Connect with us

Bisnis

Natasha Skin Care Hadirkan Produk Inovatif

Published

on

Natasha Skin Care Hadirkan Produk Inovatif

GENCIL NEWS – Natasha Skin Care Hadirkan Produk Inovatif. Semburan halus Air Condition menyambut saya saat duduk di sofa  empuk nan nyaman. Duduk di ruang tunggu dengan desain minimalis membawa kesan tersendiri. Kesan rapi, simple terlihat jelas di ruang tunggu tersebut. Cukup luas, tertata, bersih dan sederhana. Dominasi putih, coklat tanah, abu-abu hingga sentuhan pink menambah kesan ramah dan bersahabat. 

Natasha Clinik centre (skin care) yang terletak di Jalan Merdeka Barat nampaknya paham apa yang harus dilakukan dalam memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan setianya.

Natasha skin care merupakan pelopor klinik perawatan kulit yang hadir sejak tahun 2005. Memiliki klinik hampir merata di Indonesia. Di tangan dingin dr. Fredi Setyawan mampu menempatkan Natasha sebagai salah satu brand paling berpengaruh, tak terkecuali di Kota Pontianak. 

Raihan sejumlah penghargaan di tingkat nasional makin menguatkan posisi Natasha sebagai pilihan terbaik untuk perawatan kulit, tubuh dan rambut. Dengan pola customize marketing, dimana setiap pelanggan mendapatkan perlakuan dan pelayanan spesial, Natasha dianggap berhasil dalam menarapkan transparansi kepada pasiennya.  

Saat ini, Natasha tidak hanya menjadi pemain di ranah kulit tapi bisnisnya merambah perawatan tubuh dan rambut, baik untuk remaja, wanita dewasa hingga pria. Lantas apa yang membedakan Natasha dengan klinik perawatan yang sejenis? 

Nah, guna menjawab pertanyaan ini secara tuntas, Supervisor Natasha Skin Care Pontianak, Avenina memaparkan apa sebenarnya ‘rahasia’ sukses bisnis jejaring Natasha skin care.  

Inovasi Produk

Jika di tahun-tahun sebelumnya, inovasi masih terbatas. Namun kini, seiring dengan kemajuan teknologi dan tuntutan pelanggan yang makin beragam, Natasha pun berinovasi dalam setiap sentuhan produk yang dihasilkan. Inovasi yang dilakukan adalah dengan menggunakan bahan-bahan botanical, baik dari ekstrak bunga, buah-buahan, akar hingga bahan-bahan herbal sebagai dasar pembuatan produknya. 

“Sekarang jamannya inovasi, jika tidak, tentu kita akan ketinggalan. Natasha bekerjasama dengan perusahaan pembuat produk farmasi yang sangat berpengalaman. Produk base atau dasar kita semuanya sudah menggunakan bahan-bahan alami sehingga hampir tidak ada efek samping, selain efek kulit cantik dan sehat,” katanya. 

Produk Natasha skin care beragam dan mencapai puluhan produk, baik produk untuk kulit, seperti cream pagi, cream siang, dan cream malam, sunblock, toner, pembersih wajah, hingga serum. Sementara untuk perawatan tubuh, Natasha juga menyediakan lulur, sabun, body scrub, cream leher dan perawatan untuk pria yang kerap beraktifitas di luar rumah. Perawatan rambut juga tersedia dari shampo, kondisioner, serum dan vitamin rambut. 

Natasha juga menarapkan pelayanan One stop service yang mencakup perawatan keseluruhan tubuh. Memanjakan pelanggan menjadi motto Natasha bagaimana memberikan pelayanan dengan inovasi terbaru dan teknologi terkini. 

Selain pemberian produk, perawatan juga banyak diminati, seperti facial, treatment, darmaroller, laser, tanam benang, botox, filler hingga camical botanical. 

Strategi Harga

Menyoal harga menjadi momok menakutkan bagi calon pelanggan. Bagaimana tidak, asumsi-asumsi awal tentang kecantikan di klinik modern adalah ‘mahal’. Membutuhkan anggaran yang tidak sedikit bahkan mampu menguras gaji para ladys sebulan penuh. Namun, untuk di Natasha skin care para ladys tidak perlu khawatir. 

