Pontipreneur Konsisten Berbagi Ilmu Bisnis, Berkembang Bersama-sama

Pontipreneur Konsisten Berbagi Ilmu Bisnis, Berkembang Bersama-sama

GENCIL NEWS – Di Ibukota Kalimantan Barat, Pontianak, para pengusaha menjamur haus akan ilmu tentang bisnis. Untuk memfasilitasi mereka mencari ilmu bisnis dan mempraktikannya, lahirlah salah satu komunitas bisnis terbesar di Kota Khatulistiwa, bagaimana kiprahnya?

Belajar berbisnis enggak akan berhasil jika hanya mengikuti sebuah kelas, mentoring atau pelatihan beberapa kali saja. Ilmu bisnis akan mengubah keadaan jika pengusaha terus menggali ilmu-ilmu terbaru dan mempraktikannya secara berkesinambungan. Setidaknya, begitulah gagasan awal terbentukan komunitas Pontianak dan Entrepreneur atau biasa disingkat Pontipreneur.

Komunitas pebisnis ini lahir dari obrolan informal dua orang founder-nya – A. Abdurrahman dan Eddy Setyawan, pada empat tahun lalu. “Jadi, dari luar dari Jakarta, Jawa, banyak yang buat kelas bisnis. Tapi kan mentornya paling hanya sehari dua hari di sini, mereka pulang ke tempat asalnya, dan enggak ada kelanjutannya. Akhirnya benisnis di sini seperti anak kehilangan induknya,” Jelas Eddy Setiawan.

“Ilmu yang sudah diberikan, tapi enggak didiskusikan, enggak ada kelanjutannya, dan enggak digunakan, ya enggak bakal ada perubahan apa-apa. Jadi, kita pingin alumni dari kelas-kelas bisnis itu bisa kumpul, bertemu dan sharing ilmu-ilmu itu,” imbuhnya.

Awalnya memang menjadi tak mudah memperkenalkan namanya kendati kini komunitas Pontipreneur sudah dikenal luas, terutama di Pontianak..

Belajar dan berbagi beragam bisnis

Keunikan komunitas ini adalah anggotanya yang punya berbagai macam latar belakang bisnis. Di komunitas ini siapapun yang ingin belajar bisnis apapun bisa saling berbagi. Misalnya, jika ingin belajar berbisnis kuliner, di sini ada banyak anggota komunitas yang bisa diajak berbagi tentang bisnis kuliner. Berbagai macam bisnis, mulai dari yang gerobakan hingga yang besar ada di Pontipreneur.

Selain bisa berbagi ilmu satu sama lain dan mengikuti kopdar yang biasa diadakan sebulan sekali, anggota di komunitas ini juga bisa mengikuti program mentoring yang diadakan setiap 2 bulan sekali. Khusus untuk mentoring berlaku bagi pemegang Mastermind card – kartu anggota Pontipreneur dengan biaya keanggotaan Rp 100.000 pertahun.

Ada pula program workhsop yang diadakan setiap 6 bulan sekali dengan mendatangkan pembicara dari luar Pontianak. Untuk program yang satu ini siapapun bisa ikut dengan membayar biaya peserta yang telah ditentukan.

Pontipreneur tak hanya mengkhususkan bagi para pebisnis, tapi juga mereka yang belum berkecimpung di dunia bisnis, misalnya mahasiswa. Untuk itu komunitas ini juga mengadakan program Pontiprenur goes to campus setap 3 bulan sekali.

“Jadi, kita mau memperkenalkan dunia usaha supaya ketika mereka lulus tidak hanya terpaku pada kerja dengan orang, tapi juga mereka punya pilihan lain untuk mau jadi pengusaha,” jelas Zam, salah seorang pengurus Pontipreneur.

Khusus untuk bulan Ramadhan seperti saat ini, Pontipreneur mengadakan program Ramadhanpreneur di mana komunitas bisa berbagi dengan anak-anak yatim.

Tumbuh dengan tantangan

Seperti komunitas pada umumnya, Pontipreneur berjalan bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangannya menurut Eddy adalah jadwal masing-masing anggota untuk bertemu. “Pontipreneur kan isinya pemilik usaha ya, bos ya. Nah, bos ini kan enggak bisa diatur. Misalnya, kita kumpul, tapi waktunya enggak pas ya hanya sedikit yang datang”, jelasnya.

“Kalau kita mau pindah hari, tapi banyak yang enggak setuju ya kita enggak bisa maksa. Kebanyakan bos, orang independen sehingga kita enggak bisa kayak organisasi pada umumnya  yang pengurusnya lebih dominan. Kita enggak bisa mewajibkan anggota,” imbuhnya.

Namun begitu, dengan komitmen yang kuat dari para anggotanya komunitas yang sudah berjalan 4 tahun ini tetap bisa konsisten dengan program-programnya.

“Awal-awal pembentukan kami, mereka enggak ada yang tertarik. Tapi, ada yang bilang sudah mengamati sampai dua tahun dan mereka menyatakan ternyata Pontipreneur bagus, menarik dan bermanfaat akhirnya mereka mau gabung. Itu adalah kebanggaan saya bahwa ternyata kita bisa bermanfaat untuk semua dan menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan komunitas ini,” ungkap Eddy.

Senada dengan Eddy, Zam juga mengakui bahwa memperkenalkan komunitasnya tidaklah mudah.  “Yang pasti membuat mengenal itu sebuah tantangan. Di awal-awal kita kopdar paling 10 orang. Di tahun kedua ketiga bisalah 100 orang,” ungkapnya. Memasuki tahun keempat kiprahnya, komunitas ini sudah punya sekitar 130 anggota aktif dan program-program yang berjalan secara reguler.

Semua upaya dilakukan pengurus untuk memperkenalkan komunitasnya, termasuk menggunakan media sosial seperti Facebook. Konten yang menarik menjadi amunisi untuk menarik perhatian. Yang tak kalah powerful menurut Eddy adalah dengan mengundang mentor dari luar Pontianak untuk datang ke kopdar ketika kebetulan mereka ada event di kota ini.

Menggapai mimpi besar

Bagi Eddy mimpinya untuk komunitas ini adalah bisa eksis hingga ke anak cucu dan bermanfaat bagi banyak orang. “Pontipreneur ini bisa jadi wadah untuk saling sharing dan bekerja sama. Kalau kerja sendiri mungkin hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tapi dengan komunitas kita bisa bermanfaat untuk banyak orang,” ungkapnya.

Senada dengan Eddy, Zam berharap mereka yang bergabung di komunitas ini bisnisnya bisa berkembang dengan mempraktikkan ilmu yang didapat. “Misalkan, dulu gerobakan karena gabung di sini berbagi, kemudian bisa jadi punya tempat yang lebih besar,” ungkapnya.

Mimpi yang juga tak kalah besar yaitu dengan adanya komunitas Pontipreneur, anak-anak muda di Pontianak tak lagi bergantung pada lowongan pekerjaan, tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.

………………..

Artikel ini telah dimuat dan diterbitkan di Majalah Kawasan, PONTIANAKINFO edisi Juli 2017. Ditulis seperti naskah aslinya tidak ada penambahan maupun pengurangan.