuan kemanusiaan bagi korban gempa dan tsunami di
Donggala dan Palu. Meski begitu, tidak otomatis pesawat dari 13 negara
yang sudah mendapat izin bisa langsung masuk tapi melihat kapasitas di
bandar udara di Balikpapan, Palu, atau Makassar.

Arrmanatha menekankan bantuan berupa pesawat angkut militer tetap dibolehkan masuk namun dengan jumlah personel yang terbatas.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan
sebagian negara menyatakan akan mengucurkan dana tunai. Uni Eropa
misalnya mejanjikan 1,5 juta euro atau sekitar Rp26 milliar. Mereka juga
akan mengirim tenaga medis dan membantu memetakan wilayah yang terkena
dampak bencana dengan satelit.

China dan Malaysia, masing-masing menjanjikan Rp2,9 millliar dan
Rp1,8 milliar. Inggris Rp39 milliar. Kementerian Koordinator Politik,
Hukum dan Keamanan bertugas mengkoordinasi bantuan pemerintah asing.
Sedangkan Badan Kerja sama dan Penanaman Modal mengawal penyaluran
bantuan dari lembaga asing swasta.

Dua pesawat Hercules C-130 milik Singapura sejak beberapa hari lalu
membantu mengangkut logistik dari Jakarta ke Palu. Di samping itu,
delapan Hercules dari Malaysia, India, Korea Selatan dan Amerika Serikat
juga siaga membantu. Menurut Wiranto, bantuan pesawat akan mempercepat
pengangkutan logistik.

Baca juga   Kasus Ispa di Kuburaya Capai 987

Jepang dan Swiss memberikan bantuan alat pemurni air. Jepang, India
dan Negara-negara ASEAN juga akan membantu membuatkan rumah sakit
lapangan beserta tenaga medisnya. Jepang dan India juga mengirim bantuan
berupa generator listrik.

“Bantuan tersebut bisa berwujud barang, berwujud alat, bisa berwujud
keahlian tertentu. Yang penting bantuan tepat waktu datang. Saat ini
kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan kebutuhan tanggap darurat, kebutuhan
yang langsung dibutuhkan masyarakat,” ujar Wiranto.

Terkait 120 warga negara asing yang menjadi korban dari bencana di
Sulawesi Tengah, Arrmanatha mengungkapkan tercatat ada 120 warga negara
asing yang terdampak dari bencana di Sulawesi Tengah itu. Dari jumlah
itu, lanjut dia, sebanyak 119 warga asing sudah diketahui keberadaannya.
Sebagian besar dari mereka sudah keluar dari Palu.

“Hanya satu orang, yaitu warga Korea Selatan, yang sampai saat ini
kita belum bisa menghubungi atau mengontak. Tim SAR terus berupaya untuk
mencari tahu di mana keberadaan WNA dari Korea Selatan tersebut,”
tambah Arrmanatha.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kamis menyatakan korban
tewas akibat gempa dan tsunami berjumlah 1.424 orang dan 2.549 lainnya
yang dirawat di rumah sakit. Sebanyak 66.238 rumah rusak. [fw/em]