BI Fokus Stabilitas Ekonomi

GENCILNEWS – Bank Indonesia Perwakilan Kalbar dalam pernyataan resminya menyebut, kebijakan mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan, serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik.

Bank Indonesia memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang ditempuh sebelumnya, tetap memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik.

“Ke depan, Bank Indonesia tetap fokus menjaga stabilitas perekonomian, yang menjadi landasan utama bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan,” jelas Agusman Direktur Eksekutif Bank Indonesia Pusat.

BI mengingatkan, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, baik yang bersumber dari eksternal, seperti peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global dan kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah negara, maupun dari dalam negeri terkait kenaikan inflasi.

Untuk itu, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung, khususnya dengan memitigasi peningkatan risiko jangka pendek.

Bank Indonesia juga semakin memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah guna menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan serta penguatan pelaksanaan reformasi struktural.

Diprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini bakal meningkat, meski ada beberapa resiko yang perlu dicermatai. Peningkatan pertumbuhan ekonomi global, bersumber dari perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang terus berlanjut.

Di negara maju, pertumbuhan ekonomi AS pada 2018 diprakirakan lebih tinggi ditopang oleh investasi dan konsumsi yang menguat, seiring dampak stimulus fiskal. Kenaikan suku bunga FFR sebesar 25 bps pada 21 Maret 2018 sesuai dengan perkiraan Bank Indonesia.

Ke depan, Bank Indonesia juga memperkirakan proses normalisasi kebijakan moneter AS, akan berlanjut dengan suku bunga FFR yang akan kembali meningkat. Sementara itu, ekonomi Eropa diperkirakan tumbuh lebih baik, didukung oleh perbaikan ekspor dan konsumsi serta kebijakan moneter yang akomodatif.

Di negara berkembang, Ekonomi Tiongkok bakal tetap tumbuh tinggi didorong oleh kenaikan konsumsi di tengah perlambatan investasi, khususnya real estate, seiring proses rebalancing ekonomi.

Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik, akan meningkatkan volume perdagangan dunia yang berdampak pada tetap kuatnya harga komoditas global, termasuk minyak, pada 2018.

Namun begitu, ada sejumlah risiko perekonomian global yang tetap perlu diwaspadai. Pertumbuhan ekonomi AS yang lebih tinggi dapat mendorong kemungkinan kenaikan FFR yang lebih cepat dari perkiraan semula.

Sementara kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah Negara, berpotensi menimbulkan retaliasi dari negara lain, yang dapat menurunkan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.(all)