Mengenal Potensi Budaya Kota Khatulistiwa, Pontianak
Connect with us

Kota Pontianak

Mengenal Potensi Budaya Kota Khatulistiwa, Pontianak

Published

on

Mengenal Potensi Budaya Kota Khatulistiwa, Pontianak
Mengenal Potensi Budaya Kota

Pernah berkunjung ke Kota Pontianak? Anda pasti akan terpesona oleh kebhinekaan dari Kota Pontianak.

GENCIL NEWS -Kota yang lebih terkenal dengan sebutan kota Khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa tepat diatasnya, mempunyai perpaduan budaya unik dikarenakan kota Pontianak didiami beberapa suku.

Ada Suku Dayak, Melayu dan Tionghua, Suku Jawa, Suku Bugis, Suku Sunda , Suku Batak, dan Suku Banjar

Pontianak mempunyai potensi budaya yang sangat unik. Masing masing penduduk asli di Pontianak memberikan corak ragam budaya yang menyebabkan Pontianak menjadi kota yang kaya akan nilai budaya.

Ini menjadikan kota Pontianak mempunyai potensi budaya yang mampu menarik para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke kota Pontianak.

Berikut ini adalah Potensi budaya Pontianak yang sangat kaya akan keanekaragaman:

Bahasa


Sebagian besar penduduk kota Pontianak menggunakan bahasa Indonesia, akan tetapi sebagai bahasa sehari-sehari digunakan bahasa Melayu. Ada beberapa bahasa induk juga yang menjadi ciri khas kota Pontianak, Bahasa Melayu, Bahasa Tiociu, Bahasa Khek, Bahasa Dayak, Bahasa Kanayath, Dayak Bukit, dayak Saloko, Dayak Kantu, Dayak Iban, Dayak Jangkang.

Agama

Mayoritas di Pontianak adalah Islam. Selebihnya konghucu, kristen, budha.

Senjata tradisional

adalah Mandau, Keris, Tumbak, Sumpit, Duhut, Isoubacau, Parang, Lunjut atau sejenis Tumbak untuk berburu.

Pakaian Adat di Pontianak

adalah Pakaian adat Dayak dan Pakaian Adat Melayu. Pakaian adat Dayak yang disebut dengan King Baba untu lelaki dan King Bibige untuk perempuan, pakaian Adat Dayak ini terbuat dari kayu yang dilunakkan kemudian diproses menjadi kain. Untuk Pakaian Adat Melayu adalah Telok Belangak untuk Laki laki dan Kurong untuk Perempuan.

Rumah adat

Rumah Adat Betang dan Rumah adat Radakng. Merupakan rumah panggung yang berdiri diatas panggung sekitar 3 sampai dengan 5 meter dan panjang 150 meter. Terdiri dari bilik bilik yang dihuni beberapa kepala keluarga.

Tari Tradisional

Tari Tradisionalnya yang dimiliki kota Pontianak sangat beragam dan banyak. Ini sangat mempengaruhi corak budaya Pontianak. Tari-tari tersebut diantaranya adalah:

Tari Monang atau Tari penyembuhan. Sesuai dengan namanya Tari ini bertujuan untuk mememinta kesembuhan maupun menangkal penyakit.

Tari Gantar adalah Tarian yang gerakannya seperti menanam Padi. Para penari menari sambil membawa tongkat yang merupakan lambang untuk menumbuk Padi. Tarian ini biasanya digunakan untuk menyambut tamu kehormatan.

Tari Kancet Ledo atau Tari Gong, tarian ini menceritakan kelembutan seorang wanita yang menari diatas gong dengan penuh kelembutan dan mampu menjaga keseimbangan.

Tari Kancet Papatai/Tari Perang adalah tarian yang memperlihatan kegesitan dan kelincahan suku dayak berperang melawan musuhnya. Para penari menggunakan pakaian adat Dayak Kenya, dengan mebawa senjata khas mereka juga.

Tari Kancet Lasan adalah tari yang menggambarkan kehidupan burung enggang, burung yang oleh Suku Dayak Kenyah sangat diagungkan karena melambangkan kepahlawanan.

Tari Leleng merupakan Tari Adat Dayak menceritakan seorang Gadis yang dipaksa menikah kemudia melarikan diri ke Hutan.

Dengan kekayaan budaya Kota Pontianak. Membuat Pontianak mempunyai potensi budaya yang mampu menarik para wisatawan untuk berkunjung.

Akan tetapi potensi budaya ini tidak akan berkembang dan menarik bila tidak dikemas dalam suatu kemasan yang menarik.

Untuk itu dibuat beberapa Event budaya di Kota Khatulistiwa yang dibuat untuk menarik wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan asing berkunjung ke kota Pontianak.

