Islam Mengajarkan Kesetaraan Sesama Manusia

Sebagian masyarakat di negara-negara Barat memandang negatif terhadap ajaran Islam karena memiliki perspektif yang tidak benar tentang praktik ajaran Islam. Misalnya anggapan yang merendahkan perempuan atau menghalalkan serangan terhadap warga non-Muslim.

Padahal itu adalah interpretasi sebagian kalangan ulama, karena sejatinya Islam mengajarkan dan menyebarluaskan perdamaian dan persaudaraan.

Dalam sebuah diskusi yang digelar di kantor Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Rais Syuriah Pengurus Cabang Internasional NU Australia-Selandia Baru, Nadirsyah Hosen menekankan Islam adalah agama kemanusiaan. Hal ini, lanjut dia, berdasarkan tiga “pesan langit” yang mulai tidak dilaksanakan oleh umat Islam.

Menurut Nadirsyah, pesan langit pertama adalah kemuliaan manusia di mata Tuhan adalah berdasarkan tingkat ketakwaannya, bukan karena etnis, ras, warna kulit, status sosial, atau keturunan.

Nadirsyah menambahkan pesan langit kedua yakni janganlah kebencian terhadap suatu kaum menghalangi kamu berbuat adil kepada mereka. Dia mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang melarang kaum Muslim merampas unta orang-orang kafir saat kaum muslim menguasai Kota Makkah.

Lebih lanjut Nadirsyah mengungkapkan pesan langit ketiga adalah berikanlah amanah itu kepada yang berhak.

“Jadi kalau orang ini tidak melakukan kerusakan, orang ini melakukan tugasnya dengan baik, kenapa mesti dicopot. Jadi kita harus berikan amanat kepada yang berhak. Jangan hanya gara-gara kita satu kubu, satu daerah, lantas kita memberikan amanah itu ada unsur suka dan tidak suka,” tukasnya.

Nadirsyah menambahkan munculnya kelompok-kelompok Islam garis keras di Indonesia saat ini karena dakwah-dakwah ulama menyulut emosi karena menggambarkan seakan-akan Islam tertindas di segala bidang.

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mengakui di era media sosial saat ini banyak orang langsung menyebarluaskan link informasi tanpa lebih dulu membaca isinya. Selain itu, orang juga banyak langsung meyakini kebenaran dari informasi mereka peroleh melalui media sosial.

Karena itulah, lanjut Helmy, NU melakukan gerakan kontra narasi dengan menyiapkan kontent-konten Islam yang menyejukkan untuk meminimalisir penyebaran paham-paham kebencian dan radikal. Dia menambahkan ada tiga pilar dalam beragama yang baik dan benar, yakni akidah, syariah, dan akhlak mulia.

Helmy menegaskan misi awal Nabi Muhammad di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Sebagai bagian dari kontra narasi terhadap ujaran kebenciandan paham radikal yang bertebaran di media sosial, menurut Helmy, PBNU telah mewajibkan seluruh santri untuk mengunggah seluruh ajaran dari kiai-kiai NU di akun media sosial mereka.

Terkait memanasnya suhu politik menjelang pemilihan umum tahun depan, Helmy meyakini tidak akan terjadi polarisasi yang mengatasnamakan . Dia mengajak semua pihak untuk berpolitik secara santun dan saling menghormati.

“Pada dasarnya kita harus menghormati semua manusia, apapun agamanya, apapun golongannya, Jangan perbedaan itu dijadikan untuk permusuhan. Karena kunci dari semuanya itu adalah harus ada persaudaraan. Kalau tanpa ukhuwah (persaudaraan, red.) jadinya perang kan, jadinya konflik,” pungkasnya. [fw/em]