Connect with us

Bisnis

Cerita Pemilik Kedai Kopi Asal Indonesia Yang Terdampak Pandemi dan Protes di AS

Published

on

Tidak hanya terdampak penutupan akibat pandemi COVID-19, belum lama ini kedai kopi milik warga Indonesia, Vivit Kavi, di Washington, D.C. terkena imbas kerusuhan akibat protes besar-besaran terkait tewarsnya warga kulit hitam, George Floyd.

Demonstrasi besar-besaran terkait tewasnya warga kulit hitam, George Floyd saat dalam penahanan polisi masih terus berlangsung di berbagai negara bagian dan ibu kota Washington, D.C. di Amerika Serikat.

Demonstrasi yang berawal damai ini, beberapa waktu lalu sempat beralih menjadi kerusuhan, vandalisme, bahkan penjarahan, termasuk di pusat kota Washington, D.C., yang dilakukan oleh sekelompok orang.

Dampak kerusuhan akibat demonstrasi ini ikut dirasakan oleh Vivit Kavi, salah seorang pemilik kedai kopi, Dua Coffee, yang menjual specialty coffee dari Indonesia dan beberapa negara lain, yang lokasinya hanya beberapa blok dari gedung putih, tempat berlangsungnya demonstrasi di Washington, D.C.

Vivit mengaku mengetahui kedainya terdampak kerusuhan melalui berita di salah satu stasiun TV di Amerika di pagi hari.

“Langsung lutut lemes banget,” cerita Vivit Kavi kepada VOA.

“Kita langsung melihat di salah satu stasiun TV berita di Amerika itu di zoom, di zoom banget gambarnya, persis di toko kami. Kaca kami pecah dan kaca kami itu ukurannya itu kurang lebih 8 dan 9 feet (red: 2,4 – 2,7 meter), dan itu cukup bahkan untuk seorang pemain basket untuk melewati itu. Dan itu kami udah deg-degan banget kenapa karena itu banyak mesin kopi yang menjadi, bisa dibilang jantung sebuah coffee shop,” tambahnya.

Saat melihat rekaman CCTV, ia mendengar ada “hentakan sangat keras” sekitar pukul 12:30 dini hari. Ia pun bergegas menuju ke kedai kopinya untuk memeriksa. Dengan hati-hati, dia menyusuri daerah kedainya, mengamati toko-toko yang hancur dan bahkan sampai dijarah. Salah satunya sebuah kedai es krim yang tak jauh dari kedainya.

“Itu sudah hancur total. Semua kaca, ada tiga panel pecah semua dan dipecahin sama skuter. Dijarah habis,” ujarnya saat mengingat kembali pengamatannnya waktu itu.

Namun, Dua Coffee bercerita lain. Dinding kacanya ternyata tidak sepenuhnya hancur, karena terlindungi oleh lapisan kaca ke-2 “yang tetap masih berdiri kokoh, tidak runtuh sama sekali.”

“Alhamdulillah, loh kok bisa ada lubang gede, tapi aman semua. Rapih semuanya seperti saat sedia kala kita tinggalkan beberapa jam sebelumnya,” jelasnya sambil bersyukur.

Kedai kopi yang baru beroperasi selama enam bulan ini memang sedang tutup sejak awal Maret lalu, di saat bisnis dan perkantoran di sekitar kedainya mulai tutup akibat pandemi Covid-19.

Namun, satu hari sebelum kejadian, akhirnya mereka buka kembali untuk pertama kalinya selama beberapa jam, hanya untuk melayani pesan antar dan bawa pulang.

“Kita enggak nyangka animonya luar biasa. Di hari pertama kita buka itu enggak nyangka penuh terus. Jadi kita sayang aja, pengin bisa serve customer kami,” katanya.

