Pemerintah Klaim Ekonomi Indonesia Mulai Pulih – Gencil News
Connect with us

Bisnis

Pemerintah Klaim Ekonomi Indonesia Mulai Pulih

Published

on

Pemerintah Klaim Ekonomi Indonesia Mulai Pulih

Gencil News – VOA – Menteri Keuangan Sri Mulyani melihat perlahan namun pasti, perekonomian Indonesia mulai membaik. Hal tersebut, kata Ani terlihat dari berbagai indikator ekonomi seperti naiknya tingkat konsumsi masyarakat dan pemerintah.

“Proyeksi ekonomi Indonesia 2020, adalah sesuai dengan tren dunia yang mengalami perbaikan di kuartal-III, masing-masing mungkin memiliki speed yang berbeda. Namun kita lihat di kuartal-II 2020 beberapa perbaikan dalam indikator ekonomi terutama dari sisi agregat demand kita,” ujarnya dalam telekonferensi pers APBN Kita, di Jakarta, Senin (19/10).

Perempuan yang akrab disapa Ani ini menjelaskan pada kuartal-III konsumsi pemerintah naik 18,8 persen, yang menurutnya bisa mengangkat perekonomian Indonesia menuju 0 persen atau bahkan menuju zona positif. Dengan begitu, menurutnya, indikator lain seperti investasi dan ekspor akan mulai bergerak ke arah yang positif. Konsumsi listrik, kata Ani juga mulai menunjukkan perbaikan di mana secara tahunan positif 2,1 persen.

Mobilitas masyarakat juga diprediksi akan semakin meningkat pasca pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketat yang kembali menjadi PSBB transisi sehingga roda perekonomian bisa berjalan dengan baik

“Ini yang menggambarkan bahwa aktivitas dari keseluruhan, dari mulai rumah tangga, bisnis, industri, sosial, dan pemerintahan sudah mulai menunjukkan suatu tren yang sesuai dengan harapan yaitu menuju kepada pemulihan,” jelasnya.

Indonesia Resesi, Menkeu Klaim Ekonomi Indonesia Masih Lebih Baik dari Negara Lain

Walaupun diklaim membaik, pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini masih akan tumbuh negatif di kisaran minus 0,6 persen hingga minus 1,7 persen. Meski begitu, jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa, perekonomian Indonesia jauh lebih baik. Ia mencontohkan, perekonomian Spanyol pada kuartal III diperkirakan tumbuh minus 12,3 persen, Inggris minus 10 persen, Perancis minus 19 persen, Italia minus 9,7 persen. Sementara negara tetangga seperti Malaysia perekonomiannya pada kuartal-III diperkirakan akan menyentuh minus 4,5 persen, Filipina minus 6,3 persen, Singapura minus 6,0 persen.

“Semua negara baik di barat, timur, utara, selatan, maju maupun emerging maupun developing country, semuanya mengalami tekanan yang luar biasa, kita melihat mungkin magnitude dari tekanannya saja yang berbeda. Dan mereka melakukan berbagai tindakan untuk mengurangi penurunan ekonominya, mereka juga melakukan apa yang disebut countercyclical . Kalau kita lihat countercyclical-nya di berbagai negara juga cukup dalam,” kata Ani.

Ekonom INDEF Bhima Yudistira Adhinegara kepada VOA mengatakan perekonomian Indonesia belum pulih secara signifikan. Bahkan ia menyebut, perekonomian Indonesia baru bisa tumbuh positif pada kuartal-II atau kuartal-III 2021 dengan asumsi tidak terjadi gelombang dua perebakan virus corona.

“Pemerintah sering mengklaim bahwa Indonesia ekonominya relatif bagus, dibandingkan negara di ASEAN dan negara G20, padahal pada faktanya, Vietnam sudah tumbuh positif bahkan sejak kuartal-II, tumbuh positif 0,3 persen, kuartal-III positif 2,62 persen,” ungkap Bhima.

Menurutnya, hal tersebut bisa terjadi karena penanganan pandemi di Vietnam jauh lebih serius dibandingkan dengan di Indonesia. Dengan kasus baru corona harian yang masih bertambah di atas 4.000 kasus setiap hari ditambah kegaduhan UU Cipta Kerja, akan sulit rasanya untuk menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di tanah air. Ia menambahkan, dari sisi industri manufaktur juga masih berjalan sangat lambat, hal ini terlihat dari skor purchasing managing index (PMI) yang masih berada di bawah angka 50.

