Connect with us

Published

on

GENCIL NEWS – Warkop menjadi tempat paling asik untuk menikmati secangkir kopi panas bersama dengan rekan atau kolega. Sekarang ini banyak hadir kedai kopi modern yang menyajikan beragam macam menu kopi kekinian yang mulai banyak dilirik oleh para pecinta kopi.

Meski demikian, hal tersebut ternyata tidak membuat Warkop Tanjak turun eksistensinya. Warung kopi yang hanya menyuguhkan kopi asli tersebut ternyata masih memiliki banyak peminat.

Sajian kopi khasnya membuat siapa saja yang datang bisa menikmati kopi lokal dengan rasa yang tidak terlupakan.

Latar Belakang Berdirinya Warkop Tanjak

Kesuksesan yang dimiliki oleh Warkop Tanjak ini memang bukan tanpa sebab. Kopi yang menggambarkan budaya khas Melayu tersebut mulai dibuka pada tahun 2018.

Alasan didirikannya warung kopi ini adalah karena sang pemilik juga gemar minum kopi. Selain itu, trend minum kopi yang semakin booming di tahun 2018 membuatnya semakin berniat untuk membuka warung kopi miliknya.

Meski sempat membuka usaha warung makan, akan tetapi usaha yang dilakukannya tersebut kurang jalan dan butuh modal banyak. Hal inilah yang membuatnya memutuskan untuk membuka Warung Kopi Tanjak.

Tanjak sendiri diambil dari bahasa Melayu yang artinya naik. Harapan pemilik menggunakan nama ini adalah agar usaha yang sedang dijalaninya terus naik terutama dalam hal rezeki.

Yang Membedakan dengan Warkop Lainnya

Rasa yang berbeda

Membuat sebuah kopi yang enak ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menghidangkan secangkir kopi yang lezat, pria 37 tahun tersebut terus melakukan percobaan. Meski pada awalnya kopi yang dibuatnya terasa pahit dan terlalu encer.

Namun, dari situ ia banyak belajar bahwa untuk membuat sebuah kopi yang enak harus menggunakan takaran. Hal ini juga ia pelajari secara otodidak di Youtube. Kopi yang diracik pun sudah disesuaikan dengan lidah orang Pontianak yang suka ngopi.

Dekor Warkop Khas Melayu

Tak hanya menyuguhkan rasa kopi khas Melayu saja, namun pemilik juga mendekor warung kopi miliknya dengan dekor khas Melayu. Hal ini bukan tanpa sebab, agar setiap pengunjung yang datang bisa menikmati kopi khas Melayu dengan ciri khas tersendiri.

Menu yang Belum Terlalu Banyak

Biasanya, kedai kopi yang ada menyediakan berbagai macam menu agar untuk memberikan pilihan yang lebih banyak bagi setiap pelanggan yang datang. Namun, hal ini berbeda dengan Warkop Tanjak. Warkop tersebut hanya menyediakan beberapa menu kopi dan susu milo untuk para pelanggan.

Akan tetapi, menu yang disajikan tersebut bukan sembarang menu. Sebelumnya, pemilik telah meracik dan mengetes menu yang ditawarkannya apakah sudah memiliki rasa yang sesuai di lidah atau belum.

Tidak Menyediakan Jaringan Internet (WiFi)

Cukup aneh bukan? Terlebih di tengah persaingan warung dan kedai kopi yang ada saat ini. Mereka berlomba-lomba menarik pelanggan dengan cara memasang jaringan WiFi. Tetapi, hal tersebut tidak dilakukan oleh Warkop Tanjak.

Mengapa demikian? Hal ini karena pemilik ingin setiap pelanggan yang datang benar-benar menikmati kopi yang dipesannya. Selain menikmati kopi, pelanggan juga bisa ngobrol dengan teman atau pelanggan lainnya agar suasana menjadi lebih hangat.

Pemilik Hampir Kenal Dengan Semua Pelanggannya

Tidak sedikit pelaku usaha yang tidak melakukan cara berbisnis satu ini. Lain halnya dengan pemilik Warkop Tanjak yang justru hampir kenal dengan semua pelanggan yang datang.