Di hari tersebut, Vivit menjadi salah satu saksi yang melihat kehadiran para pengunjuk rasa yang bagaikan “lautan manusia,” hanya sekitar satu blok dari kedainya, pukul 4 sore. Protes pun terus berlanjut hingga hingga larut malam, yang berakhir dengan pembakaran, perusakan, dan penjarahan.

Tahap pertama yang Vivit lakukan setelah mengecek kondisi kedainya adalah menghubungi pihak asuransi dan pemilik gedung untuk melaporkan insiden tersebut. Seorang polisi pun lalu menganjurkannya untuk menelpon pusat bantuan darurat 911.

“Terus saya bingung, 911 kenapa nelponnya sekarang?” ujarnya.

Vivit Kavi saat melaporkan kejadian kepada polisi di Washington, D.C. (Dok: Vivit Kavi)
Vivit Kavi saat melaporkan kejadian kepada polisi di Washington, D.C. (Dok: Vivit Kavi)

Setelah dijelaskan, ternyata hal ini bertujuan agar mereka bisa mendaftarkan insiden ini, untuk mendapatkan nomor laporan yang bisa diakses oleh berbagai pihak yang membutuhkan. Salah satunya pihak asuransi yang nantinya akan memberikan penggantian sepenuhnya atas biaya yang dikeluarkan, untuk memperbaiki kedainya.

“Langsung ada police officer datang khusus karena saya telah menelpon 911. Lalu dia melihat (dan) setelah melihat damage (red: kerusakan), dia langsung membuat catatan dan memberikan kami nomor. Dia bilang, nomor ini bisa kamu pakai untuk klaim apa pun yang berhubungan dengan destruction due to vandalism gitu destruction due to riot (red: perusakan akibat vandalisme dan kerusuhan),” jelasnya.

Tidak hanya polisi, namun detektif juga ikut datang untuk menanyakan kronologis kejadian yang menimpa kedainya.

Dukungan “Luar Biasa” Datang Dari Berbagai Penjuru Pasca Insiden

Berbagai dukungan terhadap Dua Coffee pun membanjiri media sosial. Dukungan yang menurut Vivit sungguh “luar biasa” ini datang dari berbagai penjuru, mulai dari WNI di berbagai negara bagian, juga yang tinggal di Indonesia, hingga pihak pemerintah yang menawarkan bala bantuan.

Asih Schaff (kiri) dan Diana Dunham (kanan), pelanggan Dua Coffee di Washington, D.C. (dok: Asih Schaff)
Asih Schaff (kiri) dan Diana Dunham (kanan), pelanggan Dua Coffee di Washington, D.C. (dok: Asih Schaff)

Para pelanggan setia kedai kopi ini pun ikut merasa khawatir dan prihatin atas kejadian ini.

“Kaget dan prihatin saya. Apalagi karena baru aja buka lagi. Terus saya (berpikir), kapan kejadiannya, seberapa parah, ada yg hilang atau rusak enggak equipment atau barang-barang di dalam. Most important, apakah ada pekerja atau customer Dua yg injured,” ujar Asih Schaff, salah seorang pelanggan setia asal Indonesia yang bekerja tak jauh dari kedai Dua Coffee.

“Aku dengar berita tentang Dua Coffee, dan sedih karena mereka baru saja buka, re-opening hari kedua. Tapi aku bersyukur enggak ada korban,” ujar Diandra Soemardi, kandidat PhD bidang Kimia asal Indonesia di University of Maryland di negara bagian Maryland, AS.

Telepon Vivit pun juga terus berdering dan dipenuhi oleh pesan singkat yang turut menyemangatinya. Beberapa warga setempat bahkan menawarkan untuk menggalang dana, untuk membetulkan kaca dinding kedainya.

“Di tengah-tengah musibah seperti ini, itu justru menjadi pemicu orang-orang untuk, Masya Allah berbuat baiknya lebih dari yang kita sangka,” kata Vivit yang mengaku sangat terharu atas dukungan yang ia terima di masa sulit ini.

