Pelajar di Mojokerto Retas Situs Dengan Handphone

Pelajar di Mojokerto, Jawa Timur meretas situs Pengadilan Negeri Unaaha. Unaaha adalah daerah di provinsi Sulawesi Tenggara.

SMK, JBKE (16) alias Mr.4lone ditangkap karena mengubah tampilan depan atau defacing situs Pengadilan Negeri Unaaha, dan itu dilakukannya  melalui handphone miliknya.

Pelajar di Mojokerto, Jawa Timur meretas situs Pengadilan Negeri Unaaha. Unaaha adalah daerah di provinsi Sulawesi Tenggara. foto : courtesy

Defacing adalah merupakan bagian dari kegiatan hacking web atau program application, yang menfokuskan target operasi pada perubahan tampilan dan konfigurasi fisik dari web atau program aplikasi tanpa melalui source code program tersebut.

Sedangkan deface itu sendiri adalah hasil akhir dari kegiatan cracking. Tekniknya adalah dengan membaca source codenya, terus mengganti image dan editing html tag.

Serangan dengan tujuan utama merubah tampilah sebuah website, baik halaman utama maupun halaman lain terkait dengannya, diistilahkan sebagai “Web Defacement”.

Baca juga   Digital Marketing adalah Kunci Sukses Bisnis

Hal ini biasa dilakukan oleh para “attacker” atau penyerang karena merasa tidak puas atau tidak suka kepada individu, kelompok, atau entitas tertentu sehingga website yang terkait dengannya menjadi sasaran utama.

Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto mengatakan, JBKE ditangkap pada Kamis (18/10) sekitar pukul 13.30 WIB. Ia melakukan defacing situs http://jdih1.pn-unaaha.go.id/ pada 7 Juli 2018 dengan menggunakan metode com_fabrik.

Selain situs PN Unaaha tersebut, Pelajar tersebut juga telah melakukan defacing terhadap 100 situs lainnya.

Arief mengatakan, aktivitas defacing yang dilakukan JBKE melanggar sejumlah pasal dalam Undang-undang Telekomunikasi dan Undang-undang ITE.
“Kami akan lakukan pemeriksaan lanjutan terhadap pelaku dan melakukan pemeriksaan mendalam pada alat komunikasi dan device tersangka untuk memetakan jaringan defacer.
Kami juga akan berkoordinasi dengan Badan Pemasyrakatan Anak Surabaya untuk permohonan dalam proses diversi,” tutup Arief.(gnr)