Connect with us

Film

Jet Li Diminta Putrinya untuk Berperan Dalam Film ‘Mulan’

Published

on

Jet Li Diminta Putrinya untuk Berperan Dalam Film 'Mulan'
Jet Li - Foto Cinemablend

Gencil News – Aktor kawakan Jet Li berperan sebagai kaisar dalam film Mulan. Jet Li mengaku sangat terkesan pada satu pesan yang disisipkan film tersebut dalam legenda Mulan yang sudah berabad-abad dikenal masyarakat China yaitu: Jujurlah pada diri sendiri.

Li mengatakan, kisah dalam film Mulan telah sering diceritakan di China. Jadi, ia tidak yakin film itu bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang baru.

Li memuji sutradara Niki Caro dan seluruh timnya karena membuat versi live-action dari film tersebut sehingga menampilkan hasil akhir yang detil namun berisikan arti yang jelas dan sederhana.

“Saya sudah tahu seluruh kisahnya. Bagaimana menjadikan kisah itu sesuatu yang baru untuk abad ke-21 dan bagi seluruh dunia? Putri saya, usia 15 tahun, meminta saya berperan dalam film ini. Saya tanya dia, apakah tahu tentang Mulan? Ia menjawab, ‘saya besar dengan Mulan’. OK!,” katanya.

“Kamu sangat unik. tidak perlu belajar menjadi orang lain. Kamu harus menjadi diri sendiri. Itu pesan yang ingin disampaikan film kepada anak-anak perempuan. Menurut saya, pesan itu sangat bermakna untuk situasi dunia saat ini,” tambah Jet.

Donnie Yen, bintang film laga asal Hong Kong, berperan sebagai komandan militer yang kemudian memandu karakter Mulan dalam film ini.

“Bagian dari peran itu adalah penampilan fisik – tubuh saya. Jadi, bagi saya, berperan sebagai komandan dalam film ini, yang mengharuskan saya mengayunkan pedang atau mengajarinya, itu hanyalah cara untuk sampai ke tujuan itu.”

Dengan biaya tambahan, film Mulan versi drama live-action yang diproduksi kembali oleh Disney, sudah bisa disaksikan melalui layanan streaming Disney Plus mulai 4 September. Mulan juga akan diputar secara terbatas di bioskop di sejumlah negara.

Tentunya hampir semua orang sudah mengenal “Mulan”, film animasi musikal karya Walt Disney yang dirilis pada tahun 1998.

Kini, lebih dari 20 tahun kemudian, film tersebut dirilis kembali dalam bentuk drama live-action, menampilkan sederet bintang laga ternama seperti Jet Li dan Donnie Yen.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa awalnya ia tidak tertarik untuk bermain dalam film tersebut. Ia akhirnya bergabung setelah diminta putrinya, remaja usia 15 tahun.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Film

Kebangkitan Sutradara Perempuan di Industri Film Hiburan

Published

on

Kebangkitan Sutradara Perempuan di Industri Film Hiburan

Gencil News – VOA – Jumlah perempuan yang menonton di bioskop jauh lebih besar dibanding laki-laki, tetapi jumlah sutradara perempuan jauh lebih kecil.

Menurut womenandhollywood.com, jumlah perempuan yang menjadi sutradara hanya 10,7 persen. Yang menarik jumlah sutradara perempuan dalam industri film hiburan dewasa kini justru meningkat.

Sutradara film dewasa Kayden Kross dan aktris Maitland Ward mengatakan selain lebih banyak sutradara perempuan.

Kini kualitas sebagian film dewasa juga setara dengan produksi mainstream. Kross bahkan menilai banyaknya jumlah sutradara perempuan dalam industri yang biasanya didominasi laki-laki ini sebagai sebuah “kebangkitan.”

“Saya tidak percaya bahwa secara inheren laki-laki atau perempuan lebih baik atau lebih buruk dalam mengarahkan [para pemain].

Ini semacam kebangkitan di mana perempuan tiba-tiba mendominasi penyutradaraan film dewasa, sebagian karena kita selama ini hanya fokus pada hal-hal yang berbeda. Jadi kini kita melihat adanya konten yang sebelumnya tidak diproduksi massal dan saya pikir menyegarkan bagi banyak orang ketika melihat detail tambahan dan perbedaan itu. Saya kira hasilnya adalah pemberdayaan perempuan. Tapi bagi saya tujuannya bukan itu. Saya hanya ingin membuat sesuatu yang saya nikmati,” jelas Kayden.