Yang juga membuatnya terharu adalah ketika ada seorang warga lokal Amerika datang membawa kantong sampah, sapu kecil dan pengki, untuk membantu membersihkan serpihan kaca di depan kedainya.

“(Katanya), ini hanyalah hal kecil yang bisa saya lakukan untuk berterima kasih kepada kamu. (Saya bilang) Untuk apa? (Katanya), karena kamu telah menghadirkan kebahagiaan di komunitas kami. Kamu memberikan cahaya dalam kehidupan kami,” kenang Vivit dengan penuh haru.

“Saya kalau ingat, saya pengin nangis banget gitu. Orangnya baik banget. Namanya James. Terus saya bilang, Ya Allah, dengan kejadian seperti ini kok orang baik tuh muncul di mana-mana gitu,” tambahnya.

Dinding kaca Dua Coffee tengah ditutup kardus sebagai pelindung (dok: Vivit Kavi)
Dinding kaca Dua Coffee tengah ditutup kardus sebagai pelindung (dok: Vivit Kavi)

Setelah kejadian ini, Vivit mengatakan tidak berniat untuk mengusut pelaku perusakan kedainya.

“Dua Coffee itu dibangun dari energi yang sangat positif. Kami tidak mau mencemarkan energi positif tersebut hanya untuk menuntut atau mengusut siapa pun yang membuat kerusakan di bahkan beberapa menit dalam selama enam bulan kami beroperasi. Jadi lebih baik tenaga itu kami curahkan atau kita alihkan ke hal yang lebih positif, seperti membalas segala kebaikan dari hati customer kami.”

Berjuang Untuk Bangkit di Tengah Pandemi COVID-19

Bukan hanya musibah perusakan kaca kedainya yang harus Vivit pikirkan, karena ia juga masih harus berjuang untuk membangkitkan bisnisnya di tengah pandemi Covid-19. Dampak pandemi ini sangat dirasakan oleh para pemilik usaha kecil atau usaha yang memiliki jumlah pegawai kurang dari 500 orang di Amerika Serikat.

Berdasarkan hasil survey National Small Business Association yang mewakili 65 ribu pemilik usaha kecil di Amerika Serikat, 92 persen pemilik usaha kecil merasa khawatir akan dampak ekonomi pandemi ini terhadap bisnis mereka. Delapan puluh persen bahkan mengatakan telah mengalami penurunan jumlah pelanggan sebanyak 49 persen sejak Maret lalu.

Diandra Soemardi, kandidat PhD bidang kimia di University of Maryland, AS (dok: Diandra Soemardi)
Diandra Soemardi, kandidat PhD bidang kimia di University of Maryland, AS (dok: Diandra Soemardi)

SATGAS COVID-19 Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat atau PERMIAS di tingkat Nasional ikut ambil bagian dalam membantu para pebisnis asal Indonesia di Amerika Serikat yang terdampak pandemi, dengan merilis daftar restoran dan kafe yang milik warga Indonesia, di seluruh Amerika Serikat, melalui situsnya. Dua Coffee ikut tercantum di dalamnya.

“Tujuan kita untuk promote dan mengajak teman-teman untuk support bisnis-bisnis dari diaspora Indonesia yang terdampak pandemi COVID,” jelas Diandra Soemardi, yang juga adalah Koordinator Bidang Pengumpulan Data dan Penjangkauan Anggota untuk SATGAS COVID-19 Permias Nasional.

“Kita masih bisa support small local business, kok. Aku sendiri jadi rajin beli coffee beans dari Dua,” tambah Diandra kepada VOA.

Sebagai pemilik bisnis, Vivit mengatakan telah mendapat bantuan cuma-cuma “micro grant” dari pemerintah kota Washington, D.C., yang jumlahnya disesuaikan dengan masing-masing bisnis.