Tak jarang jika ia juga sering mengajak ngobrol para pelanggannya. Kedekatan antara pemilik dan pengunjung inilah yang membuat warkop tersebut beda dengan yang lainnya.

Harun Al- Rasyid Pemilik Warkop Tanjak Pontianak

Kedekatan tersebut bisa terjalin dengan mudah karena rata-rata usia pelanggannya adalah 30 tahun. Sebagian besar dari mereka juga merupakan teman pemilik warkop dalam satu komunitas.

Selain itu, kebiasaan para customer yang datang seperti membicarakan tentang politik, pekerjaan, hobi atau kegiatan sehari-harinya juga membuat suasana di Warkop Tanjak menjadi lebih hangat.

Mengenal Kebiasaan Konsumen

Memberikan layanan yang memuaskan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap pemilik usaha kepada customer-nya. Hal inilah yang juga dilakukan oleh pemilik Warkop Tanjak. Bahkan, karyawan yang bekerja di tempat tersebut sudah hafal dengan permintaan pelanggan.

Misal, apakah kopi yang dipesannya harus ditambah banyak susu, harus lebih kental atau sedikit pahit. Ini menjadi trik jitu untuk membuat setiap pelanggan yang datang kembali lagi ke Warkop Tanjak.

Promosi yang Dilakukan Warkop Tanjak Agar Semakin Dikenal Orang

Canggihnya teknologi yang ada membuat warkop tersebut memanfaatkan teknologi yang ada seperti media sosial untuk mempromosikan usahanya. Instagram dan Facebook menjadi media sosial yang dipilih karena kebanyakan orang saat ini menggunakan medsos tersebut untuk berselancar di dunia maya.

Selain itu, Warkop Tanjak juga masih menggunakan promosi dari mulut ke mulut. Oleh karena itu, pelayanan yang diberikan oleh warkop ini kepada para pelanggannya tidak setengah-setengah.

Modal Awal dan Keuntungan yang Didapat

Untuk modal awal yang dikeluarkan oleh pemilik ialah sekitar 15 juta. Modal tersebut digunakan untuk sewa tempat dan membeli berbagai peralatan. Meski modal awal untuk membangun usaha ini hanya belasan juta, namun omset yang didapat bisa mencapai 15 juta per bulan. Tentu hal ini sangat menguntungkan bukan?

Pengalaman dalam Berbisnis Kopi

Meski baru 2 tahun buka, namun pemilik sudah merasakan banyak pengalaman manis pahit dari bisnis yang dijalaninya tersebut, seperti:

Tidak Mudah Mendapatkan Rasa Kopi yang Enak

Untuk mendapatkan rasa kopi yang enak dan sesuai dengan karakter orang Pontianak bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh percobaan yang dilakukan berulang kali agar bisa menghidangkan secangkir kopi yang memiliki rasa khas dan tidak mudah dilupakan oleh setiap pelanggan yang datang.

Tak hanya itu, ternyata kopi yang dibuat dengan menggunakan mesin dengan kopi yang dibuat secara manual memiliki rasa yang berbeda. Untuk kopi yang dibuat dengan menggunakan mesin seperti arabika memiliki rasa yang lebih asam. Sedangkan kopi robusta memiliki rasa yang lebih pahit.

Oleh karena itu, pemilik usaha lebih memilih untuk membuat kopi dengan cara manual karena lebih banyak orang yang menikmati meski konsumennya tertentu saja.

Lokasi Usaha Sangat Menentukan

Tempat yang digunakan untuk membangun sebuah usaha juga sangat menentukan kesuksesan dari usaha itu sendiri. Oleh karenanya, sebelum membuka usaha harus melakukan survei terlebih dahulu.

Ini karena beda daerah beda pula karakter orangnya. Ada orang yang suka ngopi di tempat terbuka, dan ada pula orang yang lebih suka menikmati kopi di tempat yang lebih tertutup.

Menyikapi Penjualan Saat Pandemi

Pandemi Corona Virus yang menyebar luas di Indonesia pada awal Maret 2020 menimbulkan dampak untuk semua orang tak terkecuali para pengusaha. Bahkan untuk mendukung program pemerintah dan mengurangi resiko penularan Covid-19, Warkop Tanjak terpaksa harus menutup usahanya selama 2 bulan penuh.