Natasha sangat memahami kultur masyarakat Kota Pontianak yang menginginkan produk berkualitas, layanan prima dengan harga terjangkau. Harga termurah adalah perawatan series remaja dengan budget kisaran Rp 100.000-150.00. Untuk harga satu cream Natasha dari kisaran puluhan hingga ratusan ribu rupiah. 

Sementara perawatan dari harga ratusan hingga jutaan rupiah ditawarkan. Tentu harga yang ada disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan tingkat perawatan yang  dibutuhkan karena tingkat masalah kulit setiap orang berbeda-beda. 

Selain produk yang selalu inovatif, peralatan yang digunakan pun merupakan teknologi terkini dalam dunia kecantikan dan medis. Ditunjang dengan tenaga ahli berpengalaman di bidang estetika, para dokternya juga memiliki jam terbang tinggi dalam dunia kecantikan dan perawatan kulit. Bisa dibilang, Natasha merupakan paduan paket multi lengkap untuk sebuah klinik kecantikan modern dikelasnya. 

“Produk kami salah satu yang terbaik sehingga banyak yang datang hanya membeli produk saja. Sementara untuk treatment, kami juga menjadi salah satu pilihan masyarakat Pontianak karena treatment kami berbeda. Banyak yang mengulang untuk perawatan,” ungkapnya.

Pelanggan adalah raja. Umumnya, service atau pelayanan menjadi harga mati bagi usaha produk, terutama jasa. Pusat kecantikan selain menjual produk juga menjual jasa. Pelayanan bisa dilakukan dengan ketika pelanggan masuk dan mencari informasi yang dibutuhkan, pegawai pun dengan sigap dan ramah melayani setiap keingintahuan calon pelanggan. 

“Tentu di front depan kita tempatkan pegawai yang sudah terlatih, tahu apa yang harus dilakukan ketika calon pelanggan atau pelanggan tetap datang ke sini. Tenaga kita sudah terlatih dengan berbagai pelatihan yang memang selalu intens kita berikan,” kata Avenina. 

Dokter pun mendapat pelatihan dan training dengan banyak mengikuti seminar-seminar kecantikan. Dokter dengan senyum ramah akan mampu memksimalkan jasa pelayanan klinik kecantikan. Belum lagi potongan harga menarik hingga perhatian kecil yang dilakukan untuk para pelanggan setia. Ini yang terus dilakukan dan ditingkatkan Natasha skin care bagaimana memberikan service memuaskan tapa cela.

“Saat ini tantangan usaha klinik kecantikan adalah pelayanan. Pastinya berlomba-lomba dalam memberikan pelayanan maupun pelayanan ekstra kepada pelanggan kita. Natasha juga melakukan yang sama, kita perlakukan pasien sebagai tahu kehormatan, raja karena itu bagian dari layanan utama kita,” ujarnya.  

Saat ini, ada puluhan klinik kecantikan, baik yang sudah ternama maupun skala lokal tumbuh pesat di Kota Pontianak. Berbagai cara pun dilakukan untuk menarik simpati masyarakat salah satunya dengan berbagai fasilitas klinik.

Meskipun klinik kecantikan makin bertumbuh tidak menjadi masalah bagi Natasha mengingat banyaknyaa pesaing bisa menjadi tantangan yang bisa menjadi peluang di masa yang akan datang. Tantangan ke depan bagi Natasha adalah bagaimana memperbaiki kualitas dari tahun ke tahun untuk semakin baik. 

“Bagaimana pun kualitas adalah segalanya selain pelayanan. Antara kualitas dan kuantitas harus beriringan, ini yang terus kita tingkatkan,” ucapnya. 

Sebagai bisnis jasa pelayanan, pola marketing offline sudah mulai ditinggalkan. Kini pemasaran gaya baru, online menjadi pilihan Natasha. Ini mutlak dilakukan untuk makin mendekatkan diri dengan para pelanggan. Natasha sendiri memiliki situs resmi yang dikelola langsung oleh cabang pusat dan sejumlah media sosial pendukungnya.  

Apa kata Pelanggan setia

Pembicaraan saya dan Avenina terus mengalir, meskipun sibuk, supervisor cantik ini masih sempat menyapa ramah para front office di meja depan. Senyum manisnya tak pernah lepas, para pelanggan pun tampak nyaman dengan sosok cantik ini. Terlihat dari obrolan saya dengan beberapa pelanggan yang masih menunggu giliran bertemu dokter. 

