GENCIL.NEWS Sepuluh tahun setelah Federasi Sepak Bola Vietnam mencapai kesepakatan dengan klub sepak bola Inggris papan atas, Arsenal FC dan membuka Akademi Hoang Anh Gia Lai, tim Vietnam melesat dari posisi bontot yang tak diperhitungkan, ke posisi kedua dalam turnamen Piala Asia U-23. Vietnam kalah secara memilukan di final turnamen itu dari Uzbekistan.

Dua hari setelah pertandingan 27 Januari itu di Changzhou, China, yang diliputi dengan salju, Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam (CAC) mengenakan denda terhadap Vietjet sebesar 44 juta Dong Vietnam atau sekitar $2.000, karena hiburan selama penerbangan yang membawa pulang tim sepak bola Vietnam itu, termasuk pertunjukan perempuan-perempuan berbikini.

Baca juga   Investasi Jangka Panjang Menyulap Limbah Menjadi Listrik

Para perempuan itu tampil di media sosial, begitu pula para pesepak bola muda itu. Vietnam yang secara tradisional adalah masyarakat sederhana, tidak senang akan hal itu. Kebanyakan orang menilai para pesepak bola yang mengenakan seragam warna merah dan kuning negara ketika bertanding, adalah wakil negara mereka di laga internasional.

CEO VietJet Air, Nguyen Thi Phuong Thao.

CEO VietJet Air, Nguyen Thi Phuong Thao.

Ketika mengeluarkan denda atas pertunjukkan bikini, CAC mengatakan walaupun pertunjukan itu tidak membahayakan keselamatan penerbangan VietJet, namun tetap saja ada “potensi ancaman keselamatan.”

“Menurut saya, alasan itu sangat tidak meyakinkan,” kata Vo Van Tao, pengusaha papan atas Vietnam kepada VOA Bahasa Vietnam. “Keselamatan tidak ada hubungannya dengan pertunjukan dan para model berbikini.”

Baca juga   11 Olahraga Ekstrim Yang Wajib Dicoba

Nguyen Thi Phuong Thao, CEO VietJet dan miliarder Vietnam pertama memohon maaf atas kejadian itu dan mengatakan pertunjukan selama penerbangan terjadi spontan dan tidak termasuk program pemberian hadiah.

CAC bergeming dan tetap mendenda seorang eksekutif VietJet dan pramugari senilai 4 juta Dong Vietnam ($176) karena ‘lalai memberitahu kapten” mengenai insiden itu. [ps/jm/fw]