Meski sempat dibuka kembali, namun para pelanggan yang datang tidak mau membungkus kopi yang dipesannya dan dibawa pula. Karena khawatir akan membuat penyebaran virus semakin luas, pemilik pun terpaksa harus menutup kembali usaha dan mulai membukanya kembali pada bulan Juni setelah lebaran.

Dengan adanya pandemi ini membuat pemilik usaha harus memutar otak agar usaha yang dijalankannya tetap mendapat customer. Beberapa cara pun ia lakukan seperti:

Jualan Online

Cara ini dilakukan dengan mendaftarkan Warkop Tanjak ke Grabfood dan Gofood. Cara tersebut dianggap lebih aman terutama bagi mereka yang masih ingin menikmati kopi khas Warkop Tanjak di masa pandemi seperti sekarang ini.

Mencoba Membuka Inovasi Baru

Pemilik juga sedang mencoba untuk menghadirkan menu baru yang banyak disukai oleh anak muda. Akan tetapi, menu tersebut belum akan diluncurkan sebelum racikan dan rasanya pas.

Mewabahnya Virus Corona di Indonesia memang memiliki dampak yang sangat besar bagi setiap pelaku usaha. Tidak adanya pemasukan selama 2 bulan penuh membuat beberapa perusahaan memutus kontrak kerja dengan beberapa karyawannya.

Akan tetapi, hal ini tidak dilakukan oleh pemilik usaha Warkop Tanjak. Beliau juga meminta pengertian dari para karyawannya agar usaha tersebut tetap bisa berjalan meski dalam masa sulit.

Meski saat ini pemerintah sudah menerapkan New Normal dan beberapa aktivitas sudah dilakukan seperti semula, namun pemasukan yang didapat oleh Warkop Tanjak tidak seperti dulu. Jika dulu mampu menghabiskan 100 gelas per harinya, tapi pemasukan setelah diterapkannya New Normal  ini berkisar antara 60 hingga 70% saja.

Dalam membuka usahanya di masa normal baru ini, pemilik usaha Warkop Tanjak menerapkan protokol kesehatan seperti:

  1. Menghimbau setiap pelanggan yang datang untuk menggunakan masker
  2. Menyediakan tempat cuci tangan
  3. Mencuci gelas dan sendok dengan menggunakan air panas sebelum disajikan ke konsumen (meski pada awalnya menggunakan cup, namun cara tersebut kurang efektif karena menimbulkan banyak sampah dan pengeluaran menjadi lebih besar).

Mimpi Besar Pemilik Warkop Tanjak

Mimpi besar yang dimiliki oleh pemilik ini ialah bisa membuka cabang di beberapa daerah dan melakukan kerjasama dengan beberapa orang di luar Kalimantan Barat. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa setiap cangkir kopi yang dihidangkan harus menggunakan takaran sama. Ini agar rasa dari kopi tersebut tidak berbeda bisa dibuka di daerah lain.

Saran Pemilik Warkop Tanjak Kepada Calon Pengusaha

Buat Anda yang ingin membuka sebuah usaha, jangan mempertimbangkan banyak hal. jadi, kalau mau usaha mulai saja dulu. Karena seiring dengan berjalannya waktu, Anda akan menemukan banyak pengalaman yang cocok dengan usaha tersebut. Karena biasanya ide-ide baru juga akan muncul seiring berkembangnya bisnis yang Anda jalani.

Membuka sebuah usaha warung kopi memang bukan hal yang mudah terlebih dengan persaingan bisnis kopi yang ada saat ini. Namun, Warkop Tanjak mampu menunjukkan keunikannya sendiri dibandingkan dengan beberapa kedai kopi kekinian lainnya.

Warkop Tanjak memang sengaja tidak menyediakan WiFi agar setiap pelanggan yang datang mampu menikmati kopi yang dipesannya, sembari ngobrol dengan teman atau pelanggan lainnya. Meski warung kopi ini tidak mengikuti trend dari beberapa kedai kopi yang ada, namun eksistensi yang dimiliki oleh warung tersebut terbukti masih ada dan semakin melambung.

