Ini 6 Film Hollywood Yang Habiskan Produksi Hingga Triliunan Rupiah
Connect with us

Film

Ini 6 Film Hollywood Yang Habiskan Produksi Hingga Triliunan Rupiah

Published

on

Ini 6 Film Hollywood Yang Habiskan Produksi Hingga Triliunan Rupiah

Gencil News- Ini 6 film hollywood yang habiskan produksi hingga triliunan rupiah. Industri film bukan lagi sekedar bagian dari sebuah bisnis hiburan semata. industri film juga hampir sama dengan investasi yang bisa bernilai miliaran hingga triliunan. Untuk anda para pecinta film kemungkinan anda bisa saja membedakan seperti apa kualitas film dengan budget besar dan budget yang cukup.

Untuk sebuah bisnis industri film pengeluaran biaya yang tidak main-main dalam sebuah produk film bukanlah untuk sekedar gengsi, tapi mengejar keuntungan yang berkali-kali lipat dari penayangannnya. Biaya produksi yang tinggi pun bisa menjadi salah satu faktor suksesnya sebuah film selain kualitas naskah dan pemainnya.

Apalagi untuk sebuah film bertema teknologi dan fantasi, tentu saja biaya produksi yang tinggi sudah bukan hal yang asing lagi. Penasaran film-film apa yang mampu menghabiskan biaya hingga triliunan rupiah dibalik biaya produksinya? Berikut daftar film dengan biaya produksi termahal didunia yang dirangkum oleh gencil news.

1. Avengers : Endgame (Rp. 4 hingga 5 Triliun)

Kesuksesan besar Avengers: Endgame memang bukan pencapaian yang murah dan mudah. Marvel Studios membuat sebuah jalan cerita yang panjang, lebih dari 10 tahun, untuk mengakhirinya lewat Endgame. Diawali dari film Iron Man (2008), Marvel membungkus cerita Phase 3 Marvel Cinematic Universe dengan pertempuran hidup dan mati para Avengers mengalahkan Thanos.

Avengers: Endgame total menghasilkan uang sekitar USD2,6 miliar. Demi membuat film ini, Disney dikabarkan menggelontorkan dana sekira USD400 juta sekaligus menjadi film dengan budget produksi termahal sepanjang 2019.

2. Pirates of the Caribean at World’s End (Rp. 3 triliun)

Salah satu film serial tersukses berikiut ialah Pirates of the Carribean yang berhasil menyabet posisi kedua untuk daftar ini, lebih tepatnya seri ketiganya yaitu Pirates of the Carribean at World’s End. Menghabiskan biaya produksi hingga $300 juta atau Rp 3 triliun.

Film bajak laut tersukses di dunia yang di bintangi oleh aktor tampan Johnny Depp ini menjadi biaya produksi termahal untuk film action komedi histroy hingga saat ini.

3. Avengers : Age of Ultron (Rp. 3,6 Triliun)

Siapa yang tidak mengenal judul film yang satu ini. Suka atau tidaknya anda dengan film bergenre superhero ini, tetap saja anda tidak akan merasa asing atau setidaknya pernah mendengar film yang di adaptasi dari komik Marvel ini.

Menjadi salah satu film dengan pendapatan tertinggi di dunia, biaya produksi dari film ini pun tidak main-main yaitu $250 juta atau Rp3,6 triliun.

4. James Bond 007 : Spectre (Rp. 3,5 Triliun)

Film baru dari agen rahasia paling populer 007, James Bond menjadi film selanjutnya yang memiliki biaya produksi paling tinggi didunia yaitu $245 juta atau sekitar Rp3,5 triliun.

Film yang dibintangi oleh aktor Daniel Craig ini pun berhasil menjadi series film di tahun 2015 yang paling laris manis dan banyak ditonton sehingga menjadi box office di berbagai negara pada saat itu.

5. Avatar (Rp. 3,3 Triliun)

Flm yang berhasil meraih 3 penghargaan Oscar pada tahun 2010 ini juga berhasil menjadi film yang paling banyak masuk nominasi pada acara penghargaan yang sama di tahun yang sama. Kesuksesan film avatar tidak hanya dari jumlah penghargaannya saja tapi juga jumlah penonton nya.

