Hari Radio Nasional: Mengukur Kekuatan di Tengah Perkembangan Teknologi Informasi dan Hiburan

Media radio tidak hanya menjadi alat komunikasi yang digunakan sejak zaman perang kemerdekaan, tetapi juga sarana menyampaikan informasi dan hiburan yang dibutuhkan masyarakat.

Pendengar radio asal Surabaya Peter Megantara mengatakan, perkembangan zaman dan kehadiran teknologi informasi telah mengubah wajah radio di Indonesia.

Isi siaran kini mengikuti kebutuhan pasar. Ia mencontohkan sandiwara radio dan siaran langsung pertandingan olah raga sepak bola yang sangat diminati pendengar, selain siaran berita.

“Perubahan yang terbesar menurut saya, dibanding zaman saya masih kecil terutama, radio yang sekarang itu tidak lagi saya bisa mencatat atau menemukan, drama atau sandiwara radio.

Dan kedua, siaran langsung sepak bola, itu yang sekarang sudah hilang di radio. Padahal menurut saya sandiwara radio itu sangat berkesan, serial sandiwara radio. Dulu saya selalu mengikuti dan bahkan saya sampai punya kasetnya,” tuturnya.

Berkembangnya industri pertelevisian maupun teknologi informasi berbasis internet, telah ikut mengubah arah dunia penyiaran di tanah air.

Peter Megantara mengatakan pendengar radio pada masa lalu mampu menghadirkan imajinasi dalam pikirannya dan menyukai program yang sesuai dengan imajinasi yang paling dapat digambarkannya. Tetapi kini media televisi dan internet dianggap jauh lebih menarik.

“Visual itu dianggap sudah menggantikan bahkan lebih memenuhi kebutuhan audio. Tetapi orang sering kali lupa bahwa daya imajinasi kita itu, generasi sekarang terutama itu menjadi lemah.

Bayangkan kita akan sulit menikmati, atau anak sekarang itu disuguhi sandiwara radio, mereka akan merasa, apa sih ini, kenapa kok tidak lihat filmnya saja,” imbuhnya.

Komisioner Bidang Isi Siaran, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur Immanuel Yosua mengatakan lembaga penyiaran yang berizin maupun yang belum berizin di Jawa Timur cukup banyak, belum termasuk yang sedang mengajukan izin baru.

Ini menunjukkan animo dan minat masyarakat terhadap radio masih cukup tinggi. Hobi dan alasan bisnis menjadi faktor terbesar masyarakat mengajukan izin pendirian lembaga penyiaran dan melakukan aktivitasnya.

Yosua meyakini bahwa lembaga penyiaran radio masih akan eksis di tengah himpitan perkembangan teknologi informasi dan hiburan, serta pesatnya perkembangan media sosial.

“Dari kajian kami di KPID, yang pertama memang hobi. Jadi orang kalau sudah namanya hobi dan suka, walaupun itu rugi mereka akan terus.

Dan yang kedua, memang bagi pebisnis yang segmen bisnisnya itu adalah pendengar radio atau memang fokus pada audio, itu berpikir lebih baik saya ini mendirikan radio, bisa saya gunakan untuk promosi bisnis saya, dari pada saya membayar lembaga penyiaran lain termasuk radio, untuk mempromosikan bisnis saya. Jadi hari-hari ini mereka sangat bersemangat untuk mendirikan radi, karena alasan bisnis,” tukasnya.

Meski jumlah lembaga penyiaran radio cukup banyak, mulai dari lembaga penyiaran publik milik pemerintah daerah, swasta dan komunitas; Yosua menilai fungsi radio masih belum optimal. Radio hanya digunakan untuk kepentingan bisnis maupun kesenangan semata.

Yosua menambahkan, “Jadi harus diakui bahwa fungsi radio dalam menjalankan perannya, sebagaimana diamanatkan dalam regulasi, seperti fungsi hiburan, informasi, edukasi, dan lain-lain, masih sangat perlu dioptimalkan, karena memang mereka terjebak untuk sekedar bertahan hidup, dan memberikan fungsi hiburan plus bisnis dalam artian hanya terfokus pada kepentingan bisnis masing-masing, bahkan kita sinyalir beberapa radio ini memang digunakan sebagai radio untuk kepentingan kelompok.”

Praktisi media radio, yang juga Direktur Operasional Suara Surabaya Media, Errol Jonathans mengungkapkan, radio tidak dapat bertahan pada tampilan dan gaya lama yang hanya berfungsi sebagai media hiburan. Radio harus mampu menampilkan pesona dan daya tarik yang mampu menggerakkan masyarakat menggunakan radio, sebagai sarana pemenuhan kebutuhan masyarakat secara umum.

Jurnalisme dan pelibatan masyarakat dalam radio diyakini akan dapat membuat radio tetap eksis dan mampu bersaing dengan media baru, seperti internet dan sosial media.

“Jurnalisme inilah yang mampu menciptakan enchantment, ketergantungan. Jadi ketika radio bisa memainkan peran informasi, lalu dia bisa memainkan peran advokasi dan termasuk juga dia sungguh-sungguh memanfaatkan kesiapan masyarakat dalam hal citizen journalism, atau jurnalisme warga, maka sebetulnya radio itu pasti mampu untuk eksis, tapi ketika kita mengandalkan hiburan semata-mata, musik sebagai andalan radio, justru itu yang sekarang sudah mendapatkan yang sangat kuat dari aplikasi-aplikasi musik,” kata Errol.

Errol Jonathans meyakini perkembangan zaman dengan kemajuan teknologi informasi beserta produknya, tidak akan dapat menggeser peran radio di tengah masyarakat.

Radio akan ditinggalkan dan mati dengan sendirinya, bila pengelolanya enggan untuk berbenah dan tidak mampu mengikuti tuntutan perkembangan zaman. Sebaliknya, radio akan bertahan dan bahkan semakin kuat, bila mampu mengoptimalkan semua yang ada di sekitarnya untuk menampilkan wajah baru radio yang segar dan menarik.

“Kekuatan dari karakteristik radio yang auditif itu adalah karena suara itu mengandung efek emosi, yang itu tidak bisa kita dapatkan dari pendekatan preme maupun pendekatan visual.

Kekuatan radio yang masih bisa dianggap punya pesona dari imajinasi itu, menurut saya masih sangat kuat hari ini. Tetapi dalam perkembangan yang sekarang, radio itu akan semakin ampuh, kalau dia mampu melakukan konvergensi dengan teknologi, terutama adalah konvergensi dengan internet maupun media sosial,” pungkasnya. [pr/em]