Nah, pesan yang disampaikan oleh pemilik kepada pelanggannya adalah “Buat orang yang benar-benar mau ngerti ngopi, sekali nyoba pasti pingin balik lagi.” Bagi Anda yang ingin datang ke Warkop Tanjak, warkop tersebut dibuka dari jam 7 pagi hingga 11 malam. Sedangkan hari minggu buka jam 4 sore hingga 11 malam.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Bisnis

Presiden Buka Opsi Gabungkan BUMN Pariwisata dan Penerbangan

Published

on

Presiden Buka Opsi Gabungkan BUMN Pariwisata dan Penerbangan
Presiden Jokowi wacanakan opsi penggabungan BUMN Pariwisata dan Penerbangan dalam Rapat Terbatas, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/8) (Setpres RI).

GENCIL NEWS – Presiden Joko Widodo buka opsi untuk menggabungkan BUMN sektor Pariwisata dan Penerbangan. Presiden Joko Widodo melihat sektor pariwisata dan penerbangan merupakan sektor yang terkoreksi paling dalam.

Menurut Presiden  jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke tanah air pada triwulan kedua hanya mencapai 482.000 saja, anjlok 87 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Jokowi mengatakan momentum ini seharusnya bisa dijadikan ajang perbaikan dan transformasi, termasuk merealisasikan opsi membentuk holding dan super holding pada kedua sektor ini.

Holding BUMN pada dasarnya adalah BUMN yang berfungsi sebagai perusahaan induk dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bisnis yang sama.

Perusahaan induk ini memiliki saham di perusahaan-perusahaan yang menjadi anaknya, dan bertanggung jawab meningkatkan kinerja mereka sehingga memiliki nilai pasar. Super holding merupakan gabungan dari holding-holding BUMN itu.

“Juga kemungkinan penggabungan BUMN penerbangan dan pariwisata sehingga arahnya menjadi semakin kelihatan. Sehingga next pandemic, fondasi ekonomi di sektor pariwisata dan transportasi akan semakin kokoh dan semakin baik dan bisa berlari lebih cepat lagi ,” ungkap Jokowi dalam Rapat Terbatas, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/8).

Jumlah Bandara di Indonesia Terlalu Banyak

Dalam kesempatan ini Jokowi juga menyinggung jumlah bandara yang terlalu banyak, dan juga tidak merata. Saat ini, Indonesia memiliki 30 bandara internasional, namun lalu lintas penerbangan hanya terpusat di empat bandara internasional saja.

“Apakah diperlukan sebanyak ini? Negara-negara lain saya kira nggak melakukan ini. Coba dilihat dan sembilan persen lalu lintas terpusat hanya di empat bandara artinya kuncinya ada di empat bandara ini di Soekarno-Hatta di Jakarta, Ngurah Rai di Bali, Juanda di Jawa Timur dan Kualanamu di Sumatera Utara,” jelasnya.

Jokowi mengatakan ke depan pihak terkait harus menentukan bandara internasional mana saja yang berpotensi menjadi internasional hub, yang sesuai dengan fungsi, posisi geografis dan karakteristik wilayahnya.

“Ada delapan bandara internasional yang berpotensi menjadi hub dan superhub. Kembali lagi Ngurah Rai, Soekarno-Hatta, Yogyakarta, Balikpapan, Hasanuddin, Sam Ratulangi dan Juanda di Surabaya,” imbuhnya.

Harus Ada Lompatan Besar di Sektor Pariwisata dan Penerbangan

Agar bisa bertahan, baik sektor pariwisata maupun penerbangan harus melakukan perbaikan besar-besaran.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyebut ekosistem pariwisata dan penerbangan harus didesain dengan manajemen yang lebih terintergrasi. Ia mengatakan, perlu adanya konsolidasi dari hulu sampai ke hilir.

“Mulai dari airline management, bandaranya, manajemen layanan penerbangannya yang tersambung tentu saja dengan manajemen destinasi tersambung dengan manajemen hotel dan perjalanan dan bahkan sampai kepada manajemen dari produk-produk lokal dan industri kreatif yang kita miliki,” jelasnya.

