Trudeau, Bicara tentang Teknologi di Pertemuan di MIT

GENCILNEWS – Para ilmuwan komputer Kanada membantu pionir di bidang kecerdasan buatan sebelum bidang tersebut menjadi pembicaraan ramai, dan kini Perdana Menteri Justin Trudeau berharap untuk mewujudkan kepemimpinan intelektual mereka.

Trudeau bertindak menjadi semacam promotir bagi ambis ekonomi teknologi Kanada, secara akurat menjelaskan dasar-dasar dari machine learning seraya mempromosikan rencana nasional yang ia katakan akan “mengamankan pijakan Kanada dalam bidang penelitian dan pelatihan Kecerdasan Buatan.”

“Kalangan raksasa teknologi telah menyimak, dan membuka kantor-kantor mereka di Kanada, mempekerjakan para pakar Kanada, dan menginvestasikan waktu dan uang ke berbagai aplikasi yang dapat bersifat sama transformatifnya dengan internet itu sendiri,” tulis Trudeau dalam sebuah editorial yang dipublikasikan pekan ini di Boston Globe.

Trudeau telah mempromosikan pesan itu di berbagai kesempatan dan kemungkinan akan menekankannya kembali hari Jumat saat ia berbicara dalam sebuah pertemuan di antara para wirausaha bidang teknologi di Massachusetts Institute of Technology.

Kunjungannya ke kampus MIT menjadi tajuk berita dalam pertemuan tahunan inisiatif Solve di sekolah itu, yang menghubungkan kalangan inovator dengan berbagai sumberdaya di kalangan swasta, perusahaan, dan akademik untuk membantu mereka mengatasi berbagai permasalahan di dunia ini.

Trudeau bukan satu-satunya kepala negara yang berbicara mengenai Kecerdasan Buatan – Presiden Perancis, Emmanuel Macron dan Presiden China, Xi Jinping, adalah sebagian di antaranya – namun pendekatannya yang mendalam telah menarik perhatian berbagai perusahaan teknologi AS dibandingkan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump yang “terlambat mulai” dalam menunjukkan minatnya, ujar Erik Brynjolfsson, seorang profesor di MIT yang mengarahkan Inisiatif di bidang Ekonomi Digital di sekolah itu.

“Kecerdasan Buatan adalah teknologi terpenting dalam satu atau dua dekade berikut,” ujar Brynjolfsson, yang hadir dalam pertemuan puncak pertama mengenai Kecerdasan Buatan yang pertama kalinya di Gedung Putih pekan lalu. “Bidang ini secara menyeluruh akan mengubah ekonomi dan masyarakat kita dalam berbagai cara. Adalah suat kesalahan besar bagi para pemimpin negara untuk mengabaikannya.”

Facebook, Google, Microsoft, Uber dan Samsung semuanya telah membuka sejumlah pusat riset Kecerdasan Buatan di Montreal, Toronto, dan Edmonton, yang tertarik sebagian besar karena penelitian akademik yang telah berjalan beberapa dekade terkait algoritma “deep learning” yang membantu membuka jalan terciptanya berbagai teknologi yang telah dapat kita rasakan saat ini seperti asisten digital berbasis suara, teknologi swakemudi, dan layanan photo tagging yang mengenali wajah teman anda.

Reputasi Kanada sebagai tempat yang menyambut kehadiran para imigran juga salah satu hal yang membantu, selain entusiasme Trudeau dalam bidang ekonomi Kecerdasan Buatan, ujar Brynjolfsson.

“Saat seorang pemimpin nasional mengatakan Kecerdasan Buatan jadi prioritas, saya rasa anda akan mendapatkan kaum muda yang kreatif dan cerdas yang akan menganggap arah kebijakan pemerintah secara serius,” ujarnya.

Kecerdasan Buatan adalah sebuah “jalan singkat yang mudah dan dapat dikenali” menuju ekonomi digital yang diharapkan Trudeau dapat dibina lebih lanjut, ujar Luke Stark, seorang sosiolog Kanada dari Dartmouth College yang mempelajari riwayat dan filosofi teknologi.

Sebagai seorang mantan guru sekolah, Trudeau “cukup pintar untuk mengetahui kapan harus belajar sesuatu sehingga ia dapat mendiskusikannya secara cerdas dalam cara yang dapat mengedukasi orang-orang,” ujar Stark.

Stark mengatakan hal itu memungkinkan Trudeau untuk “meletakkan berbagai elemen yang kurang memiliki unsur teknologi dan kekinian menjadi prioritas yang tidak terlalu penting dalam ekonomi Kanada,” seperti pengeboran minyak dan gas.

Kunjungan itu terjadi di antara pembicaraan yang terjadi di antara Kanada, AS, dan Meksiko menyangkut apakah Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) perlu diperbaharui.

Para perunding saat ini telah melewati tengat waktu informal hari Kamis yang ditentukan oleh Ketua DPR AS, Paul Ryan, yang mengisyaratkan kemungkinan pembicaraan tersebut akan mengalami perpanjangan hingga tahun 2019. [ww]