Wagub: Ahli Gizi Harus Mau Bertugas di Pelosok Kalbar

Wagub Ria Norsan  Ahli Gizi Harus Mau Bertugas di Pelosok Kalbar
Wagub Ria Norsan Ahli Gizi Harus Mau Bertugas di Pelosok Kalbar

Wagub: Ahli Gizi Harus Mau Bertugas di Pelosok Kalbar – Masalah gizi merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi kehidupan manusia, kekurangan gizi selain dapat menimbulkan masalah kesehatan juga menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa.

Indikator kemajuan pembangunan suatu daerah diukur berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Human Depelopment Index (HDI) yang terdiri dari tingkat pendidikan, derajat kesehatan dan kemampuan ekonomi.

Oleh karenanya pembangunan bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi harus dibangun dengan selaras agar dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara optimal, kata Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan saat menjadi keynote speaker sekaligus membuka Seminar Nasional dalam rangka peringatan hari gizi nasional ke-59 Kalimantan Barat tahun 2019, di  grand mahkota hotel Pontianak, Sabtu (26/01).

Lebih jauh Ria Norsan menjelaskan bahwa peningkatan derajat kesehatan salah satunya dapat dilakukan dengan peningkatan sumber daya manusia melalui perbikan gizi secara tepat dan terus menerus.

Indonesia berupaya melakukan percepatan perbaikan gizi secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi.karena status gizi masyarakat merupakan salah satu penentu keberhasilan untuk memperoleh SDM yang berkualitas dimasa mendatang.

Sementara saat ini mwnurut Wagub, masalah gizi yang terjadi seperti stunting (pendek)dan kekurangan gizi mikro lainnya masih tinggi, sedangkan masalah gizi lebih (obeisitas)  mulai banyak ditemukan, dan ini adalah yang disebut dengan masalah gizi ganda.

Baca juga   Kabulog Kalbar: Kalbar Miliki 600Ton Beras, Warga Tak Perlu Khawatir

Maalah lain yang juga memperberat adalah rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif  6 bulan, dimana Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya 37 persen bayi usia 6 bulan memperoleh ASI eksklusif.

Dikatakannya pula bahwa beban ganda masalah gizi terjadi setidaknya seperempat dari semua negara berpenghasilan rendah dan menengah menanggun beban terbesar karena kurangnya kapasitas untukmengatasi masalah beban ganda tersebut berkonotasi pada situasi kompleks.

Dimana kerawanan pangan, kekurangan asupan gizi yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah sedikit, (defisiensi mikronutrien) gizi kurang dan penyakit infeksi, serta kelebihan berat badan, obesitas dan penyakit tidak menular banyak terjadi berdampingan di Negara, masyarakat dan rumah tangga dan bahkan pada individu yang sama.

Menurut WHO masalah utama yang menyebabkan permasalahan gizi terjadi adalah karena kemiskinan, pendidikan masyarakat yang rendah, ketersediaan pangan yang tidak memadai, dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan,.

Kemampuan keluarga sangat menentukan kebiasaan pola makan dan kebiasaan hidup sehat dalam keluarga tersebut, selain itu kondisi daerah berkaitan dengan rendahnya kemampuan kerjaserta ketersediaan pangan di pasar.

Sedangkan penyebab yang mendasar dari terjadinya gangguan masalah gizi kondisi politik dan ekonomi di suatu Negara yang terganggu, karena kebijakan ekonomi dan politik.

Baca juga   Hadiri HUT Kota Pontianak Ke-247, Hal ini yang Diharapkan Sutarmidji

Sangat berpengaruh terhadap program gizi, dimana kondisi Negara yang tidak stabil membuat harga-harga barang naik dan daya beli masyarakat menurun dan pemerintah tidak dapat memberikan bantuan secara maksimal, akibat terganggunya kondisi keuangan.

Di Kalbar menurut Wagub terjadinya masalah gizi buruk diakibatkan oleh beberapa hal antara lain kurangnya pengetahuan ibu terhadap pola asuh anak, geografis Kalbar yang begitu luas, sulitnya akses pelayanan kesehatan di berbagai daerah Kabupaten/Kota di Kalbar, kurangnya cakupan akses air bersih dan sanitasi lingkungan, jumlah dan jenis tenaga kesehatan  di daerah yang minim, sehingga salah satu prioritas dalam rencana kerja pemerintah Pro Kalbar tahun 2019 adalah penanganan masalah gizi buruk dan stunting.

Wagub berharap, agar para ahli gizi melalui Persagi  , dapat mendukung program pemerintah Prov  Kalbar, Persagi dapat mengedukasi tentang gizi kepada masyarakat terutama untuk Ibu dan Anak dan proaktif terhadap permasalahan gizi masyarakat Kalbar.

Persagi dapat menciptakan menu yang sehat dan seimbang dengan bahan yang murah dan mudah didapat namun berkualitas dengan penyajian yang menarik dan dapat mensosialisasikannya kepada masyarakat.

Dan diharapkan pula ahli gizi mau bertugas  pada daerah-daerah terpencil, terutama pada daerah yang mengalami gizi buruk, agar pengetahuan masyarakat terhadap gizi lebih meningkat dan penanganan masalah gizi cepat teratasi.

Penulis : Gencil News
Editor : Gencil News
Sumber : Gencil News