“Pelayanan di sini cukup baik. Selain memang sudah berpengalaman, Natasha juga sangat baik dalam memberikan treatment perawataan dan saya cocok. Bertahun-tahun saya di sini dan sejauh ini saya puas untuk pelayanannya,” kata Retno.

Retno mengalami belang hampir di seluruh wajahnya. Belang itu ia dapat saat rutin melakukan kemoterapi akibat penyakit kanker yang menggrogotinya hingga stadium empat. Akibat dari kemoterapi, semua rambut pun rontok, wajah menjadi kusam dan beberapa belang terlihat jelas di wajah putihnya itu. Usai dinyatakan sembuh oleh dokter, ia pun mulai rutin melakukan perawatan di Natasha. 

“Sudah ada perubahan, meskipun lamban tapi saya menikmati setiap prosesnya karena tidak bisa instan, ada tahap-tahap perawatan. Sejauh ini saya mempercayakan penuh masalah kulit saya ke Natasha,” ucap Retno. 

Hari itu, Natasha tampak ramai. Cuaca panas di luar gedung tidak menyurutkan mereka untuk datang. Beberapa pelanggan tidak hanya menunggu konsultasi dokter, ada juga calon pelanggan yang hanya sekedar bertanya tentang jenis perawatan dan produk Natasha untuk kulit mereka.

Tidak semua juga langsung ingin berkonsultasi dokter, ada yang sekedar ingin tahu, mengambil brosur, mengantar istri yang tengah melakukan treatment maupun sekedar singgah untuk melihat Natasha lebih dekat.  

So… tinggal para ladys memilih mana skin care yang sesuai untuk kulit masing-masing. Tentunya produk yang aman, perawatan yang tepat, tempat yang nyaman dan pastinya ladys harga terjangkau dan pas di kantong.  (Wati Susilawati)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Bisnis

E-commerce Ini Khusus Menjual Perlengkapan Untuk Mama dan Si Kecil

Published

on

E-commerce Ini Khusus Menjual Perlengkapan Untuk Mama dan Si Kecil

GENCIL NEWS – Di Indonesia banyak sekali toko online atau e-commerce yang bisa melayani Mama mendapatkan barang-barang yang diinginkan.

Namun rata-rata market place tersebut terlalu umum. Sehingga Mama perlu bersusah payah dahulu untuk menemukan hal yang berkaitan dengan kebutuhan Mama dan anak.

Sebagai Mama yang punya sederet aktivitas menumpuk setiap hari, tentunya berbelanja online bisa memudahkan ketika akan mencari barang dan keperluan lain. Apalagi berkaitan dengan kebutuhan si Kecil.

Kini, untuk mencari berbagai kebutuhan anak dan Mama sendiri sudah tidak pusing lagi. Ternyata ada lho market place khusus peralatan Mama dan anak.

· Peralatan bayi lengkap di Tororo

E-commerce Tororo adalah pusat belanja online serba ada yang menawarkan berbagai produk kebutuhan bayi. Website ini menyediakan produk premium dengan sepuluh kategori dari berbagai merek lokal dan internasional.

Ketika Mama berbelanja di Tororo, bisa memilih dari umur anak, kategori perlengkapan hingga warna lho. Oleh karenanya Mama nggak perlu bingung lagi untuk berbelanja perlengkapan bayi dibandingkan dengan e-commerce umum.

· Berbelanja produk ibu dan anak mudah di ‘Orami

Sebelumnya, online shop ini bernama Bilna. Namun, kini berubah menjadi Orami. Selain menjual kebutuhan Mama dan anak, website ini juga menjual berbagai perlengkapan lain hingga barang kebutuhan rumah. 

Berbagai kategori yang tersedia di website Orami, yaitu:

Kategori ibu, bayi dan anak, Makanan dan minuman, Kebutuhan rumah tangga hingga Perabot rumah dan dapur.

·’KIDZI’ yang menyediakan keperluan Mama dan si Kecil

Kini, mencari kebutuhan si Kecil makin mudah dengan adanya media elektronik seperti e-commerce. Salah satu yang akan hadir untuk memenuhi kebutuhan ibu dan anak adalah KIDZI.

Tak hanya itu, e-commerce ini juga akan menawarkan berbagai produk berkualitas dari berbagai negara diantaranya seperti Amerika Serikat, Australia, China, Rusia, Singapura, dan lainnya.