“Berbeda-beda jumlahnya, tetapi itu memang bisa dibilang sih cukup untuk menutup operasional aja sih, tapi bukan untuk menutup sewa gedung, membayar gaji karyawan itu belum cukup,” jelas perempuan yang juga berprofesi sebagai presenter dan praktisi komunikasi di Indonesia ini.

Walaupun kedainya tutup, Vivit tetap harus membayar sewa gedung. Namun, situasi pandemi membuatnya memperoleh keringanan dari pemilik gedung.

“Saat saya menjelaskan kondisi kami seperti apa, kita bukan bisnis esensial, terus kita juga tidak bisa take away terus selama ini kita juga, online revenue kita turun 50-70 persen. Dari situ dia baru memberikan keringanan, satu dari segi jumlah per bulannya berkurang, dan dia bilang ya udah segitu aja dulu deh yang kalian mampu bayar, setelah itu kita diskusikan lagi.”

Namun, situasi pandemi seperti sekarang ini tidak membuat Vivit tinggal diam. Ia malah menjadi semakin bersemangat dan terdorong untuk berinovasi dalam menjalankan bisnisnya.

Salah satunya dengan berjualan beragam biji kopi lewat online, mulai dari yang berasal dari Flores dan Jawa Barat, yang telah membawa nama kedainya, hingga ke berbagai negara bagian di Amerika Serikat. Ia juga mengembangkan produknya dengan menjual minuman botol yang bisa dinikmati oleh para pelanggannya di rumah.

“Saya sangat terharu, terkejut, bahagia dengan support (pelanggan) yang luar biasa, ujarnya.

Para pelanggan setianya kerap membesarkan hatinya dan berkata, “kita akan langsung menyerbu kalian pada saat kalian buka.”

“Alhamdulillah, sekarang platform online, platform virtual itu menjadi penyambung dari kehangatan yang selama ini bisa dirasakan di dalam took tapi ternyata alhamdulillah bisa dirasakan melalui medium virtual tersebut,” katanya sambil bersyukur.

Selain itu Vivit berencana untuk mengadakan pertemuan virtual dengan para pelanggannya untuk mengajarkan cara menyeduh kopi di rumah, juga mengadakan tur virtual ke kebun kopi.

“Jadi orang lagi minum West Java Kamojang, mereka juga melihat suasana gunung Puntang seperti apa. Itu tidak akan bisa berlangsung kalau tidak ada covid 19 sehingga semua orang hanya menggunakan atau mengandalkan kehidupan sehari-harinya dengan platform virtual,” jelasnya.

Terkait dengan pandemi dan juga insiden yang terjadi di kedinya, tak lupa Vivit berterima kasih dan mendoakan teman-teman yang sudah mencurahkan perhatian dan dukungan kepadanya.

Harapan Vivit setelah nanti bisa kembali membuka pintu kedainya dan setelah pandemi ini berakhir adalah untuk terus berinovasi demi membahagiakan pelanggannya atau seperti katanya, “to put a smile on their faces everyday,” atau menebar senyum pada wajah mereka.

Seperti kata pelanggan Dua Coffee, Asih Schaff, “Semoga (Dua Coffee) bisa segera buka. Para pelanggan sudah rindu!” [di}

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Bisnis

Presiden Buka Opsi Gabungkan BUMN Pariwisata dan Penerbangan

Published

on

Presiden Buka Opsi Gabungkan BUMN Pariwisata dan Penerbangan
Presiden Jokowi wacanakan opsi penggabungan BUMN Pariwisata dan Penerbangan dalam Rapat Terbatas, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/8) (Setpres RI).

GENCIL NEWS – Presiden Joko Widodo buka opsi untuk menggabungkan BUMN sektor Pariwisata dan Penerbangan. Presiden Joko Widodo melihat sektor pariwisata dan penerbangan merupakan sektor yang terkoreksi paling dalam.

