Regenerasi Budaya Tradisi Sekaten

Anak-anak tampak berada di bagian depan barisan warga yang melihat prosesi dimulainya tabuhan duaset gamelan pusaka Kraton Kasunanan Surakarta, Kyai Guntur Madu dan Guntur Sari di kompleks Masjid Agung Solo.

Dua anak terlihat merekam prosesi tabuhan gamelan tanda dimulainya tradisi Sekaten dengan video menggunakan gawai mereka masing-masing. Salah satunya, Rizki, mengatakan ia merekam video tabuhan gamelan Sekaten karena suka dengan budaya tradisional. Menurut Rizki, kelas 6 SD, suara tabuhan gamelan sangat enak didengar.

“Iya tadi sempat merekam video. Saya lihat gamelannya bagus, ini tradisi Sekaten. Suaranya enak didengar langsung. Saya diajak ibu dan bapak.”

Tidak hanya Rizki dan kedua temannya yang melihat langsung prosesi Sekaten itu. Belasan anak usia balita hingga pelajar sekolah menengah diajak orang tua mereka untuk ikut ke lokasi tersebut. Salah seorang pengunjung, Sulastri, dari Salatiga, bersama keluarga besarnya, termasuk anak-anaknya yang datang ke Sekaten Kraton Kasunanan Solo untuk mengenal budaya tradisional.

“Ya ini saya ajak semua keluarga besar saya, adik kakak saya, termasuk anak-anak saya, biar mereka tahu budaya tradisional, Sekatenan. Saya sering ke sini kok.”

Sejumlah anak merekam video dengan gawai saat prosesi tabuhan gamelan sekaten di Masjid Agung Solo. (Foto: VOA/Nurhadi)
Sejumlah anak merekam video dengan gawai saat prosesi tabuhan gamelan sekaten di Masjid Agung Solo. (Foto: VOA/Nurhadi)

Sekaten menjadi salah satu adat yang memiliki ciri khas dibanding ritual tradisi Kraton Kasunanan yang lainnya. Sekaten berlangsung selama hampir satu bulan dengan beragam acara. Bagi orang dewasa, Sekaten memiliki ciri khas. Mereka berkesempatan mengunyah sirih dengan campuran tembakau dan sedikit kapur, atau dalam bahasa Jawa nginang. Sedangkan bagi anak-anak, Sekaten berarti hiburan dengan aneka permainan, terutama tradisional, antara lain kapal kothok, mainan dari kayu dan bambu hingga kuda lumping yang dilengkapi cemeti.

Baca juga   Mi Umur Panjang Di Singkawang Pada Tradisi Cap Go Meh dan Imlek

Bagi Sarwono yang kini berusia 72 tahun, Sekaten identik dengan tradisi mengunyah sirih dengan sugesti tertentu. “Mengunyah sirih ini memang menjadi tradisi warga saat Sekaten, sesaat setelah Gamelan Kyai Guntur madu ditabuh.Ya ini sugesti bagi mereka, dengan mengunyah sirih (orang percaya) akan awet muda dan panjang umur,” jelasnya.

Sementara itu, tokoh agama dari Kraton Kasunanan Solo, Muhtarom mengungkapkan Sekaten merupakan perpaduan dua tradisi yang dikenal masyarakat sejak ratusan tahun lalu.

“Sekaten ini kan sebenarnya perpaduan tradisi Jawa dengan Islam. Ini dilakukan para Walisongo saat menyebarkan ajaran Islam di Jawa, termasuk dikembangkan Kraton di Solo dan Yogyakarta. Ini contoh akulturasi local wisdom yang penuh dengan makna yang dalam,” jelasnya.

Baca juga   LIPUTAN KHUSUS CAP GOMEH 2018 Menag: Cap Go Meh, Pererat Kesatuan Bangsa

“Dalam ajaran Islam disebut Syahadatain, yang dilafalkan masyarakat Jawa sebagai Sekaten. Banyak tradisi dalam Sekaten yang penuh simbol ajaran Islam dan budaya Jawa.

Intinya perayaan menyambut kelahiran Nabi Muhammad atau maulid Nabi Muhammad. Makanya tradisi dalam Sekaten ini disebut Gerebeg Mulud yang dimaksudkan itu maulid nabi,” imbuh Muhtarom.

Selain dimulainya dengan menabuh Gamelan Sekaten, adat tradisi berikutnya yaitu Gerebeg Mulud berupa upacara mengusung gunungan berisi hasil bumi saat merayakan peringatan kelahiran nabi Muhammad atau Maulid Nabi yang akan digelar sekitar sepekan mendatang.

Gunungan tersebut dibawa dari Kraton Kasunanan Solo menuju Masjid Agung Solo untuk didoakan, kemudian dibagikan kepada masyarakat yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Mereka memperebutkan isi gunungan hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan, dan sebagainya. [ys/lt]

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.