· Sociolla luncurkan ‘Lilla’ untuk akomodir perawatan kecantikan para Mama

Social Bella dikenal sebagai toko online yang sukses menjangkau pasar kecantikan generasi muda di Indonesia dengan produk yang 100% otentik lewat e-commerce Sociolla. Sekarang, beauty tech ini siap menggarap pasar kecantikan para Mama di Indonesia dengan menghadirkan Lilla by Sociolla.

Co-Founder and CMO Social Bella Chrisanti Indiana mengatakan sebagai beauty-tech company, Social Bella melihat potensi pasar yang masih besar pada bisnis kecantikan untuk para mama dengan pendekatan yang berbeda

Continue Reading

Bisnis

Bebek Boedjang, Rasa untuk Semua Kalangan

Published

on

GENCIL NEWS – Salah satu rumah makan ‘taste’ Jakarta yang ada di Pontianak yaitu Bebek Boedjang. Bebek Boedjang didirikan oleh Lukman yang sekaligus menjadi owner di rumah makan tersebut. Sebelum mendirikan rumah makan Bebek Boedjang, dirinya merintis sebuah usaha warung makan dan bakso.

Menurut Lukman, awal mula dari bisnis yang dijalan dengan nama Bebek Boedjang ini atas saran dari teman. “Kemudian ada teman yang memberikan saran, eh disini belum ada bebek lho, baru ada bebek yang belum lokal, akhirnya saya ambil,” ujar Lukman.

Berawal dari mencoba memulai bisnis dengan membuka warung makan bebek di tahun 2016, Lukman berhasil membuka 5 cabang warung makan bebek di beberapa wilayah di Pontianak. 5 diantaranya yaitu bebek Bejo, Bebek Boedjang dengan 3 cabang dan bebek bale-bale.

“Akhirnya saya ambil bebek, dan hasilnya lumayan dibandingkan dengan warung makan bakso dan mie ayam,” ujarnya.

Bebek Boedjang sendiri sebenarnya di awalnya dengan Bebek Bejo di Jalan Patimura Pontianak, kemudian membuka cabang di namun karena ketika mendaftarkan di “Ketika mau patenin nama bebek Bejo, tapi sudah ada yang daftar, dan kemungkinan yang diterima yang daftar duluan, akhirnya kita cari nama lain, dan akhirnya dapat nama Boedjang,” ujarnya.

Dengan nama Boedjang ini juga memiliki makna, bahwa yang merintis usaha Bebek Boedjang adalah para bujang (pemuda). Dirinya juga mengatakan dengan nama Boedjang ini akan membawa pengaruh positif untuk makin semangat dalam berbisnis. 

“Bebek Boedjang harapannya orang yang semangat, masih mudah masing semangat dan berenergi,” jelasnya.

Dengan 5 cabang yang dimilikinya Lukman mengaku bahwa usahanya ini dikelola sendiri oleh dirinya, namun ada cabang yang bekerja sama dengan investor. Maksudnya, modal yang dikeluarkan untuk usahanya dari dirinya, sedangkan tempat penjualan dari investor.

“Kita kelola sendiri, namun pemodalannya pakai mitra. Kaya di warung bale-bale modalnya dari kita, dan mitranya pemilik toko, sehingga kita tidak perlu bayar tempat sewa,” ujarnya.

Dengan tempat sewa ini, kemudian Lukman merenovasi dan memperbaharuinya, dan segala modal serta manajemen dari dirinya. Untuk pembagian hasil keuntungannya, ketika awal usahanya yaitu 70% untuk pemilik tempat, dan 30% untuk dirinya. Namun ketika modal dari pemilik sewa telah terpenuhi, maka pembagian hasil diganti untuk dirinya 70% dan untuk pemilik tempat 30%.

“Di awal usaha, kita 70% kasih ke investor, dan 30% untuk kita. Namun ketika modal dari investor telah kembali kita yang 70% dan investor 30%,” katanya.

Dan untuk mengembalikan modal awal yang diberikan investor ini, dirinya hanya memerlukan waktu yang sebentar yaitu kisaran bulan. “Beda-beda warung, ada yang 4 bulan ada yang 8 bulan,” ungkapnya.

Selama kerja sama yang dilakukan dengan investor ini, dirinya mengaku tidak pernah mengalami kendala. Bahkan keuntungan dan kerugian bukan menjadi permasalahan. Hal tersebut karena investor yang bekerja sama dengan dirinya baik dan mudah diajak kerja sama.