Utang Menumpuk Karena Pandemi

Dalam kesempatan ini, Ani mengakui utang Indonesia terus membengkak khususnya akibat terjadinya pandemi. Namun, ia menyatakan, bahwa hal serupa tidak terjadi di Indonesia saja, namun di seluruh dunia. Peningkatan jumlah utang, ujarnya, pasti akan terjadi karena tingginya kebutuhan stimulus fiskal untuk menopang penurunan ekonomi alias countercyclical.

Ia mencontohkan, rasio utang Amerika Serikat terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mendekati 131 persen, Perancis 111 persen, Kanada 114 persen, Jepang 266 persen, Tiongkok 61 persen, Thailand 50 persen, Filipina 48 persen. Sedangkan rasio utang Indonesia saat ini menyentuh level 38,5 persen.

“Indonesia sendiri dengan proyeksi defisit anggaran 6,34 persen dan rasio utang 38 persen, kita sudah lihat potensi pemulihan ekonomi. Kita sudah lakukan konsolidasi fiskal dengan hati-hati dan penuh kalkulasi agar ekonomi bisa membaik,” tekannya.

Sementara itu, Bhima mengingatkan pemerintah agar memperhatikan bunga utang yang terus meningkat seiring penambahan beban utang. Bunga utang bisa memakan 20 persen dari total belanja pemerintah pusat.

Selama ini, kata Bhima, pemerintah hanya memperhatikan rasio utang terhadap PDB. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kemampuan pemerintah membayar utang, khususnya utang luar negeri.

“Indikator yang mungkin pemerintah tidak menyampaikan, yaitu debt to service ratio (DSR). DSR ini jadi indikator penting, kalau utangnya pakai dolar atau valas, maka ngebalikin nya juga harus pakai valas. Kalau terjadi mismatch gak sehat, DSR kita di kuartal-II 2020 itu sudah di atas 29 persen, makin meningkat, jadi ini kemampuan bayar utang luar negeri. Pemerintah ngelihatnya cuma debt ratio to GDP, padahal indikator kesehatan utang banyak,” katanya.

Bila dibiarkan menumpuk, kata Bhima, pemerintahan Jokowi-Ma’ruf akan mewariskan begitu banyak utang kepada generasi dan pemerintahan selanjutnya, apalagi ada utang pemerintah yang jatuh tempo pada 2050.

Ia menyarankan pemerintah merestruktur utang agar jumlah utang tidak terlalu membengkak nantinya.

“Jadi restrukturisasi ini termasuk negosiasi kembali kepada kreditur-kreditur multilateral maupun bilateral. Jadi, kaya ngomong ke Bank Dunia, kita mau produksi vaksin, mau memulihkan ekonomi, itu harusnya bisa menjadi pengurang utang, pengurang pokok utangnya. Jadi utang kita bisa dikurangi dengan cara-cara debt swap atau menukar utang dengan program,” paparnya. 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bisnis

PT Telekomunikasi Indonesia Ganti Nama Jadi Telkom, Ini Faktanya

Published

on

PT Telekomunikasi Indonesia Ganti Nama Jadi Telkom, Ini Faktanya
Perseroan menyatakan bahwa telah resmi dilakukan perubahan nama dari PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk menjadi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.- foto Telkom

Gencil News – PT Telekomunikasi Indonesia adalah perusahaan informasi dan komunikasi serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia.

 PT. Telekomunikasi Indonesia melakukan perubahan nama perusahaan menjadi Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

Perubahan nama itu telah memperoleh persetujuan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dengan surat keputusan AHU-0032595.AH.01.02.Tahun 2019. Tentang Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Perusahaan Perseroan (Persero) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk tanggal 24 Juni 2019.

 Terhitung sejak 4 Desember 2020 PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan nama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Sementara untuk kode saham tetap TLKM.

 Telkom mengklaim sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta.

Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar 52.09%. Sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh publik.

Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode “TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode “TLK”.

Continue Reading

UMKM

Mempersiapkan Kemasan untuk Memenuhi Standar Ekspor

Published

on

Mempersiapkan Kemasan untuk Memenuhi Standar Ekspor

Gencil News – Meskipun standar kualitas produk adalah hal utama yang dilihat oleh pembeli/importir, terdapat standar wajib dari regulasi masing-masing negara tujuan ekspor untuk dipenuhi pada kemasan. Alasannya, kemasan berperan dalam masalah keamanan dan kesehatan produk.

Tidak hanya itu, banyak eksportir pemula yang mengalami kerugian karena barang ekspornya rusak ketika pengiriman. Bahkan, kemasan pun sebetulnya merupakan alat marketing yang cukup kuat untuk menarik pembeli/importir. Oleh karena itu, sahabat UKM harus memprioritaskan persiapan kemasan pada produk ekspornya.

