Kemenkes Ambil Alih Penanganan Tiga Anak Pengidap HIV di Samosir

Penanganan tiga anak pengidap HIV yang mendapat penolakan dari masyarakat di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara akan diambil alih oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hal itu dikatakan Bupati Samosir, Rapidin Simbolon  Minggu (4/11).

Rapidin mengatakan kebijakan itu dilakukan karena sampai saat ini tidak ditemukan kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir dengan Komite AIDS Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) terutama soal pendidikan untuk ketiganya.

“Karena kita sudah beberapa kali mediasi antara pihak HKBP komisi penanganan AIDS dengan orang tua para siswa sampai sekarang belum ada titik temu.

Akhirnya saya coba untuk menghubungi Bu Menteri (Nila Moeloek) dan beliau akan mengambil kebijakan anak yang tiga itu dibawa berobat ke Medan. Nanti akan dicarikan solusi bagaimana untuk ketiga anak ini. Artinya baik dari sisi pendidikannya dan penanganan kesehatannya,” kata Rapidin.

Baca juga   Integrasi IGT Ditargetkan Tuntas di Pertengahan Tahun 2018

Lanjut Rapidin, nantinya Kementerian Kesehatan melalui Menteri Kesehatan, Nila Moeloek yang akan berkomunikasi langsung dengan Komite AIDS HKBP.

Namun, Rapidin tidak bisa memastikan kebijakan apa saja yang akan dilakukan Kementerian Kesehatan terhadap tiga anak pengidap HIV di Nainggolan.

Dan bukan tidak mungkin ketiganya akan dibawa keluar dari Samosir dan mendapat pendidikan di tempat lain.

“Seperti itu yang dikatakan Bu Menteri, tapi itu pembicaraan melalui telepon. Apakah nanti itu bisa terlaksana atau tidak, kita lihat perkembangannya

. Yang jelas Pemkab Samosir sampai saat ini tetap melindungi anak itu, dan masih menawarkan salah satu pendidikan home-schooling kepada anak-anak tersebut.

Sembari menunggu kita sosialisasi bisa meyakinkan warga untuk menerima anak-anak secara bersama dengan mereka yang tidak terkena Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Jadi kita masih terus meyakinkan baik dari Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan tetap diupayakan,” beber Rapidin.

Baca juga   Apakah Penanganan Bencana di Indonesia Sudah Terstruktur dan Terlembaga?

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga anak yang terdiri dari seorang laki-laki berinisial H (11) dan dua perempuan berinisial SA (10), dan S (7) penduduk luar Kabupaten Samosir, didatangkan ke Rumah Sakit HKBP Nainggolan untuk dirawat di sana.

Pemkab Samosir kemudian mendaftarkan ketiganya di sekolah, yaitu satu anak di PAUD Welipa, dan dua lainnya di SD Negeri 2 Nainggolan.

Namun baru sehari bersekolah, ketiganya tidak diizinkan masuk lantaran sebagian besar orang tua siswa lainnya menolak anak mereka berada di kelas dan sekolah yang sama dengan ketiga anak penderita HIV itu. (aa/em)

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.