“Udah sepakat kita usaha bersama jadi ya kita nggak ngitung rugi. Untung yang bersama, rugi yang bersama,” jelasnya.

Untuk kendala yang sering dialaminya, hanya dari karyawan, karena sering terjadi pergantian karyawan yang baru. Namun hal ini terjadi pada karyawan yang baru, sedangkan karyawan yang lama tetap. “Untuk karyawan lama, sudah nyaman jadi tidak mudah ganti. Tapi yang baru sering berganti, misalnya baru seminggu keluar atau baru sehari keluar,” jelasnya.

Dan setelah berkembang dengan 5 cabang, Bebek Boedjang telah memiliki karyawan sekitar 68 orang. Untuk merekrut karyawan, bisanya di sebar melalui media online. Setelah pendaftaran bisanya akan diwawancarai dan kemudian bisa masuk. Dan jika ada yang mendaftar lebih ai yang dibutuhkan maka yang lainnya menjadi cadangan.

“Misalnya kita buka lowongan 2, kita posting di FB, kita wawancara yag kira-kira orangnya bisa kerja sama kita terima, yang lainnya jadi cadangan,” ungkapnya.

Sedangkan dalam hal pengelolaan masakan dirinya tidak menggunakan chef, karena bumbu spesialnya diracik oleh kakaknya sendiri.

“Bumbu ungkep bebek yang menjadi ciri khusus diracik oleh kakak saya sendiri,” kata Lukman.

Bumbu spesial yang dimilikinya ini hanya diketahui oleh beberapa karyawan terpercaya, dan tak semua karyawan mengetahuinya.

“Bumbu hanya diketahui beberapa karyawan terpercaya, berapa takarannya hanya diketahui kakak saya,” katanya.

Untuk harga menunya, Lukman memberikan harga menu pada Bebek Boedjang dengan harga silang, sehingga dapat dijangkau untuk semua kalangan, baik kalangan menengah ke atas maupun menengah ke bawah.

Meskipun begitu, harga setiap menu di beberapa cabang Bebek Boedjang berbeda-beda, namun dengan nama cabang yang sama, harga menunya juga sama. “Yang namanya sama, harganya sama,” ujarnya.

Kelebihan dari Bebek Boedjang adalah masakan yang disajikan memiliki rasa yang enak dan unik, dan bila ada rasa yang kurang enak, maka pengunjung bisa mengembalikan dan menukarkan masakannya kembali. “Biasnya kan bebek memiliki rasa yang amis, bebek tu bau, bebek tu bau, kita beda disini kendala itu kita hilangin, dengan bebeknya empuk, rasanya lebih enak, harganya juga tidak mahal,” katanya. 

Untuk mempromosikan warung makan Bebek Boedjang, Lukman hanya mengandalkan media online yang salah satunya menggunakan Facebook Ads, dan biaya yang dikeluarkan untuk membuat iklan tersebut hanya 500 ribu per bulan. “Kita nggak pakai media promosi lain, misalnya media cetak, televisi, radio, kita tidak pakai itu. Karen pakai media online saja sudah banyak pelanggan,” jelasnya.

Promosi yang dilakukan ini juga hanya beberapa bulan sekali, hanya ketika ada promo khusus. “Misalnya bulan ini ada, promo Boedjang week, jadi selama seminggu kita gratiskan semua sambel,” ujar Lukman.

Dengan perjalanan bisnis yang dilakukan ini, dirinya memberikan tips untuk pebisnis yang ingin mulai bisnis, yaitu jangan takut memulai usaha karena ada banyak usaha yang bisa dilakukan dengan mencari investor. “Jadi jangan takut usaha kalau belum punya modal. Paling tidak kita punya usaha, kita tawarkan konsep. Jadi jangan jadikan modal untuk menjadi kendala dalam melalui usaha,” pungkasnya.

Continue Reading

Bisnis

Bisnis Barang Bekas Yang Mendulang Untung

Published

on

Memakai barang bekas sering dipandang sebelah mata. Namun bisnis barang-barang bekas bermerek atau preloved branded items makin naik daun di Indonesia.

Banyak pria pusing tujuh keliling manakala istrinya menjadi pehobi belanja. Apalagi jika barang yang dibeli adalah barang mewah seperti tas Chanel, Hermès atau Louis Vuitton yang harganya tak jarang membelalakan mata.