Berhasil meraih kemenangan karena visual efek super canggih yang ada pada film, artinya diikuti juga dengan biaya produksi yang tinggi pula. Avatar berhasil menghabiskan biaya produksi sebesar $237 juta atau Rp3,3 triliun.

6. The Amazing Spiderman (Rp. 3,2 Triliun)

Satu lagi film superhero Spiderman yang berhasil masuk sebagai film dengan biaya produksi tertinggi di dunia. Film baru Spiderman yang dibintangi oleh aktor peraih oscar Andrew Garfield ini berhasil menjadi box office pada tahun 2012.

Film yang rilis tahun 2014 dan bergenre Action, Adventure dan Science Fiction ini juga dibintangi oleh aktris cantik pemenang Oscar, Emma Stone. The Amazing spiderman 2 melanjutkan kisah Peter Parker (Andrew Garfield) sebelumnya, yakni setelah Captain Stacy (Denis Leary) tewas dan mengetahui bahwa Peter Parker, adalah sosok dibalik topeng Spiderman. Biaya produksi dari film ini pun mencapai $230 juta atau Rp3,2 trilun.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Film

Jarak Duduk Penonton Dibatasi, Simak Tips Aman Nonton di Bioskop

Published

on

Jarak Duduk Penonton Dibatasi, Simak Tips Aman Nonton di Bioskop
Akhir pekan begini memang paling asyik pergi ke bioskop untuk nonton film. Namun, saat virus corona makin menyebar, Anda harus lebih waspada.

Sejumlah Bioskop di Indonesia mulai membatasi jarak duduk penonton di studio dalam rangka social distancing untuk meredam penyebaran virus corona.

Memang tidak ada larangan pergi ke bioskop bila tubuh Anda sedang sehat. Tapi, harus tetap waspada agar tidak sampai tertular virus corona.

Salah satu jaringan bioskop terbesar di Indonesia, Cinema XXI, menyatakan bahwa mereka sudah mulai membatasi jarak dengan mengosongkan satu kursi antar-penonton.

Selain pembatasan jarak penonton, bioskop di Indonesia juga mulai mengurangi jadwal tayang demi meredam penyebaran virus corona.

Cinema XXI mengurangi jam tayang satu judul film menjadi empat kali yang sebelumnya ditayangkan sebanyak lima kali di seluruh jaringan.

Ada tiga cara supaya aman ketika anda memutuskan untuk nonton di bioskop

Pertama, sebaiknya memilih tempat duduk dengan jarak minimal satu meter dengan penonton lainnya. Dengan begitu, Anda tidak sampai bergesekan dengan penonton lainnya. 

Kedua, jangan memegang mulut, hidung, dan mata selama nonton film. Khawatirnya, tangan Anda terkontaminasi kuman, virus, dan bakteri yang bisa masuk ke dalam tubuh. 

Ketiga, sebaiknya mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah keluar dari bioskop. 

Perhatian! Bila Anda sedang kurang sehat, sebaiknya tidak pergi nonton film di bioskop. Sebab, tubuh yang tidak fit mudah terinfeksi virus.

Semua kembali kepada anda. Ada baiknya juga jika anda mulai mematuhi anjuran untuk tetap tinggal dirumah. Mengurangi aktivitas sosial diluar. Dan mulai menerapkan pola hidup sehat dan meningkatkan kebersihan baik untuk diri anda dan keluarga.

Continue Reading

Film

Ini 7 Rekomendasi Film Bertema Nasionalisme Indonesia

Published

on

Gencil News– ini 7 rekomendasi film bertema nasionalisme indonesiea. film berteman nasionalisme bisa mengisi hari libur anda. Setiap orang punya cara dalam memaknai nasionalisme, salah satunya pembuat film yang melahirkan karya dengan tema yang mampu membangkitkan rasa cinta terhadap tanah air.

ini 7 rekomendasi film bertema nasionalisme Indonesia dengan situasi yang saat ini masih tidak memungkinkan untuk berbaur di tengah keramaian, maka lebih baik anda luangkan waktu bersama keluarga dirumah dan menikmati tayangan beberapa rekomendasi film bertema nasionalisme ini.

ini 7 rekomendasi film bertema nasionalisme Indonesia

  • Tanah Air Beta

Film yang mengangkat kehidupan keluarga yang terpisah akibat pelepasan Timor Timur dari Indonesia pada tahun 1998 silam, adalah film garapan rumah produksi Alenia, milik Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen,  Nilai nasionalisme di film benar-benar kuat ketika si tokoh utama Tatiana (diperankan Alexandra Gottardo), memilih untuk mengungsi ke Kupang, NTT bersama anak perempuannya, Merry (Griffit Patricia), karena tetap ingin menjadi bagian dari RI. Keputusannya itu harus dibayar mahal karena terpaksa berpisah dari anak laki-lakinya yang masih berada di Timor Timur.

