Perempuan Di Afghanistan Lawan Opium Lewat Game

GENCILNEWS – Inilah cara generasi pertama para ahli kode komputer atau coder perempuan Afghanistan menjelaskan kemampuan mereka sebagai pembuat game atau permainan setelah mengunggah lebih dari 20 permainan ke toko-toko aplikasi digital tahun ini.

Lebih dari 20 perempuan di Kota Herat telah berhasil menjadi ahli komputer, membuat aplikasi dan situs web, selain melacak bugs atau kesalahan pada kode komputer.

Coder bisa bekerja dari rumah dan ini proses para perempuan membangun jalur karir baru untuk mereka dan generasi berikutnya,” kata Hasib Rasa, manajer proyek Code to Inspire, yang mengajari coding untuk para siswi di Herat.

Salah satu game yang didesain oleh tim yang seluruh anggotanya perempuan, menarik perhatian para pengembang dan penggemar games. Game tersebut menggambarkan bencana akibat pertanian opium dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh pasukan keamanan Afghanistan saat mencoba memberantas opium.

Game 2 Dimensi “Berantas Opium” menggambarkan misi tentara Afghanistan untuk menghancurkan ladang-ladang opium, memberantas gembong narkoba dan membantu para petani beralih menanam rempah safron.

Afghanistan dikenal sebagai sumber opium terbesar di dunia. Namun negara itu juga menanam safron, rempah paling mahal di dunia. Pemerintah setempat sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan Safron sebagai tanaman alternatif untuk menghentikan para petani menanam opium yang merupakan bahan dasar heroin.

Meski sudah ada pelarangan, produksi opium Afghanistan mencapai rekor pada 2017, dengan naik 87 persen dibanding 2016, menurut studi PBB.

Khatira Mohammadi, seorang siswi yang membantu mengembangkan game antiopium, mengatakan dia ingin menunjukkan kerumitan masalah narkoba di negaranya dengan cara sederhana.

“Kami mengilustrasikan masalah utama negara kami melalui game,” kata Mohammadi.

Di lembaga tersebut, lebih dari 90 perempuan Afghanistan dilatih sebagai pengembang perangkat lunak komputer dan coder. Kedua profesi itu masih dianggap tidak cocok untuk perempuan oleh masyarakat Afghanistan yang konservatif.

Kursus yang diberikan lembaga tersebut menyasar perempuan berusia 15-25 tahun, yang tidak bisa mengikuti program sekolah empat tahun karena tidak memiliki dana atau berasal dari keluarga yang tidak membolehkan anak perempuan bersekolah di sekolah yang menggabungkan siswa laki-laki dan perempuan.

“Di Afghanistan, bisa bekerja dari jarak jauh adalah kunci untuk mendorong kesetaraan,” kata Rasa. [ft/au]