Potret Kampung Budaya di Pontianak

Potret kampung budaya di Pontianak –  Sektor pariwisata dapat dijadikan sebagai sebuah sarana peningkatan pendapatan asli daerah. Salah satu sektor pariwisata yang banyak dikembangkan saat ini adalah pariwisata budaya. Dengan menjaga budaya asli yang pada akhirnya menjadi keunikan suatu daerah akan menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Maka, tidak mengherankan jika beberapa derah di Indonesia seolah berlomba untuk membuat kampung budaya. Selain untuk meningkatkan pendapatan asli daerah tujuan utamanya adalah menjaga warisan leluhur dan memperkenalkan budaya daerahnya kepada masyarakat luas. Tentunya menjadi bukan hal yang diinginkan saat sebuah budaya hilang bersama dengan habisnya masa hidup generasi tua. Pembuatan kampung budaya dapat menimbulkan rasa kebanggaan dan tanggung jawab dari generasi muda untuk menjaga budaya leluhurnya.

Kampung budaya diharapkan mampu menunjukkan harmonisasi berbagai macam suku, bangsa, dan agama dalam suatu daerah yang ada di Indonesia. Salah satu daerah yang ditempati oleh beragam suku bangsa adalah Propinsi Kalimantan Barat. Daerah yang sebagian besar penduduknya merupakan suku Dayak dan Melayu ini telah memiliki sebuah Kampung Budaya yang berada di Pontianak. Kampung Budaya Pontianak disebut-sebut menjadi ikon kedua setelah Tugu Khatulistiwa. Pendirian kampung budaya ini menelan biaya kurang lebih 60 milyar rupiah. Konsep secara umum kampung budaya Pontianak ini adalah memperkenalkan budaya yang ada di Kalimantan Barat. Wisatawan tidak perlu datang ke pelosok desa untuk melihat kearifan budaya dua suku terbesar di provinsi Kalimantan Barat, karena semua sudah disuguhkan di Kampung Budaya Pontianak ini.

budaya di pontianak

LOKASI KAMPUNG BUDAYA PONTIANAK
Kampung budaya Pontianak terletak di tengah kota, yaitu di Jalan Sutan Syahrir. Letaknya yang berada di tengah kota memudahkan pengunjung untuk mencapainya. Kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dapat mencapai lokasi Kampung Budaya Pontianak.

GAMBARAN BANGUNAN KAMPUNG BUDAYA PONTIANAK
Kampung Budaya Pontianak terdiri dari 5 (lima) macam bagian, yaitu rumah adat dayak (Radakng), rumah adat Melayu, Rumah Budaya, Plasa Budaya, dan ruang terbuka hijau. Masing-masing bagian tersebut memiliki maksud dan fungsi pembuatannya.

1. Rumah Adat Dayak
Radakng adalah nama dari rumah adat Dayak yang dibangun di kampung budaya ini. Rumah Radakng merupakan sebutan rumah dari suku Dayak Kanayatn yang berbentuk memanjang. Rumah adat Dayak di kawasan Kampung Budaya Pontianak ini merupakan rumah Radakng terbesar, setidaknya 50 keluarga dapat di tampung dalam rumah Radakng di Kampung Budaya. Rumah ini bukan untuk ditempati, karena rumah ini hanyalah replika. Replika rumah Radakng mendapatkan rekor MURI sebagai replika rumah adat terpanjang. Ukuran rumah Radakng yang diresmikan 2013 lalu memiliki panjang 138 meter, tinggi 7 meter, dan lebar rata-rata 18 meter. Biaya yang dihabiskan untuk membangun rumah Rakadng sekitar 20 milyar rupiah.

Baca juga   Presiden Jokowi Tertarik Kembangkan Sungai Kapuas

Replika rumah adat Dayak di Kampung Budaya Pontianak ini sekaligus menjadi ikon baru Kota Pontianak selain Tugu Khatulistiwa. Berdasarkan rencana awal, pembangunan rumah adat Dayak diperuntukkan sebagi tempat yang mewadahi aktivitas dan budaya Dayak di Kalimantan.

2. Rumah Adat Melayu
Suku Melayu adalah salah satu suku terbesar di Kalimantan Barat. Konsep utama dalam pembangunan Kampung Budaya Pontianak memasukkan Rumah Adat Melayu sebagai invetarisasi eksisting. Rumah adat Melayu ini dibuat sebagaimana bentuk rumah adat Melayu seharusnya. Biaya pembangunan rumah adat Melayu di Kampung Budaya Pontianak sekitar 20 milyar. Rumah adat Melayu sudah sering digunakan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan budaya Melayu dan sebagai tempat resepsi pernikahan.

3. Rumah Budaya
Sering perkembangan zaman, suku yang mendiami Kalimantan Barat mengalami penambahan. Agar kegiatan kebudayaan dari seluruh suku dapat diakomodir maka di Kampung Budaya Pontianak dibangung sebuah Rumah Budaya. Rumah ini dapat digunakan sebagai wadah aktivitas budaya dari suku selain Dayak dan Melayu yang tinggal di Kalimantan Barat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, kedepannya juga akan membuat rumah adat suku lain.

