Bahkan penyulingan bir kecil di AS sekalipun membuang sekitar dua juta ton biji-bijian yang digunakan setiap tahun ke tempat pembuangan akhir (TPA). Tetapi seorang pengusaha menemukan manfaat lain dari semua biji-bijian yang terbuang itu. Ia mendaur ulang biji-biji barley menjadi tepung yang kemudian dijualnya ke toko roti dan restoran.

Bir mungkin tidak menjadi alasan utama upaya memerangi limbah makanan.

Tetapi proses pembuatan bir menggunakan ribuan kilo biji barley(jelai) yaitu salah satu jenis biji-bijian yang berasal dari tanaman keluarga gandum. Setelah biji-biji direndam dalam air panas untuk melepas kadar gulanya, warna minuman keemasan yang dihasilkannya difermentasi menjadi alkohol dan biji-biji barley yang sudah digunakan akan dibuang.

“Di kota New York saja, ada 6.000 ton yang dibuang ke TPA setiap tahun. Jadi, kalau setidaknya mulai membuat New York bebas limbah akan sangat baik,” kata Bertha Jimenez, pendiri dan CEO Rise.

Baca juga   Penjualan Pesawat Buatan Pabrikan AS alami Kenaikan

Bertha Jimenez dan timnya mendaur ulang biji barley yang sudah digiling dan mengubahnya menjadi tepung dengan cara dikeringkan, digiling, disaring kemudian dikemas. Hasilnya adalah apa yang disebut “Super Flour(Tepung Super)” yang berwarna coklat muda atau lebih tua. Warna yang lebih muda dihasilkan dari jenis bir IPA, ales dan pilsners sedangkan warna tepung yang lebih coklat berasal dari jenis bir pekat seperti stout dan porter ales.

“Kami menyebutnya Super Flour karena nutrisinya. Jadi jika kita bandingkan dengan tepung serba guna, tepung ini mengandung dua kali lebih banyak protein, 12 kali lebih banyak serat dan sepertiga karbohidrat tepung serba guna,” kata Bertha.

Baca juga   Film Tentang Neil Amstrong "First Man" Susul Venom di Box Office

Pembuat roti, Peter Endriss, membeli Super Flour untuk membuat kue kering. Dia mengatakan ingin membantu mengurangi masalah limbah makanan di Amerika, sembari tetap membuat produk yang lezat.

“Tepung ini memiliki tekstur yang baik. Lebih bercita rasa dibandingkan tepung lainnya. Kita benar-benar merasakan kekenyalan proses pembuatan bir,” kata Peter.

Tapi, cita rasa itu membuatnya mahal. Rise’s Super Flour saat ini harganya sekitar lima kali lipat lebih mahal dari tepung serba guna biasa. Tetapi Jimenez berharap teknologi pembuatan nantinya bisa mengurangi harganya. [my]

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.