  • Gie

Film yang muncul di tahun 2005 ini adalah film garapan Riri Riza, yang diangkat dari kisah hidup aktivis muda yang bernama Seo Hok Gie. Gie adalah mahasiswa keturunan Tionghoa dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia dikenal sebagai pria yang memiliki pendirian teguh, sangat idealis dan memegang prinsip. Dalam film tersebut, Gie yang diperankan aktor Nicholas Saputra sebagai seseorang yang sangat menginginkan Indonesia berdiri dengan keadilan dan kebenaran murni.

  • Tanah Surga Katanya

Film yang dibintangi Aji Santoso dan Fuad Idris ini berkisah tentang sukarelawan konflik Indonesia-Malaysia 1965 yang harus rela berjuang bersama anak dan cucunya setelah istrinya meninggal di perbatasan Indonesia-Malaysia. Para menghuni kawasan perbatasan tersebut menghadapi dilema dimana mereka hidup dalam kesetiaan dan loyalitas pada Indonesia dengan segala keterbelakangan teknologi dan pembangunan, atau berpindah ke negara tetangga yang menawarkan hidup yang lebih layak.

  • Soekarno

Film Soekarno mengisahkan tentang seorang anak yang sering sakit bernama Kusno (yang kemudian digantikan nama menjadi Soekarno oleh ayahnya) berharap untuk menjadi ksatria layaknya Adipati Karno. Dan harapan tersebut pun berhasil ia lakukan ketika di usianya yang ke-24, ia berdiri di podium sembari berseru: “Kita harus merdeka sekarang!”. Akibat dari perbuatannya, Soekarno pun harus dipenjara dan dituduh menghasut pemberontakan

  • Garuda Di Dadaku

Film arahan sutradara Ifa Isfansyah ini menampilkan nilai nasionalisme para pemain, khususnya Bayu yang diperankan oleh Emir Mahira. Bayu sendiri adalah bocah berusia 11 tahun yang punya tekad kuat untuk menjadi seorang pemain sepak bola profesional dan bermain untuk membela negaranya di kancah internasional.

  • Denias

Film yang diangkat dari kisah nyata anak Papua Ini adalah film garapan dari John de Rantau yang diproduksi pada tahun 2006 dengan menceritakan Denias, anak suku pedalaman Papua yang ingin mendapatkan pendidikan yang layak. Denias adalah gambaran anak papua yang berjuang untuk berhasil di tanah air nya.

  • Laskar Pelangi

Diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Andrea Hirata, film ini menceritakan persahabatan anak-anak Belitong yang walaupun hidup di tempat yang terpencil nggak bikin mereka menyerah untuk belajar dan bersemangat dalam hidup.

Continue Reading

Film

FFI 2020 Semangat Industri Perfilman di Tengah Pandemi

Published

on

FFI 2020 Semangat Industri Perfilman di Tengah Pandemi
Aktor Lukman Sardi, Ketua FFI 2020 (Courtesy: FFI).

Gencil News – VOA – Festival Film Indonesia, FFI, 2020 akan tetap digelar di tengah pandemi. Ajang penghargaan film ini ingin membuktikan ketahanan dan kegigihan industri perfilman Indonesia menghadapi tantangan pandemi, teknologi digital, sementara pemutaran film-film Indonesia di bioskop-bioskop masih tertunda.

Penyelenggaraan FFI telah berlangsung sejak tahun 1955 meskipun sempat berkali-kali mengalami jeda, sebelum akhirnya rutin terlaksana setiap tahun mulai 2004. Tahun ini penyelenggaraan FFI tidak semegah tahun-tahun sebelumnya karena pandemi.