Kayden Kross yang menyutradarai “Deeper,” di bawah Vixen Media Group, dikenal karena gaya sinematografinya dan naskah berkualitas industri arus utama.

“Sinematografi adalah lapisan lain yang membawa cerita itu ke permukaan. Ini soal sudut dan gerakan kamera. Saya memberi sentuhan seperti ketegangan yang meningkat atau emosi apapun yang ingin saya tunjukkan. Jika saya hanya mengandalkan naskah, tanpa alat sinematografi tambahan, saya tidak akan mencapai target yang diinginkan,” imbuhnya.

Sementara itu aktris Maitland Ward, yang memulai karirnya di industri film dan TV mainstream, termasuk sitkom “Boy Meets World” dan film “White Chicks,” melihat keberadaan sutradara perempuan dalam industri film dewasa merupakan kejutan yang menyenangkan.

“Saya sangat terkejut ketika saya masuk ke dunia hiburan dewasa profesional dan mendapati betapa kuatnya perempuan dalam industri itu. Saya awalnya selalu terpaku pada stereotip lama, seperti membuat film ini di ruang belakang atau secara ilegal. Lalu saya bertemu Kayden dan ketika masuk ke lokasi syuting, saya melihat ia sebagai sosok sutradara perempuan yang memiliki kendali penuh atas naskah cerita, pengambilan atau pengaturan gambar, dan semuanya,” kata Ward.

Ward percaya bahwa industri hiburan dewasa lebih berpandangan maju dibanding media-media arus utama.

“Sebagian perempuan memenangkan penghargaan dan membuat proyek-proyek berskala besar. Ini yang tidak ada di industri film arus utama karena ketika saya berada di industri film itu, jumlah sutradara perempuan dan para perempuan yang diberdayakan sangat kecil. Jadi ini tidak nyata. Tetapi kemudian saya memasuki industrifilm dewasa yang lebih berpandangan maju dibanding media-media arus utama pada saat kapan pun juga,” komentarnya.

Namun Ward juga menambahkan adanya ironi dalam fenomena baru ini. “Ironinya adalah ketika orang mempertanyakan apakah berada dalam industri hiburan dewasa akan merusak karir Anda? Justru ini memberi saya karir lagi! Memberi saya semangat untuk membaca dan berakting sesuai naskah Kayden dan lain-lain,” tandas Ward.

Continue Reading

Film

Peredaran Film Mulan Disambut Seruan Boikot

Published

on

Peredaran Film Mulan Disambut Seruan Boikot

Gencil News – Besarnya penduduk Tiongkok menjadi pasar ideal bagi pembuat film di Hollywood. Mereka berusaha menembus pasar itu dengan memenuhi aturan pemerintah setempat.

Namun di tengah ketegangan politik AS-Tiongkok, upaya tersebut bisa menjadi bumerang bahkan mengundang boikot, seperti yang dialami Disney.

Tentunya hampir semua orang sudah mengenal “Mulan”, film animasi musikal karya Walt Disney yang dirilis pada tahun 1998.

Kini, lebih dari 20 tahun kemudian, film tersebut dirilis kembali dalam bentuk drama live-action, menampilkan sederet bintang laga ternama seperti Jet Li dan Donnie Yen.

Film Mulan versi drama live-action yang diproduksi kembali oleh Disney, sudah bisa disaksikan melalui layanan streaming Disney Plus mulai 4 September. Mulan juga akan diputar secara terbatas di bioskop di sejumlah negara.

Continue Reading

Film

“How Far I’ll Go” Kisah Persahabatan 2 Perempuan Difabel

Published

on

Film independen “How Far I’ll Go” atau Sejauh Ku Melangkah berhasil menjadi pemenang dalam Shorts Pitch Competition yang diadakan oleh Tribeca Film Institute di New York tahun lalu.

Film dokumenter karya sutradara perempuan Indonesia itu mengisahkan persahabatan dua sahabat difabel Indonesia yang terpisah oleh jarak dan perbedaan waktu namun menghadapi tantangan yang sama untuk menjadi remaja yang mandiri.

