Kita Bisa Berlatih Supaya Lebih ‘Relaks dalam Beragama’

Gerakan “Relaksasi Beragama” menggunakan sastra dan seni untuk meredam polarisasi di masyarakat. Penggagas gerakan ini yang juga penulis, Feby Indirani, mengajak masyarakat lebih relaks dalam menyikapi perbedaan agama atau politik. Tapi bagaimana menularkan ide ini ke lebih banyak orang?

“Oke nih kita sudah relaks. Tapi sebetulnya bisa nggak–katakanlah–melatih orang lain, membuat orang lain relaks juga. Nah kalau kayak gitu, ngomong pelatihan, itukan sesuatu yang harus direncanakan dengan matang dan terstruktur,” jelas perempuan yang telah menulis 10 buku ini.

Apakah bisa melatih orang supaya lebih relaks dalam beragama? Tentu bisa. Feby pun menggaet Ferlita–psikolog yang kaya pengalaman psikologi terapan–untuk ikut merancang pelatihan. Ditambah seorang kritikus budaya, Hikmat Darmawan.

Feby Indirani berpose di instalasi "Ruang Tunggu" karya Maradita Sutantio (2018) dalam pameran "Bukan Perawan Maria". Pameran ini bagian dari gerakan "Relaksasi Beragama" sejak 2017. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)
Feby Indirani berpose di instalasi “Ruang Tunggu” karya Maradita Sutantio (2018) dalam pameran “Bukan Perawan Maria”. Pameran ini bagian dari gerakan “Relaksasi Beragama” sejak 2017. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)

Lewat proses menggodok pikiran, ketiganya merancang 3 prinsip “relaksasi beragama”: satu, agama adalah jalan bukan tujuan; dua, hakikat manusia adalah kesamaan; dan tiga, mengutamakan welas asih daripada menjadi benar.

“Sebenarnya orang menjadi relaks kalau menganggap tujuannya itu besar, tujuan dia itu Tuhan. Orang menjadi tidak relaks kalau terlalu fokus pada jalan, kepada agama,” jelas Ferlita yang lulusan S2 Psikologi Terapan Universitas Indonesia ini.

Namun, prinsip-prinsip hanya bisa mengubah pola pikir. Orang perlu dilatih dengan lima ketrampilan agar relaks menghadapi perbedaan.

“Kadang-kadang di level praktik kita bingung. Kita mesti ngapain? Apalagi menghadapi yang sekarang ini kan sosial media sudah sadis banget,” pungkasnya.

Proses panjang membuahkan lima ketrampilan: satu, mencari kesamaan; dua, menunda respon; tiga, menggunakan humor; empat, berargumen dengan welasasih; dan lima, menciptakan percakapan baru yang konstruktif.

Tiap Orang Bisa Dilatih Jadi Relaks

Wartawan VOA Rio Tuasikal berkesempatan mengikuti pelatihannya di Bandung, Jawa Barat. Sessi selama 4 jam ini melatih belasan orang, tua-muda, dari berbagai kelompok agama.

Yang paling menarik adalah ketika Ferlita, sang pelatih, menggelar permainan sebagai latihan mencari kesamaan. Tiap peserta diminta memilih kartu gambar secara acak dan harus menjelaskan kesamaan gambar itu dengan dirinya. Ada peserta yang mendapatkan gambar anjing tertidur atau anak kecil bermain di pantai.

Pada putaran kedua, kartu itu ditukar dengan peserta lain dan proses diulang. Namun pada putaran ketiga peserta tidak diminta menggambarkan kesamaan dengan kartu. Peserta justru diminta membahas isu kontroversial yakni LGBT dengan prinsip yang sama. Itulah saat otak berusaha menerapkan prinsip kesamaan tadi, namun dengan isu berat.

Psikolog Ferlita Sari menjelaskan teori stimulus-respon kepada peserta pelatihan "Relaksasi Beragama". Dia melatih peserta untuk bisa mengambil jeda sebelum merespon. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)
Psikolog Ferlita Sari menjelaskan teori stimulus-respon kepada peserta pelatihan “Relaksasi Beragama”. Dia melatih peserta untuk bisa mengambil jeda sebelum merespon. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)

 

Secara psikologis, manusia cenderung tidak berpikir jernih ketika reaksioner. Apalagi ketika berdebat di media sosial. Karena itu ketrampilan kedua, menunda respon, penting dilatih.
“Sekarang itu respon sesederhana meng-klik sekali (media sosial) itu sudah berdampak. Makanya kita bilang, latihan, ngerem. Napas dulu napas. Kadang-kadang kita nggak napas langsung mau respon,” jelasnya.

Para peserta pelatihan mengaku ketrampilan ini sangat penting. Nuraeni, mahasiswa perbandingan agama UIN Bandung, sering tegang ketika bertemu orang berpandangan ekstrem.

“Setelah datang ke sini alhamdulillah bisa dapat pencerahan dan wawasan. Jadi setelah pelatihan ini rencana mau bikin tulisan buat nyebarin gagasan-gagasan yang ada di sini,” jelas mahasiswi semester 3 ini.

Belasan peserta melingkar saat akan berlatih mencari kesamaan menggunakan kartu gambar "Points of You". (Foto: Rio Tuasikal/VOA)
Belasan peserta melingkar saat akan berlatih mencari kesamaan menggunakan kartu gambar “Points of You”. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)

Sementara Hapipah, guru sekolah dasar, mengaku lebih siap menghadapi perdebatan di tahun politik.

“Karena memang selama ini kita selalu bersitegang. Ternyata kalau kita sudah direlaksasi semua orang itu bisadiredam atau cooling down dalam emosinya dan dalamsegala hal. Terutama sekarang yang lagi hangat ini kan masalah politik ya,” jelasnya.

Gerakan “Relaksasi Beragama” ingin membawa pelatihan ini ke lebih banyak orang, dengan durasi dua hari untuk kurikulum yang lebih komprehensif. Saat ini, Feby dan Ferlita cukup puas bisa membangun kesadaran, membantu masyarakat lebih relaks dalam menghadapi perbedaan.

“Jadi lebih ngeh ketika mau berdebat sama orang. Oh iya yah waktu itu kan diajarkan pause. Karena kalau kita pause, pasti beda energinya. Dibandingkan kalau hajar terus. Pause dulu sebentar,” tutup Ferlita. [rt/em]