Menurut Presiden  jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke tanah air pada triwulan kedua hanya mencapai 482.000 saja, anjlok 87 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Jokowi mengatakan momentum ini seharusnya bisa dijadikan ajang perbaikan dan transformasi, termasuk merealisasikan opsi membentuk holding dan super holding pada kedua sektor ini.

Holding BUMN pada dasarnya adalah BUMN yang berfungsi sebagai perusahaan induk dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bisnis yang sama.

Perusahaan induk ini memiliki saham di perusahaan-perusahaan yang menjadi anaknya, dan bertanggung jawab meningkatkan kinerja mereka sehingga memiliki nilai pasar. Super holding merupakan gabungan dari holding-holding BUMN itu.

“Juga kemungkinan penggabungan BUMN penerbangan dan pariwisata sehingga arahnya menjadi semakin kelihatan. Sehingga next pandemic, fondasi ekonomi di sektor pariwisata dan transportasi akan semakin kokoh dan semakin baik dan bisa berlari lebih cepat lagi ,” ungkap Jokowi dalam Rapat Terbatas, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/8).

Jumlah Bandara di Indonesia Terlalu Banyak

Dalam kesempatan ini Jokowi juga menyinggung jumlah bandara yang terlalu banyak, dan juga tidak merata. Saat ini, Indonesia memiliki 30 bandara internasional, namun lalu lintas penerbangan hanya terpusat di empat bandara internasional saja.

“Apakah diperlukan sebanyak ini? Negara-negara lain saya kira nggak melakukan ini. Coba dilihat dan sembilan persen lalu lintas terpusat hanya di empat bandara artinya kuncinya ada di empat bandara ini di Soekarno-Hatta di Jakarta, Ngurah Rai di Bali, Juanda di Jawa Timur dan Kualanamu di Sumatera Utara,” jelasnya.

Jokowi mengatakan ke depan pihak terkait harus menentukan bandara internasional mana saja yang berpotensi menjadi internasional hub, yang sesuai dengan fungsi, posisi geografis dan karakteristik wilayahnya.

“Ada delapan bandara internasional yang berpotensi menjadi hub dan superhub. Kembali lagi Ngurah Rai, Soekarno-Hatta, Yogyakarta, Balikpapan, Hasanuddin, Sam Ratulangi dan Juanda di Surabaya,” imbuhnya.

Harus Ada Lompatan Besar di Sektor Pariwisata dan Penerbangan

Agar bisa bertahan, baik sektor pariwisata maupun penerbangan harus melakukan perbaikan besar-besaran.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyebut ekosistem pariwisata dan penerbangan harus didesain dengan manajemen yang lebih terintergrasi. Ia mengatakan, perlu adanya konsolidasi dari hulu sampai ke hilir.

“Mulai dari airline management, bandaranya, manajemen layanan penerbangannya yang tersambung tentu saja dengan manajemen destinasi tersambung dengan manajemen hotel dan perjalanan dan bahkan sampai kepada manajemen dari produk-produk lokal dan industri kreatif yang kita miliki,” jelasnya.

Holding BUMN Pariwisata dan Penerbangan Dinilai Tidak Tepat

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan wacana Jokowi untuk menggabungkan BUMN pariwisata dan penerbangan kurang tepat.

Alvin mengatakan kedua sektor tersebut mempunyai ekosistem dan stakeholder yang berbeda-beda.

“Jadi terlalu sempit kalau hanya melihat aspek pariwisata dengan penerbangan. Dan pariwisata ini tidak hanya penerbangan. Pariwisata ini kan juga banyak, termasuk juga aspek budaya, tradisi, aspek pelestarian alam. Ini kan saya melihat terlalu simplistic kalau menggabungkan antara pariwisata dan penerbangan. Termasuk penerbangan ini kan ada kargo dan sebagainya, yang juga selalu berurusan dengan pariwisata. Dan pariwisata juga tidak hanya penerbangan,” ujar Alvin.