Holding BUMN Pariwisata dan Penerbangan Dinilai Tidak Tepat

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan wacana Jokowi untuk menggabungkan BUMN pariwisata dan penerbangan kurang tepat.

Alvin mengatakan kedua sektor tersebut mempunyai ekosistem dan stakeholder yang berbeda-beda.

“Jadi terlalu sempit kalau hanya melihat aspek pariwisata dengan penerbangan. Dan pariwisata ini tidak hanya penerbangan. Pariwisata ini kan juga banyak, termasuk juga aspek budaya, tradisi, aspek pelestarian alam. Ini kan saya melihat terlalu simplistic kalau menggabungkan antara pariwisata dan penerbangan. Termasuk penerbangan ini kan ada kargo dan sebagainya, yang juga selalu berurusan dengan pariwisata. Dan pariwisata juga tidak hanya penerbangan,” ujar Alvin.

Menurutnya jika ingin menggabungkan kedua sektor tersebut Jokowi haruslah mengkaji opsi itu secara komprehensif. Upaya perbaikan kedua sektor ini, kata Alvin, tidak selalu dengan menggabungkan BUMN.

“Karena BUMN itu kan ada visi, misi, politik dan misi bisnis. Kalau BUMN wisata dicampur dengan penerbangan apa iya cocok? Kemudian misalnya Garuda punya anak perusahaan yang berkaitan dengan pariwisata, ya baik-baik saja, kemudian pariwisata berkembang ada travel agensi ya baik-baik saja, tapi kalau misalnya digabungkan, itu perlu kajian bisnis yang lebih komprehensif lagi,” jelasnya.

Pemerintah Harus Realistis

Lebih jauh, Alvin menilai bahwa pemerintah harus lebih realistis dalam keadaan yang sulit ini. Menurutnya, sektor pariwisata dan penerbangan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa bangkit. Jadi, untuk bisa menggenjot perekonomian tanah air, pemerintah tidak bisa mengandalkan kedua sektor ini dalam kurun waktu yang cukup lama.

Pemerintah, kata Alvin bisa memaksimalkan sektor lain yang tidak terlalu berdampak terhadap pandemi untuk bisa menggerakan perekonomian Tanah Air seperti sektor pelayanan kesehatan dan sektor kebutuhan pangan.

“Apakah realistis dalam kondisi seperti ini, berharap ada pariwisata domestik, ketika sebagian besar masyarakat kita ini masih berperang terhadap Covid-19, menahan diri tidak keluar rumah, bahkan untuk naik pesawat masih khawatir. Fokusnya adalah pada pemulihan daya beli, mereka yang dirumahkan, atau yang mengalami penurunan penghasilan,” jelasnya.

“Sekarang ini fokusnya adalah memulihkan kondisi ekonomi keluarganya dulu. Mood atau suasana kebatinan masyarakat kita ini belum memikirkan pariwisata. Dan kalau kita memang mau menggalakkan wisata kita harus mampu mengatasi kekhawatiran masyarakat tentang kesehatannya bagaimana,” imbuhnya. 

Continue Reading

Bisnis

Restoran Mewah Milik Diaspora Indonesia di Tengah Pandemi di Amerika

Published

on

Restoran Mewah Milik Diaspora Indonesia di Tengah Pandemi di Amerika

GENCIL NEWS – VOA – Imbas pandemi COVID-19 dirasakan lebih keras pada restoran kelas atas yang mengandalkan pelanggan untuk datang dan menikmati sajian mewah.

Dua diaspora Indonesia, pemilik restoran di Amerika, menghadapi imbas tersebut secara berbeda.

Pandemi COVID-19 menghancurkan industri restoran. Padahal, industri tersebut mempekerjakan lebih dari 15 juta karyawan dan diproyeksikan menghasilkan sekitar $899 miliar tahun ini, menurut data National Restaurant Association, asosiasi restoran Amerika.

Yono Purnomo adalah pemilik sekaligus executive chef di Yono’s, restoran kelas atas di Albany, ibukota negara bagian New York.

Ketika negara bagian New York harus menjalani Pembatasan Sosial Berskala Besar, Yono terpaksa menutup restorannya mulai 16 Maret.