Namun, Rina Reynold, 40 tahun, justru mendapatkan dukungan dari sang suami untuk memuaskan hobi belanja barang-barang bermerek itu. Alasannya pasti tidak terbatas barang itu untuk menunjang hobi bergaya atau sekadar retail therapy. Rina dengan mahir mendulang cuan dari hobinya itu.

Jika dia merasa bosan dengan barang koleksinya, Rina menjualnya di akun media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Lama-kelamaan, banyak teman-teman yang menitip barang bekas bermerek untuk dijual oleh Rina. Dari situlah, dia mendapatkan keuntungan.

“Saya beli tas Chanel ini dengan harga Rp40 juta pada 2012. Sekarang, kalau saya jual harganya bisa sampai Rp55 juta. Untung banget, kan?” ujar Rina sambil memperlihatkan tas kecil Chanel medium caviar seri 14, berwarna krem kulit caviar dengan tali rantai berwarna emas.

“Jadi, suami saya sangat mendukung bisnis saya,” kata Rina sambil tergelak ketika ditemui saat mengikuti bazar barang-barang preloved branded, beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Beberapa tahun belakangan, bisnis barang preloved dari merek-merek terkenal makin marak di Indonesia. Berbeda dengan garage sale, barang-barang preloved adalah barang bermerek dan biasanya belum pernah dipakai sama sekali, atau hanya dipakai sekali. Barang-barang ini rata-rata dijual dengan harga di bawah harga barang baru.

Kehadiran barang-barang bekas bermerek tampak menjawab kebutuhan kelas menengah Indonesia akan produk-produk berkualitas dengan harga terjangkau. Menurut data Bank Dunia, saat ini satu dari lima orang Indonesia masuk dalam kelompok kelas menengah atau sekitar 52 juta orang. Mereka berkontribusi sebanyak 43 persen dari total konsumsi rumah tangga.

Kezia Debora, Marketing Partnership Carousell Indonesia, aplikasi online jual-beli barang-barang preloved branded yang berbasis di Singapura, mengatakan pelanggan aplikasi Carousell kebanyakan berusia 18-25 tahun yang baru mulai bekerja dan ingin tampil gaya.

“Membeli barang preloved adalah salah satu cara untuk tampil keren, tanpa harus membayar penuh harga barang bermerek baru,” kata Kezia Debora dalam wawancara melalui telepon. Harga barang-barang preloved bisa lebih murah antara 50-80 persen tergantung merek dan kondisi barang, kata Kezia menambahkan.

Gaya Hidup vs Anggaran

Marisa Tumbuan, pendiri Irresistible Bazaar, bazar barang-barang prelovedbranded, mengatakan bisnis ini makin marak dan lumrah karena menjadi cara pintar menyiasati gaya hidup, baik bagi pembeli maupun penjual.

“Mungkin dulu belum banyak yang menjual atau menjualnya sembunyi-sembunyi karena takut dibilang BU (butuh uang) atau bokek,” kata Marisa yang ditemui di sela-sela bazar beberapa waktu lalu.

“Untuk membeli juga, dulu orang beli diam-diam. Sekarang, beramai-ramai bersama keluarga dan teman-teman,” ujar Marisa.

Seperti halnya Rina Reynold, Marisa juga mendapat dukungan penuh dari sang suami, Aditya Tumbuan, untuk menjalankan hobi yang berkembang menjadi ladang bisnis.

Aditya mengakui sang istri sejak muda memang senang membeli barang-barang bermerek, termasuk karya-karya dari merek tertentu dengan desain orisinal.

Passion yang sangat besar terlihat ketika dia masuk ke dunia ‘preloved sellers,’ kata Aditya melalui pesan singkat.“Dia (Marisa) tidak hanya puas menjadi ‘trusted seller’ dengan pertumbuhan followers yang signifikan, tetapi juga punya keinginan kuat untuk mengembangkan komunitas preloved branded,” ujar Aditya, yang juga ikut menjalankan Irresistible Bazaar.

Promo Media Sosial

Media sosial terbukti menjadi alat promosi yang ampuh untuk mempopulerkan produk-produk preloved branded. Tren mode dan gaya hidup terbaru terus bergulir dengan cepat melalui media sosial. Para penggemar mode pun berusaha mengikuti tren gaya hidup dengan membeli tas, baju, sepatu, atau kosmetik terbaru.