Standar kemasan ekspor sebetulnya sangat spesifik pada jenis produknya. Karenanya, disini kita akan membahas persiapan kemasan ekspor yang berlaku secara umum, khususnya mengenai berbagai aspek yang penting dipahami dalam mempersiapkannya.


Fungsi Kemasan Ekspor

Kemasan yang baik dalam ekspor harus memiliki tiga fungsi utama:

  • Memuat Barang: Kemasan harus memuat kuantitas barang tertentu (dari volume, berat, atau jumlah) dengan seefisien mungkin. Disini perlu diperhatikan bentuk dan dimensi kemasan yang mempengaruhi biaya dan kekuatan.
  • Melindungi Barang: Kemasan perlu melindungi barang dari faktor bahaya di luar yang menyebabkan kerusakan dan pembusukan barang. Karenanya, suatu kemasan perlu didesain dengan kuat agar produk ekspor kita tetap dalam kondisi sempurna sampai di konsumen akhir.
  • Mempromosikan Barang: Kemasan sebaiknya memiliki fungsi marketing bagi produk. Maka dari itu, desain visual dan grafis yang menarik penting bagi kemasan. Dalam hal ini penting untuk kita mencantumkan bagaimana kualitas barang serta bagaimana barang tersebut diproduksi. Sebaiknya kemasan tidak hanya menarik konsumen yang pertama kali membeli, tapi juga bisa menciptakan loyalitas ke konsumen kedepannya.

Itulah tiga fungsi kemasan yang harus dipenuhi untuk melakukan ekspor. Diperlukan riset informasi terhadap suatu produk ekspor kita serta kebutuhan negara tujuan ekspor. Sehingga, riset merupakan hal fundamental ketika kita merencanakan desain kemasan.


Aspek Pengembangan Kemasan Ekspor

Dalam mengembangkan suatu kemasan ekspor untuk dapat memenuhi standar ekspor, kemasan dapat dibagi menjadi tiga aspek:

Kemasan Primer

Kemasan ini yang bersentuhan langsung dengan barang. Ini paling penting untuk diperhatikan karena yang paling terkait dengan standar regulasi negara tujuan ekspor. Pembeli/importir juga banyak yang memiliki permintaan spesifik di kemasan primer ini. Contoh kemasan primer adalah kaleng, botol gelas, toples, toples, karton, plastik, dan sachet.

Kemasan Sekunder

Kemasan ini yang berkaitan dalam distribusi. Kemasan sekunder menyatukan banyak satuan kemasan primer. Ini berfungsi untuk meminimalisir risiko kerusakan produk pada kemasan primer pada saat penyimpanan, transportasi, dan distribusi. Biasanya, ada permintaan khusus dari pembeli/importir pada aspek ini. Contoh kemasan sekunder adalah kayu, peti, dan karung.

Kemasan Tersier

Kemasan ini yang berkaitan dalam pengiriman ekspor di kontainer. Kemasan tersier menyatukan banyak satuan kemasan sekunder dalam satu kesatuan palet dalam kontainer. Tujuan kemasan ini adalah untuk memudahkan pemindahan banyaknya barang dalam pengiriman ekspor. Biasanya, digunakan forklift truck untuk memindahkan kemasan tersier ini.

Lihat gambar di bawah ini untuk memahami perbedaan pengembangan dari kemasan primer, kemasan sekunder, sampai kemasan tersier.

Ilustrasi Pengembangan Kemasan Primer, Sekunder, dan Tersier (Kiri ke Kanan). Sumber: emballagecartier.com


Mendesain dan Mempersiapkan Kemasan Ekspor

Desain kemasan terdiri dari struktur desain, konstruksi teknikal, desain grafis (visual), penampilan, dan nilai promosi. Prioritaskan untuk membuat desain kemasan yang menjamin kualitas dan keamanan, memiliki informasi produk, memudahkan operasional pengemasan, dan memudahkan pemindahan barang dalam transportasi. Khusus untuk produk yang mengedepankan prinsip sustainability (berkelanjutan), perlu juga untuk mempertimbangkan bahan kemasan yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang (recyclability).

Untuk dapat menembus negara tujuan ekspor, terdapat 7 langkah untuk mempersiapkan standar kemasan ekspor.

1. Memahami Produk Ekspor

Cari tahu bagaimana karakteristik produk (dari fisik, kimia, maupun mekanik) untuk dapat mengemasnya dengan tepat. Contohnya, jika produknya bersifat reaktif secara kimiawi, maka tingkat reaktifnya harus dipahami. Lalu, lama ketahanan produk juga harus dimengerti. Apakah produknya basah ataukering? Apakah produknya tahan terhadap kontaminasi?