“Terus saya pikir, kita mau jadi apa nih? Kita nggak bisa to-go karena kita fine-dining kan? To-go gak lucu.”

Yono, koki lulusan NHI Bandung, kemudian mengubah bisnis restorannya menjadi Feed Albany. Bekerja sama dengan para pemilik restoran lainnya, badan amal itu menyediakan makanan kepada warga yang mebutuhkan.

Dalam sehari, organisasi nirlaba itu bisa menyiapkan sampai 1.500 porsi. Mereka melakukan itu tiga hari seminggu. Dana operasional didapat dari sumbangan yang berdatangan dari berbagai sumber.

Oscar Setiawan, membuka Rickshaw Republic, restoran Indonesia di Chicago, delapan tahun lalu. Ia menanggapi tantangan semasa pandemi ini secara berbeda.

Jumlah pelanggan yang berkurang secara drastis memaksanya menutup restorannya pada awal Juli.

William Wongso, chef dan pakar kuliner Indonesia, mengakui pandemi ini pukulan yang luar biasa keras bagi dunia restoran, dan sangat tidak terduga.

Pandemi tidak banyak memberi peluang kepada pengusaha restoran menggunakan kreatifitas dalam industri kuliner.

“Sekarang ini realita. Bukan soal kreatif. Kalau sudah nggak bisa kemana-mana, kembali kalau urusan makanan, orang akan kembali ke comfort food. Dia akan mau makan makanan yang dia familiar, makanan sehari-hari, bukan makanan fancy.”

Sejauh ini, Yono bertahan dengan “Feed Albany.” Walaupun pasrah, ia tetap optimistis. “Ini usaha kita, dan ini adalah our life. Jadi kita harus berusaha dan berdoa.”

William Wongso mengingatkan, banyak perubahan yang harus diterapkan dalam bisnis restoran kelas atas. Tetapi ia tidak bisa memperkirakan seperti apa situasinya pasca pandemi. “Prinsipnya, ekonomi harus jalan. Risk tetap ada, tinggal persentasinya masing-masing jaga-jaga.”

Tidak bisa dihindari kenyataan bahwa pandemi akan mengubah total cara orang menikmati makanan di restoran. Namun, yang pasti, keinginan orang menyantap bervariasi makanan tanpa harus repot masak sendiri, tidak akan hilang.

Continue Reading

Bisnis

Ongkos Ibadah Umrah Diperkirakan Naik, Pemerintah Tunggu Kepastian

Published

on

Ongkos Ibadah Umrah Diperkirakan Naik, Pemerintah Tunggu Kepastian
Sebagian jemaah haji melakukan Tawaf (mengelilingi Ka'bah) di Mekkah, Arab Saudi (foto: dok). Dalam ibadah haji 28 Juli-2 Agustus kemarin, pemerintah Saudi hanya menerima 1.000 jemaah.

GENCIL NEWS – VOA – Ongkos untuk ibadah Umrah diperkirakan akan naik. Dan asosiasi penyelenggara ibadah umrah meramalkan ongkos ibadah umrah akan naik untuk tahun mendatang.

Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Indonesia (AMPHURI). Joko Asmoro, menyatakan ada 4 skenario umrah di tengah pandemi.

Skenario ini adalah; pertama, umrah terbuka namun dengan protokol kesehatan; kedua, umrah dengan kuota terbatas; ketiga, umrah dengan kuota terbatas per negara; atau keempat, umrah ditunda setahun.

“Empat kemungkinan option ini kita harus siap. Umrohnya sendiri belum tahu kapan,” terangnya Joko Asmoro.

Yang pasti, kata Joko, ongkos umrah diperkirakan naik. Hal ini utamanya terkait kapasitas maskapai penerbangan dan akomodasi yang harus mengikuti protokol kesehatan.

“Kalau maskapai hanya mampu mengangkut 60-70 persen saja, tentunya harga tiket juga akan naik. Mengkondisikan menjadi protokol itu ada penambahan biaya. Yang tadinya kamar berempat bisa bertiga, bagaimana nanti? Saat ini saja haji 1 kamar 1 orang, apakah umrah diperbolehkan berdua?” ungkap Joko.

