Ayat Suci Alqur’an Berkumandang di titik 0 derajat

Ayat Suci Alqur'an Berkumandang di titik 0 derajat
Ayat Suci Alqur’an Berkumandang di titik 0 derajat

Gubernur Kalbar H Sutarmidji berharap dalam satu minggu ke depan, lantunan ayat suci Al Qur’an bisa berkumandang di titik 0 derajat Bumi  Khatulistiwa melalui kegiatan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional ke XXV yang mulai dibuka, Sabtu (29/6).

“Selama satu minggu ke depan, kita akan melantunkan ayat suci Alqur’an di titik 0 derajat di lintang utara dan lintang selatan bumi Khatulistiwa ini. Saya harap, dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an di titik 0 derajat bumi ini, kita bisa diberikan kemudahan untuk menggali rahasia Al-Qur’an dalam menggali ilmu pengatuhuan dan teknologi, khususnya di bumi Kalimantan Barat,” kata H Sutarmidji saat memberikan sambutan pada kegiatan pembukaan STQ Nasional ke XXV di Pontianak.

Menurutnya, pastinya banyak kajian ilmu pengetahuan yang harus kita gali di titik 0 derajat lintang utara dan lintang selatan bumi ini. Seperti kenapa di Tugu Khatulistiwa orang bisa dengan mudah mendirikan telur, kenapa lidah buaya bisa tumbuh subur disekitar kawasan tugu khatulistiwa, kenapa bayangan kita pada siang hari bisa hilang di tugu khatulistiwa ini, itu semua tentu perlu kajian yang mendalam dan jika kita kaji, sebenarnya semua itu sudah ada dalam Al Qur’an.

“Makanya, pada kegiatan ini, kita mendirikan mimbar tilawah pada titik 0 derajat tersebut agar ini memberikan kesan tersendiri bagi seluruh peserta selama kegiatan ini,” tuturnya.

Dikatakannya, Pemprov Kalbar sebagai tuan rumah juga ingin dilantunkannya ayat suci Al Qur’an di sepanjang Sungai Kapuas, dimana Sungai Kapuas ini merupakan yang terpanjang di Indonesia dan ini mungkin tidak ada ditempat lain dan dilakukan pada kegiatan serupa di daerah lain.

Baca juga   7 Anak Para Terduga Teroris Jalani Rehabilitasi

“Dipilihnya lokasi alun-alun Kapuas sebagai lokasi utama karena kita ingin masyarakat bisa beramai-ramai menyaksikannya,” katanya.

Sutarmidji menambahkan, ditetapkannya Kalbar sebagai tuan rumah kegiatan STQ Nasional ke XXV, sekitar tujuh bulan yang lalu, namun kita berupaya mempersiapkannya semaksimal mungkin. 

Kegiatan ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh gererasi muda agar menjadi generasi Qurani.

“Selama lima tahun ini kita ingin mencetak 5000 hafiz yang nantinya akan ditempatkan di masjid-masijid agar lantunanan ayat Alquran ini bisa dilantunkan di setiap masjid dan Alquran melekat di hati kita,” kata Sutarmidji.

Sementata itu, Ketua Umum STQ XXV tahun 2019, Syarif Kamaruzaman mengatakan, pada kegiatan STQ Nasional tahun ini diikuti sebanyak 543 peserta dengan jumlah keseluruhan kontingen sebanyak 1786 orang.

Dirinya bersyukur karena dari proses penyambutan kontingen, hingga malam pembukaan ini, semua peserta dan kontingen yang ada dapat difasilitasi dengan baik.

“Kami harap semua peserta yang ada bisa mempersiapkan diri semaksimal mungkin, agar bisa memberikan yang terbaik dalam kegiatan ini,” katanya.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin berharap, STQ tidak sekedar menjadi even perlombaan, tapi sarana mencintai Al-quran dan memahami pesan-pesannya untuk kemajuan bangsa. 

Baca juga   Christine Lagarde Puji Kekayaan Warisan Budaya Indonesia

“Deretan prestasi tentu membanggakan, namun prestasi di bidang Alquran tidak boleh berhenti hanya pada kemampuan membaca, tapi harus mampu mengimplementasikan dan mengamalkan kandungannya dalam bentuk produk-produk peradaban dan ilmu pengetahuan,” tegas Lukman Hakim Saifuddin saat membuka STQ XXV tingkat Nasional tahun 2019 di Pontianak, Kalbar. 

Dikatakanya, Indonesia adalah negara muslim di dunia yang paling sering menyelenggarakan musabaqah Alquran. Musabaqah digelar secara rutin, mulai tingkat desa sampai nasional. Ini menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap kitab suci Al-Qur’an.

Menag berharap,  kecintaan itu berdampak pada tumbuhnya semangat agar ajaran dan nilai-nilai Alquran dapat diajarkan kepada generasi muda sehingga akhlak sehari-hari mereka sebagaimana yang diajarkan Alquran.

“Rasulullah mengingatkan, suatu saat Al-Qur’an tinggal tulisannya saja, karena dijadikan sebatas perhiasan atau mahar dalam perkawinan. Jikapun dibaca, itu hanya untuk kepentingan perlombaan semata, untuk meraih prestise saja,” sambungnya mengingatkan.  

Menag mengapresiasi pemerintah daerah dan masyarakat Kalimantan Barat, selaku tuan rumah.  Dia menilai kegiatan ini sangat unik karena melibatkan unsur budaya dan kearifan lokal seperti karnaval, pameran hasil industri kecil seminar dekorasi artistik daerah dan lain sebagainya. 

“Ada dialektika antara nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai budaya sehingga nampak lah watak Islam rahmatan lil alamin. Inilah yang membedakan antara corak Islam di Indonesia dengan di negara-negara muslim dalam bahasa budaya,” tandasnya. 

Penulis : Gencil News
Editor : Gencil News
Sumber : Gencil News