Event Event tersebut diantaranya adalah :


Gawai Dayak atau Naik Bango


Gawai Dayak adalah pesta adat yang sudah dilakukan sejak tahun 1986. Merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan di Pontianak oleh suku Dayak dan suku Iban.

Upacara yang dilakukan di Rumah Betang, rumah adat suku Dayak, dilakukan biasanya setiap tanggal 25 mei, sejak diresmikannya rumah adat Radakng, pesta adat ini dipindahkan ke Rumah Adat Radakng dengan alasan lebih luas, upacara ini dilakukan dengan tujuan mengucapkan syukur dan terima kasih kepada dewa atas kesehatan dan panen yang melimpah.

Ditandai dengan seorang penyairmembacakan mantra untuk persembahan. Kemudianpenyair akan melumuri semua persembahan dengan darah merah ayam jantan.

Persembahan itu sendiri biasanya terdiri beraneka makanan yang dipersembahkan untuk dewa padi sebagai ucapan terima kasih atas hasil panen yang melimpah. Bila ritual ini selesai maka upacara Gawai Dayak secara resmi dibuka.

Ritual selanjutnya adalah dengan memasang sebatang pokok atau yang biasa dikenal dengan sebutan Ranyai ditengah rumah panjang dan dan dihias dengan aneka makanan.

Selanjutnya ada tradisi ngabang yaitu tradisi mengunjungi sanak keluarga dan para tetangga. Pada saat itu orang akan memakai pakaian adat dan perhiasan manik- manik.

Para perawan Iban juga akan menggunakan perhiasan perak. Pesta adat ini akan ditutup dengan diturunkannya Pokok Ranyai.


Biasanya sebelum pesta adat ini untuk mengemasnya menjadi salah satu potensi budaya di Pontianak. Pemerintah kotanya mengadakan berbagai macam pertunjukan.

Ada parade karnaval mengelilingi kota Pontianak dengan aneka kendaraan hias. Ada juga kegiatan seni budaya seperti perlombaan permainan tradisional Dayak seperti lomba menyumpit, pangkak gasing, lomba tangkap babi dan ada juga lomba lukis tato.

Selain itu ada juga pameran kerajinan dan kuliner khas Pontianak. Acara yang dikemas secara menarik mampu membuat para wisatawan berkunjung ke Pontianak

Festival Meriam Karbit atau Keriang Bandong


Jika Anda berkunjung ke Pontianak menjelang Hari Raya Idul Fitri, ada festival unik di Pontianak yang sayang untuk dilewatkan.

Festival Meriam Karbit. Diadakan di Pinggiran sungai Kapuas dari dua sisi saling berhadapan dan saling membunyikan meriam karbit saling bersahutan.

Tradisi ini mempunyai sejarah tersendiri. Pada waktu itu Sultan Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri, beliau adalah pendiri Kota Pontianak dan merupakan Sultan pertama Kesultanan Pontianak berusaha mengusir para kuntilanak yang mengganggu saat pembangunan kota Pontianak.

Selain itu juga untuk mengusir para perompak yang mengganggu. Sultan memerintahkan untuk menembakkan meriam ke arah daratan. Festival meriam karbit dibuat untuk memperingati peristiwa tersebut. Atraksi ini sangat menarik untuk dinikmati jika berkunjung ke Pontianak.

Festival Budaya Bumi Khatulistiwa


Salah satu daya tarik dari kota Pontianak adalah dilewati garis khatulistiwa. Sehingga ada peristiwa saat dimana matahari berada tepat diatas kepala kita sehingga semua benda yang berada di bawahnya tidak mempunyai bayangan.

Ini disebut titik Kulminasi. Untuk menarik wisatawan berkunjung ke Pontianak pemerintah membuat Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. Festival ini digelar di berbagai lokasi yaitu Taman Alun Alun Sungai Kapuas, Istana Kadriah, Museum Pontianak.

Diikuti sekitar 10 kabupaten di Kalimantan Barat dengan 3 etnis terbesar yaitu Dayak, Melayu, Tionghoa. Masing-masing menampilkan seni budaya khas yang sangat menarik. Festival dilakukan biasanya selama 10 hari.

Carnaval Arakan Pengantin


Dalam rangka memperingati hari jadi Kota Pontianak. Untuk memeriahkannnya Pemerintah Kota Pontianak mengadakan Festival Arakan Pengantin.

Ini merupakan upaya untuk melestarikan kebudayaan Melayu. Pada dasarnya festival arakan Pengantin ini adalah tujuan untuk mengantar mempelai pria ke mempelai perempuan.

Biasanya mempelai laki laki menggunakan Pakaian Adat Telok Belanga sedangkan mempelai Perempuan menggunakan Baju Kurung.

Arakan arakan ini juga diikutio oleh orang tua kedua mempelai. Juga para pengiring pengantin sambil membawa barang barang hantaran berupa antara lain, jebah berisi sirih, pinang, kapur, tembakau, gambir dan bunga rampai.