Itulah cuplikan flm independen How Far I’ll Go atau Sejauh Ku Melangkah di mana pemeran utama Andrea sedang belajar menyetir walau tidak bisa melihat. Film itu mengisahkan dua sahabat tunanetra, Andrea dan Salsa yang tak bisa melihat sejak lahir dan berteman saat di TK tunanetra Lebak Bulus, Jakarta. Pada usia lima tahun, Andrea bersama keluarga pindah dari Jakarta ke Virginia, Amerika Serikat, sementara Salsa tetap berada di Jakarta.

Kini keduanya beranjak remaja. Terlepas jarak yang ada, Andrea dan Salsa tetap menjalin komunikasi melalui telepon video dan pesan instan.

“Selamat pagi, Salsa! Apa kabar?,” tanya Andrea Darmawan, pemeran utama How Far I’ll Go.

Film dokumenter yang disutradarai Ucu Agustin tersebut tahun lalu berhasil menjadi pemenang dalam Shorts Pitch Competition yang diadakan oleh Tribeca Film Institute di New York, dan juga diputar di sejumlah tempat termasuk Washington DC.

Sutradara sekaligus pemerhati perempuan itu bertemu Dea, sapaan akrab Andrea pada Oktober 2017 ketika ia berumur 16 tahun.

Ucu Agustin, Sutradara How Far I’ll Go menjelaskan, “Ketika saya melihat dia (Dea) sama teman-temannya, berbicara (ngobrol) tentang mode, musik, dan lain sebagainya, saya tidak melihatnya sebagai anak yang tidak bisa melihat.”

Melalui film How Far I’ll Go, Ucu ingin menjelaskan bagaimana remaja seperti Dea yang tidak bisa melihat mempersiapkan dirinya agar bisa mandiri sebagaimana orang normal lainnya.

Kepada VOA melalui telepon, Dea menjelaskan tantangan yang dihadapi tidak hanya mendaftarkan semua pihak yang terlibat mulai dari korespondensi melalui sejumlah email, pemberitahuan kepada pihak sekolah, guru dan kepala sekolah termasuk instruktur belajar mengemudi yang setelah beberapa bulan dihubungi akhirnya bersedia ikut dalam pembuatan film How Far I’ll Go.

“Aku bersama seorang guru dari sekolah menelepon dia dan membujuk instruktur tersebut,” tambah Dea.

Andrea Darmawan atau Dea, Pemeran utama film "How Far I’ll Go" (foto: courtesy).
Andrea Darmawan atau Dea, Pemeran utama film “How Far I’ll Go” (foto: courtesy).

Ketika ditemui beberapa waktu lalu, Indah Setiowati kepada VOA menjelaskan rasa bangganya sebagai seorang ibu dan orangtua sekaligus mengerti bahwa Dea bukan anak difabel yang punya banyak keterbatasan.

Indah Setiowati, Ibu Dea, mengatakan, “Dia banyak bisa mengadvokasi dirinya dan anak-anak difabel lain bahwa tidak ada yang mustahil. The sky is the limit. Tidak ada yang bisa menghalangi kemajuan seseorang termasuk Dea.”

My life perception since eight started to fade. When I was in fifth grade…and I remembered at first I was scared because I couldn’t tell when the light was on or off anymore….”

(Persepsi hidup saya sejak saya berusia delapan (tahun) mulai memudar. Ketika saya di kelas lima … dan saya ingat pada awalnya saya takut karena saya tidak bisa tahu lagi kapan lampu menyala atau mati), begitu cuplikan kisah Dea dalam film tersebut.

Indah yang menghadiri sejumlah pemutaran Film Sejauh Ku Melangkah mengemukakan respon para penonton yang positif di mana mereka mengakui bahwa keterbatasan dan ketidakleluasaan anak-anak difabel untuk mengikuti pendidikan masih ada di Indonesia.

Bagi sutradara Ucu Agustin, hal menarik dari persahabatan yang kuat itu selain keduanya tidak bisa melihat, juga perbedaan keyakinan antara kedua sahabat tersebut: Dea beragama Kristen sedangkan Salsa seorang muslim yang memakai kerudung.

Hal yang disukai dan berarti bagi Dea dalam film tersebut adalah bagian ketika di sekolah ia sedang berbicara dengan guru yang mengajarnya jurnalistik.

“Ada satu scene ketika saya ngobrol dengan guru jurnalistik. Dia tahu saya tekun dan bisa mengerjakan tugas yang diberikan. Jadi fakta bahwa saya tidak bisa melihat itu tidak menghalangi persepsinya,” pungkasnya.

Continue Reading

TRENDING