Menurutnya jika ingin menggabungkan kedua sektor tersebut Jokowi haruslah mengkaji opsi itu secara komprehensif. Upaya perbaikan kedua sektor ini, kata Alvin, tidak selalu dengan menggabungkan BUMN.

“Karena BUMN itu kan ada visi, misi, politik dan misi bisnis. Kalau BUMN wisata dicampur dengan penerbangan apa iya cocok? Kemudian misalnya Garuda punya anak perusahaan yang berkaitan dengan pariwisata, ya baik-baik saja, kemudian pariwisata berkembang ada travel agensi ya baik-baik saja, tapi kalau misalnya digabungkan, itu perlu kajian bisnis yang lebih komprehensif lagi,” jelasnya.

Pemerintah Harus Realistis

Lebih jauh, Alvin menilai bahwa pemerintah harus lebih realistis dalam keadaan yang sulit ini. Menurutnya, sektor pariwisata dan penerbangan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa bangkit. Jadi, untuk bisa menggenjot perekonomian tanah air, pemerintah tidak bisa mengandalkan kedua sektor ini dalam kurun waktu yang cukup lama.

Pemerintah, kata Alvin bisa memaksimalkan sektor lain yang tidak terlalu berdampak terhadap pandemi untuk bisa menggerakan perekonomian Tanah Air seperti sektor pelayanan kesehatan dan sektor kebutuhan pangan.

“Apakah realistis dalam kondisi seperti ini, berharap ada pariwisata domestik, ketika sebagian besar masyarakat kita ini masih berperang terhadap Covid-19, menahan diri tidak keluar rumah, bahkan untuk naik pesawat masih khawatir. Fokusnya adalah pada pemulihan daya beli, mereka yang dirumahkan, atau yang mengalami penurunan penghasilan,” jelasnya.

“Sekarang ini fokusnya adalah memulihkan kondisi ekonomi keluarganya dulu. Mood atau suasana kebatinan masyarakat kita ini belum memikirkan pariwisata. Dan kalau kita memang mau menggalakkan wisata kita harus mampu mengatasi kekhawatiran masyarakat tentang kesehatannya bagaimana,” imbuhnya. 

Continue Reading

Bisnis

Restoran Mewah Milik Diaspora Indonesia di Tengah Pandemi di Amerika

Published

on

Restoran Mewah Milik Diaspora Indonesia di Tengah Pandemi di Amerika

GENCIL NEWS – VOA – Imbas pandemi COVID-19 dirasakan lebih keras pada restoran kelas atas yang mengandalkan pelanggan untuk datang dan menikmati sajian mewah.

Dua diaspora Indonesia, pemilik restoran di Amerika, menghadapi imbas tersebut secara berbeda.

Pandemi COVID-19 menghancurkan industri restoran. Padahal, industri tersebut mempekerjakan lebih dari 15 juta karyawan dan diproyeksikan menghasilkan sekitar $899 miliar tahun ini, menurut data National Restaurant Association, asosiasi restoran Amerika.

Yono Purnomo adalah pemilik sekaligus executive chef di Yono’s, restoran kelas atas di Albany, ibukota negara bagian New York.

Ketika negara bagian New York harus menjalani Pembatasan Sosial Berskala Besar, Yono terpaksa menutup restorannya mulai 16 Maret.

“Terus saya pikir, kita mau jadi apa nih? Kita nggak bisa to-go karena kita fine-dining kan? To-go gak lucu.”

Yono, koki lulusan NHI Bandung, kemudian mengubah bisnis restorannya menjadi Feed Albany. Bekerja sama dengan para pemilik restoran lainnya, badan amal itu menyediakan makanan kepada warga yang mebutuhkan.

Dalam sehari, organisasi nirlaba itu bisa menyiapkan sampai 1.500 porsi. Mereka melakukan itu tiga hari seminggu. Dana operasional didapat dari sumbangan yang berdatangan dari berbagai sumber.

