GENCILNEWS – Berita bohong, akun palsu, dan survei abal-abal ramai dibicarakan, terutama menjelang pilkada, pileg atau pilpres. Facebook dan Twitter pun turun tangan memblokir akun-akun palsu penebar hoaks, meski peneliti menyatakan aktor di balik hoaks kadang selangkah lebih maju menyiasati pemblokiran.

Berita palsu dan hoax merajalela di Amerika terutama sejak Pilpres 2016. Amerika tidak memiliki perangkat hukum seperti UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) di Indonesia untuk menjerat pembuat dan penyebar hoax atau berita palsu. Lantas bagaimana upaya untuk menghadapi berita palsu dan hoax?