Lukman Sardi, Ketua FFI 2020, mengatakan pandemi justru menunjukkan pentingnya hiburan-hiburan melalui layanan streaming.

“Inikan membuktikan bahwa karya-karya film menjadi sebuah hal yang penting buat masyarakat,” kata Lukman Sardi sambil menambahkan industri perfilman Indonesia telah mengikuti tren ini meskipun produksi film yang beranggaran besar, masih tetap mengharapkan pulihnya bioskop, yang sebelum pandemi menarik lebih dari 52 juta penonton selama setahun.

Meskipun perhelatan perfilman ini dilakukan secara terbatas, FFI tetap menggelar Malam Penganugerahan Piala Citra pada 5 Desember 2020. Ini menunjukkan kelangsungan industri perfilman Indonesia.

“Festival Film Indonesia berbicara tentang kualitas film Indonesia dan akan selalu menjadi bench mark untuk FFI selanjutnya, tentunya harapan kita masyarakat melihat bahwa industri film itu tidak mati dan industri film itu tetap berkarya dan juga menghibur masyarakat,” ujar Lukman Sardi.

Tahun ini FFI ini juga menggunakan sistem voting untuk menentukan pemenang masing-masing kategori Piala Citra menyusul pengumuman nominasi 7 November lalu.

‘’Proses nominasi, dan pada akhirnya para anggota FFI akan memvoting dari nominasi-nominasi itu, ini penting menjelang malam anugerah, karena ini yang akan menjadi acara utama yaitu apresiasi tersebut,” ujar Lukman Sardi.

Dwi Sujanti Nugraheni (Heni) adalah sutradara film “Between the Devil and the Deep Blue Sea.” Film itu dinominasikan mendapat penghargaan Film Dokumenter Panjang Terbaik bersama film “You and I.”

Mengomentari sistem ini, ia mengatakan, “Kedua film berbicara mengenai perempuan. Yang satu mengenai eks 1965, sementara film saya mengenai Ona, kekerasan. Buat saya kedua film ini penting dan saya tidak begitu peduli siapa yang akan menang,” ujar Heni.

Berbicara mengenai perempuan dalam industri film Indonesia, Heni mengatakan, banyak tantangan yang harus dihadapi untuk membuktikan kesetaraan perempuan dan rekan sutradara laki-laki, terutama pada film fiksi.

“Sebenarnya kalau di dokumenter itu saya merasa perempuan justru mendapat tempat, karena di dunia film fiksi setahu saya itu dunia yang sangat laki-laki.”

Salah satu film yang dinominasikan mendapat penghargaan film terbaik FFI 2020, Perempuan Tanah Jahanam, juga akan diikutsertakan untuk bersaing meraih nominasi kategori film berbahasa asing terbaik OSCAR.

Lukman Sardi mengatakan banyaknya film-film Indonesia yang sudah menembus ajang perfilman Internasional, termasuk yang melibatkan pemeran. Ia yakin kurasi yang dilakukan FFI akan bisa merangkul dan menghasilkan film, kru dan pemeran yang berkualitas.

Seperti tahun lalu, jumlah penghargaan tetap 21 kategori, di antaranya untuk kategori:

Film Cerita Panjang Terbaik: The Science of Fictions, Humba Dreams, Imperfect, Mudik, Perempuan Tanah Jahanam dan Susi Susanti: Love All.

Sutradara Terbaik: Faozan Rizal – Abracadabra, Joko Anwar – Perempuan Tanah Jahanam, Riri Riza – Humba Dreams, Sim F – Susi Susanti: Love All, Yosep Anggi Noen – The Science of Fictions

Pemeran Utama Perempuan Terbaik: Faradina Mufti – Guru-guru Gokil, Jessica Mila – Imperfect, Laura Basuki – Susi Susanti: Love All, Putri Ayudya – Mudik, Tara Basro – Perempuan Tanah Jahanam dan Ully Triani – Humba Dreams

Pemeran Utama Pria Terbaik, Alqusyairi Radjamuda – Mountain Song, Ario Bayu – Perempuan Tanah Jahanam, Dion Wiyoko – Susi Susanti: Love All, Gunawan Maryanto – The Science of Fictions, Ibnu Jamil – Mudik, Reza Rahadian – Abracadabra, Reza Rahadian – Imperfect.

Continue Reading

TRENDING