2. Evaluasi Fasilitas Pengemasan

Banyak pelaku UKM yang masih melakukan pengemasannya dengan manual sehingga perlu dipertimbangkan jenis dan bahan kemasan yang memudahkan dan mempercepat pengemasan. Sedangkan untuk pelaku usaha yang sudah melakukan pengemasan dengan mesin, maka dibutuhkan konsistensi dan akurasi yang lebih ketat pada ukuran kemasan, dibandingkan pengemasan manual. Perlu dicek juga apakah fasilitas pengemasan kita sudah memenuhi persyaratan pada GMP (Good Manufacturing Practices) dan GHP (Good Handling Practices).

3. Mengenali Kebutuhan Negara Tujuan Ekspor

Kemasan berperan penting untuk menembus target pasar ekspor. Berikut adalah beberapa contoh ceklist untuk mengenali kebutuhannya:

  • Apakah desain kemasan yang digunakan di pasar domestik dapat juga digunakan di negara tujuan ekspor?
  • Apakah desain kemasan sudah sesuai dengan regulasi dan standar yang diminta oleh negara tujuan ekspor?
  • Apakah desain kemasan sesuai dengan budaya dan karakteristik konsumen di negara tujuan ekspor?
  • Apakah negara tujuan ekspor mensyaratkan kemasan yang ramah lingkungan?
4. Memilih Bahan Kemasan yang Tepat

Pemilihan bahan pada masing-masing kategori kemasan (primer, sekunder, dan tersier) sangatlah penting bagi pembeli/importir dan konsumen akhir. Bahan kemasan haruslah yang sesuai permintaan negara tujuan ekspor, misalnya yang mudah dibuang atau didaur-ulang.

Efisiensi biaya bahan kemasan juga perlu dipertimbangkan dalam pemilihan. Namun, jangan lupa untuk memprioritaskan kualitas daripada harga kemasan. Bahan kemasan yang murah belum tentu membuat produksi dan distribusi efisien. Lalu, perlu juga dipertimbangkan ketersediaan bahan kemasan di wilayah domestik karena terdapat biaya pajak impor cukup mahal ketika impor. Selain itu, pertimbangkanlah aspek keamanan produk pada bahan kemasan.

5. Evaluasi Proses Pengiriman Ekspor (Logistik)

Jika terdapat berbagai mode transportasi berbeda-beda yang digunakan dalam operasional ekspor, maka kemasan perlu didesain untuk tahan dalam setiap tahapan pengiriman ekspor. Maka dari itu, desain kemasan tersier yang menyatukan produk ekspor pada pengiriman sangat penting untuk dievaluasi disini, begitu juga desain kemasan primer dan sekunder di dalamnya.

Dimensi kemasan tersier perlu dipilih yang sesuai dengan mode dan fasilitas pemindahan barang sampai ke negara tujuan. Banyak yang memakai persyaratan marking untuk memastikan kemasan produk dipindahkan secara tepat dan aman.

Tantangan disini adalah terdapat perbedaan kebutuhan desain kemasan dari sisi logistik dan sisi konsumen. Sisi logistik mementingkan perlindungan dan kapabilitas transportasi, sedangkan sisi konsumen mementingkan presentasi menarik dari kemasan.

6. Memenuhi Regulasi Kesehatan, Keamanan, dan Lingkungan

Negara-negara tujuan ekspor memiliki berbagai regulasi terkait keamanan dan kesehatan konsumen serta pelestarian lingkungan. Regulasi inilah yang memiliki berbagai persyaratan pada kemasan produk ekspor, yang harus direncanakan pada desain kemasan, khususnya menentukan pada bahan dan jenis kemasan.

7. Menguji Kemasan Ekspor

Langkah terakhir yang sebaiknya dilakukan adalah melakukan uji kemasan ekspor secara berkala, terutama untuk menguji ketahanan produk dalam berbagai kondisi logistik.

Idealnya, pengujian ini harus dilakukan sampai dua tahun untuk dapat mengetahui secara akurat. Namun, saat ini sudah terdapat teknologi yang mampu mempercepat pengujian ini yang memprediksi kinerja kemasan pada berbagai kondisi suhu dan kelembaban.