Oscar Setiawan, membuka Rickshaw Republic, restoran Indonesia di Chicago, delapan tahun lalu. Ia menanggapi tantangan semasa pandemi ini secara berbeda.

Jumlah pelanggan yang berkurang secara drastis memaksanya menutup restorannya pada awal Juli.

William Wongso, chef dan pakar kuliner Indonesia, mengakui pandemi ini pukulan yang luar biasa keras bagi dunia restoran, dan sangat tidak terduga.

Pandemi tidak banyak memberi peluang kepada pengusaha restoran menggunakan kreatifitas dalam industri kuliner.

“Sekarang ini realita. Bukan soal kreatif. Kalau sudah nggak bisa kemana-mana, kembali kalau urusan makanan, orang akan kembali ke comfort food. Dia akan mau makan makanan yang dia familiar, makanan sehari-hari, bukan makanan fancy.”

Sejauh ini, Yono bertahan dengan “Feed Albany.” Walaupun pasrah, ia tetap optimistis. “Ini usaha kita, dan ini adalah our life. Jadi kita harus berusaha dan berdoa.”

William Wongso mengingatkan, banyak perubahan yang harus diterapkan dalam bisnis restoran kelas atas. Tetapi ia tidak bisa memperkirakan seperti apa situasinya pasca pandemi. “Prinsipnya, ekonomi harus jalan. Risk tetap ada, tinggal persentasinya masing-masing jaga-jaga.”

Tidak bisa dihindari kenyataan bahwa pandemi akan mengubah total cara orang menikmati makanan di restoran. Namun, yang pasti, keinginan orang menyantap bervariasi makanan tanpa harus repot masak sendiri, tidak akan hilang.

Continue Reading

Bisnis

Ongkos Ibadah Umrah Diperkirakan Naik, Pemerintah Tunggu Kepastian

Published

on

Ongkos Ibadah Umrah Diperkirakan Naik, Pemerintah Tunggu Kepastian
Sebagian jemaah haji melakukan Tawaf (mengelilingi Ka'bah) di Mekkah, Arab Saudi (foto: dok). Dalam ibadah haji 28 Juli-2 Agustus kemarin, pemerintah Saudi hanya menerima 1.000 jemaah.

GENCIL NEWS – VOA – Ongkos untuk ibadah Umrah diperkirakan akan naik. Dan asosiasi penyelenggara ibadah umrah meramalkan ongkos ibadah umrah akan naik untuk tahun mendatang.

Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Indonesia (AMPHURI). Joko Asmoro, menyatakan ada 4 skenario umrah di tengah pandemi.

Skenario ini adalah; pertama, umrah terbuka namun dengan protokol kesehatan; kedua, umrah dengan kuota terbatas; ketiga, umrah dengan kuota terbatas per negara; atau keempat, umrah ditunda setahun.

“Empat kemungkinan option ini kita harus siap. Umrohnya sendiri belum tahu kapan,” terangnya Joko Asmoro.

Yang pasti, kata Joko, ongkos umrah diperkirakan naik. Hal ini utamanya terkait kapasitas maskapai penerbangan dan akomodasi yang harus mengikuti protokol kesehatan.

“Kalau maskapai hanya mampu mengangkut 60-70 persen saja, tentunya harga tiket juga akan naik. Mengkondisikan menjadi protokol itu ada penambahan biaya. Yang tadinya kamar berempat bisa bertiga, bagaimana nanti? Saat ini saja haji 1 kamar 1 orang, apakah umrah diperbolehkan berdua?” ungkap Joko.

Sementara itu, tambah Joko, resesi di sejumlah negara juga akan berdampak pada nilai tukar Rupiah. Sehingga ia meminta anggotanya menjual paket umrah yang fleksibel.

“Nggak ada salahnya teman-teman menjual paket umrah tapi dengan kondisi tidak bergantung dengan tanggal. Atau ada ketentuan bahwa nanti ada perubahan dan lain sebagainya,” imbuhnya.