Selain itu hantarannya juga dihiasi dengan Pokok Telok yaitu pohon pohon kecil yang dihiasi dengan telor dan hiasan warna warni.

Ada Juga Pokok Manggar yang tangkainya terbuat dari lidi dan dibungkus dengan kertas warna warni yang ditancapkan pada buah buahan yang sudah ditancap dengan kayu. Pokok Manggar ini nantinya akan ditancapkan di halaman mempelai perempuan.

Festival Arakan Pengantin ini menjadi meriah karena diiringi oleh musik Tar dan Tanjidor. Festival Arakan Pengantin ini merupakan salah satu festival yang menarik dan sayang untuk dilewatkan.

Festival Cap Go Meh atau Barongsai


Diselenggarakan oleh masyarakat Tionghua 15 hari setelah hari raya Imlek. Serangkain acara digelar untuk memeriahkan festival ini.

Ada Pesta rakyat, Lomba Karoke Mandarin, Prosesi Ritual Naga Buka Mata, Karnaval Kostum Cap Gomeh, Pawai Lampion, Pawai Kendaraan Hias, ada marching band menambah kemeriahan Pesta cap Go meh. Pesta ini menjadi meriah karena hampir semua warga keturunan Tionghua yang di perantauan pulang untuk merayakannya. Hal ini menjadi tontonan menarik bagi wisatawan.

Event event Budaya tersebut diatas merupakan event budaya yang sangat menarik untuk ditonton. Kita bisa melihat kekayaan budaya Kota Pontianak yang terdiri dari berbagai etnis tapi mampu hidup berdampingan sehingga melahirkan budaya yang memperkaya Budaya Nusantara.

Nah yuuk kita tinggal memilih festival mana yang ingin kita tonton. Kita tinggal menyesuaikan waktunya saja.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kota Pontianak

Bukit Rel Akan Jadi Destinasi Wisata Baru Di Pontianak

Published

on

By

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono bersama anggota Rumah Komunitas Pontianak (Rumpon) jelajahi Bukit Rel

Gencil News – Menjejakkan kaki ke Bukit Rel di Kelurahan Batu Layang Kecamatan Pontianak Utara, seperti mematahkan ingatan soal Kota Pontianak: hingar bingar, tanah datar dan permukaan 0,1-1,5 meter di atas permukaan laut. Tempat ini cocok untuk mendaki, merasakan sejuk pohon-pohon tinggi.

Bukit Rel memiliki ketinggian kurang lebih 40 meter. Dulunya, ada dua bukit. Bekas kerukan batu dan tanah Belanda ketika membangun kota. Hingga kini, tinggal satu bukit berdiri dengan sisa-sisa peninggalan seperti rel dan reruntuhan bekas bangunan pemecah batu.

Di puncak, juga terdapat pantak atau lokasi ritual adat Dayak. Keberagaman juga tampak lantaran kawasan itu dihuni berbagai suku. Cocok untuk pengembangan wisata berbasis alam dan budaya.

Lokasinya cukup mudah dijangkau. Dari pusat kota, berjarak 30 menit ke jalan utama yakni Jalan Panca Bakti, samping Kantor Lurah Batu Layang. Dari tepi jalan besar, masuk tiga kilometer ke dalam.

Dengan bersepeda, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono bersama anggota Rumah Komunitas Pontianak (Rumpon) menuju Bukit Rel yang memiliki nilai histori bagi kota berjuluk Khatulistiwa ini.

Rumpon yang menggagas kegiatan bersepeda ini mengambil tema bertajuk ‘Bersih Wisata Bukit Rel’. Dalam rangka kolaborasi penggiat komunitas bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak. 

Edi menyambut baik gagasan menjadikan Bukit Rel sebagai kawasan wisata baru di Pontianak. Dengan potensi Bukit Rel ini Edi menilai sebagai destinasi alternatif yang bisa masyarakat kunjungi. Tahun ini juga, Pemkot Pontianak akan memulai pembangunan jembatan termasuk jalan menuju Bukit Rel.

Perbaikan Pembangunan Bukit Rel

“Kita akan mulai untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya. Mungkin dalam dua tahun akan rampung,” ujarnya saat berada di atas Bukit Rel, Sabtu (16/1/2021).

Ia menambahkan, Pemkot Pontianak akan menjadikan kawasan Bukit Rel dengan lingkungan yang tetap asri beserta hutan lindungnya sehingga masyarakat sekitar bisa memanfaatkan potensi yang ada untuk kesejahteraan.

Tak kalah pentingnya bagaimana menjaga lingkungan untuk kelestarian alam bagi anak cucu ke depan.

