Saprahan di Pontianak Ada Sejak Abad 18

 

 

GENCIL.NEWS Ketua Majelis Dewan Pemangku Adat MABM Kalbar, Syarif Selamat Yusuf Al-qadri, berujar budaya saprahan sudah ada sejak abad ke 18 lalu.

Saat ini, terjadi percampuran budaya antara Melayu Kota Pontianak dengan masyarakat yang tinggal di pesisir Kalimantan, yaitu suka Bangka, Bangka Belitung hingga Banjar.

“Dari situ,  terjadi percampuran seni dan budaya karena para pendatang menyerbu Kota Pontianak makanya banyak sekali kita lihat budaya Melayu hapir sama dengan budaya Melayu di sejumlah daerah,” katanya.

Mereka membawa budaya mereka sendiri. Baik kesenian, adat istiadat termasuk menjamu tamu dengan saprahan.

“Sampai budaya Saprahan ini masuk ke istana qadriah karena Adanya kawin campur antara kerabat keraton dan pendatang pesisir kalimantan. Kita disatukan Islam sehingga saat percampuran terjadi, tidak terlalu masalah, kita bisa menerima itu karena agama sebagai pelekatnya,” jelas pria yang akrab disapa pak Simon ini.

Baca juga   Wow Ulos Mendapat Pujian di Pertemuan IMF

Diterangkannya, filosofi saprahan ini sangat mengakar pada budaya Melayu, mengingat saprahan bukana hanya makan biasa tetapi makan bersama, dengan tidak melihat pangkat jabatan, suka, ras maupun kaya atau miskin.

“Dan ini membuat keakraban makin kuat,” ucapnya.

Di Kalbar, budaya Saprahan hampir ada di semua wilayah dearah yang didominasi ras Melayu, seperti di sambas, Ketapang dan Mempawah.

“Untuk  saprahan Pontianak dan Sambas ada bedanya, kalau Sambas itu dikenal dengan saprahan ‘segi empat’ atau mengggunakan tempat kecil untuk saprahan ini. Sementara Pontianak lebih gaya saprahan membentangkan kain panjang. Khusus  untuk kalangan istana berwarna kuning,” paparnya.

Ia berharap generasi muda bisa mengenal dan mengetahui sejarah Kota Pontianak, termasuk di dalamnya budaya saprahan.

Baca juga   Kirab Budaya Meriahkan Hari Jadi Kota Pontianak Ke-246

“Bukan hanya budaya tapi bagaimana mengenalkan sejarah Pontianak seperti apa kepada generasi muda. Lewat budaya seni yang dikemas modern tanpa meninggalkan esensi unsur sejarahnya,” ungkapnya.

Mudah-mudahan budaya lokal Pontianak terus menerus hidup bersama kehidupan masyarakat dan lebih dihargai penerusnya.

“Jika bukan kita siapa lagi, makanya kita dukung penuh berbagai kreativitas seni dan budaya Melayu oleh pemerintah,” ucapnya. (all)

 

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.