4. Plasa Budaya
Plasa budaya meruoakan ruang terbuka yang sering digunakan untuk kegiatan budaya bersifat outdor. Beragam festival budaya dapat digelar di Plasa Budaya ini. Pasar rakyat, pentas tari, dan pertunjukan dilakukan di Plasa Budaya. Plasa budaya diharapkan menjadi sebuah ruang bagi berbagai macam suku di Kalimantan Barat untuk berinteraksi.

5. Ruang Terbuka Hijau.
Ruang terbuka hijau diKawasan kampung budaya Pontianak sangatlah luas, sehingga tidak mengherankan apabila hampir setiap sore banyak warga sekitar bersama dengan keluarganya jalan-jalan di kawasan Kampung Budaya. Di dalam RTH terdapat pula taman dan air mancur. Taman dengan pepohonan hijau yang cukup membuat suasana segar di teriknya kota Pontianak menjadi daya tarik bagi sebagian keluarga di sekitar Kampung Budaya.

PENGELOLA KAMPUNG BUDAYA PONTIANAK
Kampung budaya Pontianak masih dikelola penuh oleh pihak pemerintah Kalimantan Barat. Terdapat 3 (tiga) instansi atau dinas yang menjadi pengelola, yaitu Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Perbaikan pembangunan fisik dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Pengelolaan kampung budaya meliputi sarana dan prasarana menjadi tanggung jawab dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan pelaksanaan even dan promosi kegiatan dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

FESTIVAL DI KAMPUNG BUDAYA PONTIANAK
1. Gawai Dayak
Gawai dayak didasari dari sebuah mitos tentang asal usul padi yang berkembang di Kalimantan Barat. Cerita tersebut berjudul Nek Baruang Kulup, cerita ini mengisahkan tentang seeokor burung yang membawa setangkai padi dari Jubata dan di akhir cerita tersebut padi menjadi makanan pokok manusia. Atas kebaikan Jubata dan fungsi padi maka masyarakat membuat sebuah upacara sebagai ungkapan rasa syukur dan upacara tersebut disebut dengan gawai dayak. Upacara Gawai Dayak dilakukan setelah masa panen tiba.
Pada awalnya setiap daerah di Kalimantan Barat melakukan Gawai Dayak sendiri-sendiri dan dengan nama yang berbeda. Hingga pada suatu saat pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berinisiatif untuk melakukan Gawai Dayak secara bersamaan dan acara tersebut dilakukan setiap tanggal 20 Mei setiap tahunnya. Pusat kegiatan Gawai Dayak dilakukan di rumah adat Dayak di Kampung Budaya Pontianak. Sesuai dengan tradisi pelaksanaan gawai dayak, acara pokok upacara dilakukan di dalam rumah panjang (Radakng). Disana akan dilakukan pembacaan mantra dan melumuri bahan persembahan dengan darah ayam jantan, acara ini dikenal dengan nama nyangahathn. Acara pokok nyangahthn dilakukan H-1 sebelum Gawai Dayak dilakukan.
Dalam upacara adat ini Anda dapat melihat berbagai macam upacara, kesenian, pakaian, makanan, dan beragam hal lainnya yang masih bersifat tradisioal serta sangat bernuansa dayak. Di tengah masyarakat moderen Anda dapat menikmati sebuah kearifan budaya lokal.
2. Festival Seni dan Budaya Melayu
Sebagaimana Gawai Dayak, festival seni dan budaya Melayu juga dilaksanakan setiah tahun. Dalam festival ini Anda akan menemukan segala hal yang bernuansa Melayu. Berbagai macam aksi kesenian khas melayu dipertontonkan dalam festival ini. Tidak ketinggalan pula kuliner khas Melayu turut memeriahkan festival. Pusat pelaksanaan kegiatan festival seni dan budaya melayu adalah Rumah Adat Melayu di Kampung Budaya Pontianak.

Baca juga   KPAI : Joki Anak Berpotensi Mengeksploitasi Anak

Perlombaan dalam festival seni dan budaya melayu menjadi salah satu agenda yang tidak boleh dilewatkan. Karena, dalam acara ini Anda akan menjadi lebih mengenal tradisi Melayu. Perlombaan yang dilakukan antara lain tata rias, olahraga tradisional, arsitektur, adat istiadat, tari-tarian, sastra, dan lain sebagainya. Tujuan awal diadakannya Festival ini adalah untuk mendekatkan orang masyarakat pada umumnya dan Melayu pada khususunya dengan kebudayaan Melayu.

Langkah yang diambil oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Barat ini layak untuk diikuti oleh pemerintah daerah lainnya. Keterlibatan pemerintah dalam menjaga budaya leluhur menjadi salah satu penentu keberhasilan melestarikan warisan nenek moyang. Perjalanan Anda ke Kalimantan Barat belum lengkap sebelum mengunjungi Kampung Budaya Pontinak.

Penulis : Gencil News
Editor : Gencil News
Sumber : Gencil News