Connect with us

Film

Seniman Asal Indonesia, Cheverly Amalia Film Barunya di AS Terdampak Pandemi

Published

on

Seniman Asal Indonesia, Cheverly Amalia Film Barunya di AS Terdampak Pandemi -Seniman multi-talenta asal Indonesia, Cheverly Amalia yang tinggal di Los Angeles terpaksa menunda tahap pasca produksi film terbarunya yang berjudul “the 3rd Guest,” akibat pandemi virus corona. Namun, ia tidak patah semangat. Katanya, “Badai pasti berlalu.”

“Cerita ‘3rd Guest’ ini menceritakan tentang suami isteri yang baru saja kehilangan puterinya. Genre dari ‘3rd Guest’ ini adalah thriller,” jelasnya saat dihubungi VOA Indonesia belum lama ini.

Cheverly adalah satu-satunya orang Indonesia yang terlibat dalam penggarapan film ini. Seluruh kru dan aktornya adalah warga lokal, yang telah melalui proses audisi di Hollywood dan Los Angeles. Salah satunya, Andrea Anderson, yang terkenal lewat serial televisi “Arrested Development” dan “Fresh of the Boat.”

Proses penggarapan filmnya sendiri sudah dimulai sejak tahun 2019 lalu dan seharusnya, kini sudah masuk ke tahap pasca produksi, agar dapat dirilis di tahun 2020 ini.

Namun, dengan adanya pandemi virus corona, termasuk pembatasan sosial, Cheverly menjadi salah satu dari sekian banyak seniman yang terimbas, dimana proses pasca produksi filmnya ini terpaksa harus ditunda.

Ditambah lagi, walaupun proses syuting sudah selesai, sang sutradara, Sean Cannon, masih merasa belum puas dengan beberapa adegan filmnya dan minta diadakan syuting ulang.

“Jadi dampaknya ini sangat really bad actually, untuk aku pribadi gitu dan juga untuk my friends, my team, Sean (red: sutradara Sean Cannon), or Kris (red: produser Kristifor Cvijetic), pasti mereka juga merasa sangat kecewa, tapi kita mau berbuat apa?” tambah seniman kelahiran tahun 1983 ini.

“Karena COVID-19 ini juga bukan datangnya dari kesalahannya dari kita. Tapi memang di seluruh dunia merasakan hal yang sama. Jadi ya sekarang, sebagai seniman ya kami harus bisa lebih bersabar lagi menunggu untuk menyelesaikan apa yang sudah harus kita selesaikan di project film kita ini,” tambahnya.

Walaupun kini Cheverly tidak bisa bertemu secara langsung dengan timnya, komunikasi masih terus berjalan dan semuanya dilakukan dari rumah masing-masing, melalui telpon atau video call. Sebagai produser, Cheverly berusaha untuk menyemangati, agar timnya tetap semangat, khususnya kepada sang sutradara.

“Kan kemarin 2019 tuh waktu ngegarap film, kan tenaga, waktu, you know how it is kan kalau buat film, it’s not that easy gitu ya, prosesnya panjang sekali gitu, terus tiba-tiba COVID-19 hadir di bumi gitu. Jadi aku sebagai salah satu team work yang ada di dalam film kita itu berusaha untuk memberikan semangat yang terbaik untuk tim yang ada di sana, khususnya adalah kepada sutradaranya,” jelas seniman yang akrab disapa Chevy ini.

Belum Bisa Pulang ke Los Angeles, Cheverly Amalia Garap Proyek Lagu Religi

Sejak bulan Februari lalu, Cheverly tengah berada di Indonesia untuk mengunjungi keluarga dan sahabat, serta menghadiri beberapa pertemuan dengan teman-temannya di dunia perfilman di Indonesia.

Cheverly Amalia, produser eksekutif sekaligus aktris dalam film "Blackout Experiment" di Los Angeles (VOA/Dhania)
Cheverly Amalia, produser eksekutif sekaligus aktris dalam film “Blackout Experiment” di Los Angeles (VOA/Dhania)

Namun, sekitar dua minggu setelah sampai di Indonesia, situasi COVID-19 semakin memburuk dan kini dirinya terpaksa harus tinggal lebih lama, karena penerbangannya ke Los Angeles ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan.

“Aku pun berdoa dengan harapan ini bisa segera berakhir, agar supaya kita juga bisa kembali normal lagi hidupnya dan Chevy berharap bisa pulang secepatnya ke LA. Kita lihat nanti saja, kalau memang harus ganti pesawat, ya mungkin nanti Chevy ganti pesawat, tapi masih mau nunggu beberapa hari lagi,” kata seniman yang juga menekuni dunia musik ini.