Linkedin dalam survei ‘State of Sales 2016’ mencatat 70 persen dari para penjual profesional menggunakan media sosial, termasuk LinkedIn, Twitter dan Facebook, untuk membantu penjualan produk-produk mereka. Berbagai media sosial tersebut menjadi teknologi promosi penjualan yang paling banyak digunakan.

Tidak ada data nasional mengenai berapa nilai transaksi penjualan barang-barang preloved branded, baik yang dijual online maupun langsung di Indonesia. Namun pertumbuhan bisnis tersebut bisa dilihat dari jumlah pengunjung bazar dan jumlah barang-barang yang dijual online.

Carousell, misalnya, sejak masuk di Indonesia pada 2014, menyediakan hampir 14 juta barang pada platform tersebut dan 75 persen dari barang yang tersedia adalah barang preloved, kata Kezia.

“Kalau kita cari dengan tagar preloved branded di Instagram, akan muncul sekitar 1 juta barang,” ujar Kezia.Fesyen adalah salah satu dari tiga kategori paling populer dengan merek-merek seperti Zara, H&M dan Converse menduduki peringkat atas pencarian pada platform Carousell.

Secara global, Carousell menyediakan total 144 juta barang sejak berdiri pada 2012 dan sudah ada di 6 negara, yaitu Singapura, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Filipina dan Australia.

Sedangkan Irresistible Bazaar, yang rutin mengadakan bazar preloved branded sejak 2015, mencatat kenaikan jumlah pengunjung rata-rata 20-30 persen pada setiap bazar yang digelar sekali dalam empat bulan.

Pada bazar yang diadakan 24-29 April, Irresistible Bazar didatangi 24 ribu pengunjung, naik dari hanya 6 ribu pengunjung pada awal penyelenggaraan di 2015. Jumlah penjual yang meramaikan bazar pun melonjak dari hanya 20 penjual pada 2015, menjadi 76 penjual pada bazar ke-10 yang digelar awal Maret 2018. Bahkan sempat diikuti 101 penjual pada akhir 2017.

Preloved branded items sudah mendunia karena sama kerennya dengan (barang-barang) yang dijual di butik-butik lain,” kata Marisa, yang juga memiliki toko online dan butik offline preloved branded. “Kondisi barang masih bagus dan tidak out of fashion (ketinggalan zaman),” kata Marisa menambahkan

Investasi Preloved Branded

Barang-barang yang diburu oleh pecinta preloved branded tidak terbatas pada barang sehari-hari. Barang-barang desainer dari berbagai label dunia, seperti Chanel, Hermès dan Louis Vuitton juga menjadi incaran para penggemar preloved. Peluang itu juga ditangkap oleh beberapa pebisnis preloved branded menjadi investasi.

Menurut Rina Reynold, harga barang-barang preloved branded terutama tas dari label-label klasik seperti Hermès, Chanel dan Louis Vuitton bisa dijual dengan harga 12-14 persen lebih tinggi dari harga pembelian. Sebagai perbandingan, harga properti meningkat rata-rata kurang dari 4 persen per tahun, menurut data Bank Indonesia.

Barang preloved branded jenis tersebut bisa berharga lebih tinggi tentunya dengan beberapa catatan, antara lain, penjualan kembali sekitar 2-5 tahun lebih ke atas, kata Rina. Selain itu, bila tas preloved branded dari merek klasik dijual pada saat kurs mata uang asing menguat, otomatis harganya pun naik, ujar Rina, yang sudah menggeluti bisnis itu sejak 2010.

Faktor lainya adalah karena barang yang ingin dibeli sudah tidak diproduksi atau harga barang baru masih mahal, papar Rina. Nilai jual barang-barang preloved branded juga bisa masih tinggi bila dirawat dan masih disimpan kelengkapan seperti bon pembelian, kotak, dan kartu garansi, ujarnya.

Namun tak serta merta semua preloved branded mewah bisa jadi investasi.

Rina menjelaskan barang preloved branded mewah yang nilai jualnya tinggi adalah tas-tas yang diproduksi oleh rumah mode yang tidak pernah mendiskon barang-barangnya, misalnya koleksi tas seri Birkin dan Kelly dari Hermès, Chanel dan Louis Vuitton.

Selain itu, barang-barang buatan Eropa juga bernilai jual lebih tinggi dibanding buatan Amerika, kata Rina menambahkan.

“Memakai barang preloved branded ada kepuasan tersendiri. Walau barang seken, tapi asli,” kata Rina.

Continue Reading

Kumpulan Resep Masakan Enak

TRENDING