“Saya yakin kawasan ini menjadi potensi wisata, termasuk wisata religi yang ada di Bukit Rel,” kata Edi.

Juliansyah, Ketua Rumpon mengatakan, tidak sedikit masyarakat yang belum mengetahui keberadaan Bukit Rel ini. Oleh sebab itu, melalui kegiatan funbike ini, ia berharap Bukit Rel mulai terkenal bagi kalangan masyarakat.

Bukit Rel Destinasi Wisata Baru

“Tujuan kita melaksanakan kegiatan ini untuk membantu memperkenalkan Bukit Rel sebagai destinasi wisata baru di Pontianak,” tuturnya.

Selaku penggiat komunitas, Juliansyah mengapresiasi kepedulian Pemkot Pontianak untuk mengembangkan kawasan Bukit Rel sebagai tempat wisata baru di Pontianak. Selain itu, ada juga komunitas sepeda yang berencana membuat trek sepeda di kawasan ini.

“Mudah-mudahan penggiat komunitas dan masyarakat sekitar Bukit Rel saling bersinergi dan bahu membahu untuk membuka kawasan wisata di Bukit Rel ini,” ucapnya

Continue Reading

Kota Pontianak

Sebanyak 102 Tenaga Kesehatan Di Pontianak Sudah Disuntik Vaksin

Published

on

By

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu

Gencil News – Jumlah tenaga kesehatan (nakes) Kota Pontianak yang terdaftar untuk menjalani vaksinasi Covid-19 tercatat sebanyak 134 orang. Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu menerangkan, jumlah tersebut berdasarkan laporan per tanggal 14 Januari 2021.

“Dari jumlah tersebut, yang hadir sebanyak 132 orang dan yang memenuhi kriteria untuk divaksin sebanyak 102 orang nakes,” jelasnya, Sabtu (16/1/2021).

Sementara itu, sebanyak 18 orang lainnya terpaksa harus menunda penyuntikan vaksinnya terlebih dahulu. Dan 12 orang tidak memenuhi kriteria untuk divaksin. Khusus ke-18 nakes yang tertunda vaksinasinya, harus melakukan registrasi ulang kembali.

“Kalau kontra indikasinya belum tertangani, berarti yang bersangkutan belum bisa melakukan suntik vaksin,” terang Sidiq.

Ia melanjutkan, ke-12 orang nakes yang tidak layak imunisasi vaksin karena memiliki penyakit komorbid. Hal itu teridentifikasi saat nakes menjalani proses screening sebelum menjalani vaksin.

“Jumlah fasilitas kesehatan yang sebelumnya sebanyak 36 faskes, ditambah lagi satu faskes sehingga total keseluruhan berjumlah 37 faskes,” tutupnya

Continue Reading

Kota Pontianak

Edi Kamtono Doakan Syekh Ali Jaber dan Korban Sriwijaya Air

Published

on

Edi Kamtono Doakan Syekh Ali Jaber dan Korban Sriwijaya Air

Gencil News –Jamaah Masjid Raya Mujahidin melaksanakan salat ghoib berjamaah usai salat Jumat. Salat ghoib ini ditujukan bagi almarhum Syekh Ali Jaber dan korban musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute penerbangan Jakarta-Pontianak.

“Semoga almarhum husnul khatimah dan segala kebaikannya diterima Allah, SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujar Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono usai melaksanakan salat ghoib bersama jamaah Masjid Raya Mujahidin, Jumat (15/1/2021).

Sebelumnya, selaku Ketua DMI Kota Pontianak, dirinya telah mengimbau seluruh masjid se-Kota Pontianak untuk melaksanakan salat ghoib usai pelaksanaan salat Jumat. Imbauan itu disampaikannya melalui media sosial maupu media massa.

“Alhamdulillah semuanya melaksanakan salat ghoib sebagaimana imbauan yang disampaikan,” ucap Edi yang juga menjabat sebagai Wali Kota Pontianak.

Pelaksanaan salat gaib, lanjutnya, bisa dilakukan masyarakat kapanpun. Artinya, tidak hanya pada saat usai pelaksanaan salat Jum’at saja. Inti dari salat ghoib ini untuk mengingatkan setiap manusia pada kematian.

“Jadi tidak ada salahnya kita memberikan sedekah kepada siapapun, baik doa maupun kebaikan,” tuturnya.

Terkait proses pencarian dan identifikasi para korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182, ia menuturkan bahwa sudah ada beberapa warga Kota Pontianak yang teridentifikasi. Dirinya berharap proses identifikasi bisa berlangsung cepat sehingga memberikan kepastian bagi keluarga korban.

“Pemerintah Kota Pontianak memfasilitasi pengurusan dokumen-dokumen misalnya akte kematian dan surat-surat lainnya yang diperlukan,” pungkasnya.

Continue Reading

TRENDING