Berbagai Pilihan Bahan Kemasan Ekspor

Bahan kemasan memiliki tiga komponen utama (selengkapnya di tabel bawah):

  • Bahan Dasar Kemasan: untuk membuat struktur dasar kemasan
  • Bahan Dekorasi Kemasan: untuk membantu pembentukan dan dekorasi kemasan
  • Bahan Kemasan Lainnya: Komponen terkait lainnya untuk suatu fungsi tertentu
Bahan Dasar KemasanBahan Dekorasi KemasanBahan Kemasan Lainnya
KertasPlastikMetal: Baja & AluminiumGelasKayuKarung GoniBioplasticPernis (Lacquers)Tinta PrintingPerekatLabel: Kertas & PlastikPenutupPenguatPallet

Dikarenakan banyak sekali komponen dalam kemasan ekspor, maka disini kita akan fokus membahas beberapa bahan dasar kemasan.

Kemasan dengan Bahan Kertas (Paperboard)

Kemasan kertas (paperboard) cenderung tidak mahal dan memiliki permukaan yang bagus untuk dicetak grafis (visual). Kertas juga bisa dipakai di semua kategori kemasan primer, sekunder, maupun tersier. Bahkan, kemasan kertas termasuk ramah lingkungan karena mampu terdegradasi di alam dan dapat didaur ulang dengan mudah.

Berikut adalah jenis-jenis aplikasi kemasan kertas:

  • Kemasan Primer & Sekunder: Flexible Paper Packs, Molded Pulp Packs, Carton Board Packs, Micro Fluted CFB
  • Kemasan Tersier: Corrugated Fibre Board, Internal Fitments & Reinforcement, Multi Wallpaper Sacks, Solid Fibreboard.

Standar penting yang umumnya dibutuhkan kemasan kertas dalam ekspor:

  • Bahan kertas terbebas dari kontaminasi logam (heavy metals), bahkan yang tidak bersentuhan langsung dengan produk
  • Bahan kertas yang memiliki prinsip produksi berkelanjutan (sustainable). Biasanya diminta sertifikasi yang membuktikannya seperti FSC (Forest Stewardship Council).
  • Bahan kertas yang ramah lingkungan yang biasanya dideskripsikan TCF (Totally Chlorine Free) atau ECF (Elemental Chlorine Free).

Contoh Kemasan Kertas (Paperboard). Sumber: packagingstrategies.com

Kemasan dengan Bahan Plastik

Kemasan plastik bisa tahan kimia (chemical resistant), cenderung murah, dan ringan untuk berbagai macam produk ekspor. Kerugian memakai kemasan plastik adalah sifatnya yang mudah ditembus atau diserap oleh cahaya, gas, uap air, dan molekul kecil lainnya. Bahkan ini memiliki risiko tinggi untuk bercampur dengan produk makanan.

Namun karakteristik ini tergantung dari jenis bahan plastik yang digunakan. Sehingga penting untuk mengetahui beberapa jenis bahan plastik berikut ini untuk memenuhi standar ekspor.

  • LDPE (Low-Density Polyethylene): Mudah diproses namun tidak bisa digunakan pada kemasan yang mengharuskan perlindungan dari gas.
  • HDPE (High-Density Polyethylene): Lebih keras dan kurang fleksibel namun populer untuk kemasan produk makanan.
  • Polypropylene (PP): Cocok sebagai kemasan untuk produk yang membutuhkan ketahanan pada suhu tinggi. PP meleleh pada suhu 170 derajat Celcius sehingga produk dengan kemasan ini dapat digunakan pada microwave.
  • Polystyrene (PS): Lebih murah dan kurang kuat, biasanya dipakai hanya sebagai layer kemasan.
  • Polyvinyl chloride (PVC): sangat rentan pada panas dan mudah berubah secara kimiawi. Karenanya, memiliki citra buruk sebagai perusak lingkungan.
  • Polyesters: Kuat terhadap panas karena meleleh pada lebih dari 270 derajat Celcius. Sehingga, produk dengan kemasan ini cocok untuk digunakan pada microwave.

Contoh Kemasan Plastik. Sumber: International Trade Center

Kemasan dengan Bahan Gelas

Kelebihan kemasan gelas adalah kuat, tidak berbau dan tahan kimia, sehingga cocok untuk produk makanan. Bahan gelas juga tidak tembus oleh gas dan uap air, sehingga mampu menjaga kesegaran produk dalam waktu yang lama tanpa mempengaruhi rasa dan baunya. Selain itu, bahan gelas juga mampu tahan pada suhu tinggi. Bahan gelas pun bisa didaur ulang berulang-ulang kali.

Namun, gelas memiliki berat tinggi sehingga meningkatkan biaya transportasi dan memiliki risiko tinggi akan kerusakan dalam perjalanan. Bahan gelas wajib dikuatkan melalui pemanasan dan pendinginan lambat sebelum dapat digunakan sebagai kemasan ekspor.