Kabupaten Tanpa Perpustakaan, Pegunungan Bintang Butuh Buku

Tak seperti anak-anak lain di Indonesia, bukan telepon genggam atau sepeda yang diinginkan Mabin Dokur Bamulki, siswa kelas 2 SD berumur delapan tahun dari Oksibil, ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.Iainginbuku dongeng.

“Saya ingin buku cerita. Saya suka membaca buku cerita dongeng. Saya sudah bisa baca,” kata Mabin Dokur.

Ada banyak anak seperti Mabin Dokur di Pegunungan Bintang. Mereka belajar membaca di sekolah, tetapi kekurangan bahan bacaan untuk meningkatkan kemampuan dan memperluas pengetahuan. Juga, bagi anak seusia Mabin Dokur, buku dongeng adalah jendela hiburan yang membuka imajinasi.

Pegiat pendidikan masyarakat di sana, Fransiskus Kasipmabin, tak mau tinggal diam. Sejak dua tahun yang lalu dia mulai merintis sebuah Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Tentu dengan segala keterbatasan, hingga beberapa bulan lalu, TBM itu sama sekali tak mampu memenuhi keinginan besar anak-anak dan warga Oksibil akan bahan bacaan. Padahal, lanjut Kasipmabin, membaca adalah salah satu cara mencerdaskan masyarakat Papua.

“Tujuannya adalah bagaimana kita merangsang masyarakat terutama di sekitar Oksibil, agar mereka mau datang ke taman baca agar bisa membaca, tujuan besarnya untuk mencerdaskan. Bangunannya sudah 60 persen jadi, tinggal rak-rak yang belum. Buku-buku dari kawan-kawan beberapa daerah sudah kirim buku. Dan masih butuh dukungan dari seluruh teman untuk mengirim buku demi meningkatkan minat baca bagi masyarakat,” jelas Fransiskus Kasipmabin.

Kasipmabin bercerita, Kabupaten Pegunungan Bintang akan berusia 16 tahun pada April tahun depan. Namun, sejak didirikan sebagai hasil pemekaran sampai sekarang, daerah ini tidak memiliki perpustakaan. Bahkan untuk membeli buku, warga harus ke Jayapura. Kedua kota ini dihubungkan melalui transportasi udara dengan lama tempuh sekitar 1 jam.


Anak-anak Oksibil dan kegiatan mereka di Taman Bacaan Masyarakat setempat. (Foto: Fransiskus Kasipmabin/doc)

Ide pendirian TBM ini sudah muncul sejak Kasipmabin masih kuliah di Yogyakarta sekitar dua tahun lalu. Dalam diskusi intensif bersama empat kawannya, mereka sepakat bahwa sebuah taman bacaan dibutuhkan untuk mempercepat proses pendidikan masyarakat Papua. Target utama TBM ini tentu saja anak-anak sekolah yang sudah bisa membaca. Namun, masyarakat umum pun dapat mengaksesnya, tentu saja dengan proses belajar dari awal.

“Dan memang fasilitas seperti ini belum pernah ada, sehingga masyarakat tidak pernah membaca. Untuk masyarakat umum perlu ada sosialisasi, promosi, terutama ke kampung-kampung agar mereka bisa mengaksesnya,” tambah Kasipmabin.

Ali Arto, pengajar muda dari gerakan Indonesia Mengajar yang turut membangun TBM ini mengaku, memberi perhatian khusus terhadap ide Fransiskus Kasipmabin. Di tengah semua keterbatasan, ide aktivis pendidikan asal Oksibil itu layak didukung sepenuhnya. Karena itulah, para pengajar muda melakukan sejumlah upaya, mulai dari komunikasi ide ke sejumlah pihak hingga terlibat dalam pembicaraan resmi di tingkat kabupaten.

“Kami kekurangan buku bacaan yang diperlukan anak-anak, jadi TBM ini sebagai jembatan pengetahuan. Paling tidak anak-anak bisa difasilitasi dengan buku bacaan, apalagi sekarang ada program pengiriman buku gratis tiap tanggal 17 setiap bulannya melalui Kantor Pos. Lewat program itu, buku bisa masuk kesini,” kata Ali.

Sejak 17 Juni tahun lalu, PT Pos Indonesia memang meluncurkan program pengiriman buku gratis. Masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas ini hingga 10 kilogram untuk setiap kiriman keberbagaiTBM yang ada di Indonesia. Program itu merupakan perintah Presiden Jokowi pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2017 setelah mendengar keluhan masyarakat literasi akan mahalnya pengiriman buku ke wilayah terpencil di Indonesia.

Ali Arto sendiri yang sudah sepuluh bulan di Pegunungan Bintang merasakan sendiri bagaimana kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur menghambat upaya mencerdaskan generasi muda melalui buku.

“Kalau biaya pribadi akan sangat besar, karena ongkosnya besar. Medannya bergunung-gunung dan infrastruktur terbatas. Tiket pesawat sangat mahal. Kami, para pengajar muda di distrik mengangkut buku dengan beban tidak sedikit, memakai kardus berulang-ulang. Karena medannya sangat berat. Ini dilakukan dengan jalan kaki, kita pikul bukunya karena sepeda motor tidak bisa masuk ke desa-desa. Dari pusat distrik, masih harus jalan kaki 3-4 jam ke desa,” jelas Ali Arto.

Siapapun Anda bisa berperan mencerdaskan generasi muda di Pegunungan Bintang dengan mengirimkan buku kesana setiap tanggal 17 melalui Kantor Pos tanpa biaya. Kiriman dapat dialamatkan ke Fransiskus Kasipmabin di TBM Mabin Gubin, Kantor Pos Oksibil, Pegunungan Bintang. Dari TBM ini, buku-buku akan didistribusikan dengan berjalan kaki ke desa-desa terpencil.[ns/as-ab]