AMPHURI mencatat. Indonesia memiliki 61.519 jemaah umrah yang seharusnya berangkat pada 27 Februari 2020. Namun batal karena COVID-19. Para jemaah ini juga perlu mendapatkan jadwal pengganti.

Indonesia Tunggu Saudi soal Kepastian Umrah

Konsul Haji RI di Jeddah, Dr. Endang Jumali, mengatakan mulai berkomunikasi dengan otoritas Arab Saudi terkait pelaksanaan umrah. Dia meminta berbagai peraturan dan penyesuaian terkait COVID-19 segera diberikan kepada pemerintah Indonesia.

“Paling tidak ada informasi awal. Semalam juga saya sudah kontak-kontak ke bagian teknis di Kementerian Haji (Arab Saudi) untuk bisa kita rapat bersama dalam kaitan umrah ke depan seperti apa,” ungkapnya dalam sebuah diskusi, Senin (3/8) sore.

Endang mengatakan, ibadah umrah akan berpatokan pada ibadah haji yang baru saja digelar dengan menerapkan protokol kesehatan.

Ibadah umrah pada prinsipnya mirip dengan ibadah haji, namun dapat dilaksanakan sepanjang tahun. Sementara haji dilaksanakan pada bulan ke-12 dalam kalender Islam atau bulan Zulhijah.

Dalam ibadah haji yang jatuh pada 28 Juli-2 Agustus kemarin, pemerintah Arab Saudi hanya menerima 1.000 jemaah.

Itu pun orang-orang yang sudah berada di wilayah negara tersebut. Padahal biasanya ibadah haji dapat diikuti 2 juta orang dari seluruh dunia.

Terkait ibadah umrah, Endang menyatakan optimis akan segera dibuka. Apalagi, kata dia, jumlah kasus COVID-19 di Arab Saudi terus turun.

“Per tanggal 25 itu tercatat kasus 2.200 terus menurun sampai kemarin di tanggal 2 Agustus itu 1.357. Jika hal ini terus menunjukkan angka yang positif kan memungkinkan, ketika nanti penerbangan internasional dibuka, umroh juga dibuka,” tambahnya.

Meski begitu, ujarnya, umrah tetap dapat dipengaruhi oleh keadaan COVID-19 di negara asal jemaah. Apalagi kata dia, kasus di Indonesia terus naik.

“Kan tidak menutup kemungkinan pemerintah Arab Saudi juga menysaratkan bagi (negara) pengirim jemaah umroh, syarat-syarat yang sangat ketat,” tandasnya

Maskapai Tunggu Otoritas Berwenang

Andri Bermawi dari Saudi Arabian Airlines mengatakan berencana kembali membuka penerbangan ke Indonesia dengan jadwal terbatas. Pihaknya merencanakan ada 13 jadwal penerbangan selama bulan September. Namun ia masih menunggu keputusan pihak berwenang sebelum membuka kembali jadwal tersebut.

“Jadwal bulan Oktober masih agak lebih banyak. Tapi kami juga masih belum tahu apakah jadwal ini masih tetap dan akan dioperasionalkan,”jelasnya, seraya mengatakan jadwal yang dipersiapkan untuk bulan Agustus tidak jadi dilaksanakan.

Sementara itu, pihaknya mulai mengembalikan uang tiket penerbangan (refund) kepada jemaah asal Indonesia, berdasarkan perintah kantor pusat.

“Alhamdulillah kami bisa menyalurkan refund dari bapak ibu sekalian, meski pun sedikit ada pending atau ada waktu proses, karena maklum banyak sekali,” papar Andri.

Berdasarkan catatan AMPHURI, baru Saudi Airlines yang melakukan pengembalikan atau refund tiket. 

Continue Reading

Kumpulan Resep Masakan Enak

TRENDING