Sementara itu, tambah Joko, resesi di sejumlah negara juga akan berdampak pada nilai tukar Rupiah. Sehingga ia meminta anggotanya menjual paket umrah yang fleksibel.

“Nggak ada salahnya teman-teman menjual paket umrah tapi dengan kondisi tidak bergantung dengan tanggal. Atau ada ketentuan bahwa nanti ada perubahan dan lain sebagainya,” imbuhnya.

AMPHURI mencatat. Indonesia memiliki 61.519 jemaah umrah yang seharusnya berangkat pada 27 Februari 2020. Namun batal karena COVID-19. Para jemaah ini juga perlu mendapatkan jadwal pengganti.

Indonesia Tunggu Saudi soal Kepastian Umrah

Konsul Haji RI di Jeddah, Dr. Endang Jumali, mengatakan mulai berkomunikasi dengan otoritas Arab Saudi terkait pelaksanaan umrah. Dia meminta berbagai peraturan dan penyesuaian terkait COVID-19 segera diberikan kepada pemerintah Indonesia.

“Paling tidak ada informasi awal. Semalam juga saya sudah kontak-kontak ke bagian teknis di Kementerian Haji (Arab Saudi) untuk bisa kita rapat bersama dalam kaitan umrah ke depan seperti apa,” ungkapnya dalam sebuah diskusi, Senin (3/8) sore.

Endang mengatakan, ibadah umrah akan berpatokan pada ibadah haji yang baru saja digelar dengan menerapkan protokol kesehatan.

Ibadah umrah pada prinsipnya mirip dengan ibadah haji, namun dapat dilaksanakan sepanjang tahun. Sementara haji dilaksanakan pada bulan ke-12 dalam kalender Islam atau bulan Zulhijah.

Dalam ibadah haji yang jatuh pada 28 Juli-2 Agustus kemarin, pemerintah Arab Saudi hanya menerima 1.000 jemaah.

Itu pun orang-orang yang sudah berada di wilayah negara tersebut. Padahal biasanya ibadah haji dapat diikuti 2 juta orang dari seluruh dunia.

Terkait ibadah umrah, Endang menyatakan optimis akan segera dibuka. Apalagi, kata dia, jumlah kasus COVID-19 di Arab Saudi terus turun.

“Per tanggal 25 itu tercatat kasus 2.200 terus menurun sampai kemarin di tanggal 2 Agustus itu 1.357. Jika hal ini terus menunjukkan angka yang positif kan memungkinkan, ketika nanti penerbangan internasional dibuka, umroh juga dibuka,” tambahnya.

Meski begitu, ujarnya, umrah tetap dapat dipengaruhi oleh keadaan COVID-19 di negara asal jemaah. Apalagi kata dia, kasus di Indonesia terus naik.

“Kan tidak menutup kemungkinan pemerintah Arab Saudi juga menysaratkan bagi (negara) pengirim jemaah umroh, syarat-syarat yang sangat ketat,” tandasnya

Maskapai Tunggu Otoritas Berwenang

Andri Bermawi dari Saudi Arabian Airlines mengatakan berencana kembali membuka penerbangan ke Indonesia dengan jadwal terbatas. Pihaknya merencanakan ada 13 jadwal penerbangan selama bulan September. Namun ia masih menunggu keputusan pihak berwenang sebelum membuka kembali jadwal tersebut.

“Jadwal bulan Oktober masih agak lebih banyak. Tapi kami juga masih belum tahu apakah jadwal ini masih tetap dan akan dioperasionalkan,”jelasnya, seraya mengatakan jadwal yang dipersiapkan untuk bulan Agustus tidak jadi dilaksanakan.

Sementara itu, pihaknya mulai mengembalikan uang tiket penerbangan (refund) kepada jemaah asal Indonesia, berdasarkan perintah kantor pusat.

“Alhamdulillah kami bisa menyalurkan refund dari bapak ibu sekalian, meski pun sedikit ada pending atau ada waktu proses, karena maklum banyak sekali,” papar Andri.

Berdasarkan catatan AMPHURI, baru Saudi Airlines yang melakukan pengembalikan atau refund tiket. 

Continue Reading

Kumpulan Resep Masakan Enak

TRENDING