Untuk mengisi waktu, peremuan yang mengawali karirnya di dunia hiburan di Indonesia ini terus berusaha untuk aktif dan berkegiatan bersama teman-temannya dari rumah masing-masing. Salah satunya proyek lagu religi.

“Alhamdulillah, karena juga ini kita sedang menjalani bulan suci Ramadan, jadi kemarin sama teman-teman juga sempat merencanakan membuat proyek-proyek kecil, seperti membuat lagu-lagu religi Ramadan, yang dimana semua kita lakukan dari rumah aja,” ujarnya.

Walaupun harus berdiam di rumah, lagi-lagi Cheverly berpesan untuk tetap semangat, khususnya kepada teman-teman yang menekuni dunia perfilman seperti dirinya, mengingat dampak dari pandemi COVID-19 tidak hanya menimpa dirinya sebagai sineas independen, tetapi juga studio-studio besar di Hollywood.

“Jadi untuk temen-temen independen, mulai dari sutradara, directors, producer, dan juga penulis, kita harus tetap semangat. Jangan putus asa, karena COVID-19 ini hadir, dan pastinya nanti akan ada endingnya. Pasti nanti akan pergi juga. Badai pasti berlalu.”

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Film

Kebenaran Yang Belum Terungkapkan dari Film Blade

Published

on

GENCILNEWS – Keberhasilan dari Marvel Cinematic yang menghasilkan film-film blockbuster, serta banyak pujian untuk  untuk akting Robert Downey Jr. yang  baik di Iron Man, produser Kevin Feige merasa terlambat dan lalai dalam menampilkan “kesuksesan marvel” dari berbagai film marvel cinematic, yang merupakan hasil jenius dan  kreatif dari pencipta komik Jack Kirby, Steve Ditko, Gene Colan, John Romita Sr., dan Stan Lee.

Yang dimaksud terlambat dan lalai oleh Kevin Feige  itu adalah sebuah film yang dirilis 1998 yaitu Blade, film aksi berdarah dikemas dengan mantel kulit  dan yang memecahkan rekor  film komik di tahun 90-an.

Namun rilis Blade tahun 1998 tidak menampilkan keseluruhan cerita sebenarnya didalam film ; sebenarnya, ada banyak yang mungkin tidak Anda ketahui tentang pahlawan penghancur vampire favorit Anda.

 Inilah kebenaran Blade yang tak terungkapkan

Blade diciptakan oleh Gene Colan dan Marv Wolfman pada tahun 1973 yang bercerita sekelompok karakter yang bertugas membunuh Lord of Vampires yang eponim.

Sebenarnya ini bukan  komik horor, namun; Serial ini membawa Dracula langsung ke Marvel Universe.

Blade awalnya muncul di Makam Dracula # 10, dan hanya muncul sebentar-sebentar sepanjang kisah ini, dan itu hanya  sebagai karakter pendukung.

Di antara para pemain, Blade terlihat  sangat menonjol dengan tampilan yang berbeda dan kebencian yang kuat dengan vampir.

Pembaca akhirnya mengetahui bahwa Blade menerima kekuatan dan kebenciannya dari ibunya, yang digigit oleh vampir saat dia melahirkannya.

Peristiwa  ini memberinya kekebalan semu terhadap vampir, serta kekuatan dan taring yang ditingkatkan (ia juga memiliki nama yang normal, Eric Brooks, meskipun jarang digunakan).

Seperti kebanyakan pahlawan Marvel, Blade adalah pahlawan super yang berjuang melawan hasrat mendasar – karena keadaan kelahirannya (titisan vampire) yang menyebabkan haus darah sesekali,

Blade yang dirilis pada tahun 1998  melambungkan  nama Wesley Snipes

Film ini menghidupkan kembali konsep pemburu vampir vampir, menampilkan karakter yang hidup dalam bayang-bayang, membunuh vampir-vampir Euro yang licik dalam rangkaian aksi aneh. Dan faktanya bahwa film ini memiliki  rating R(Nilai R: Dibatasi – di bawah 17 didampingi orang tua ) karena banyak adegan bersandar pada kekerasan yang penuh darah dan dialog yang tidak senonoh.

Blade membuktikan bahwa film buku komik bisa menjadi kesuksesan sejati, bahkan tanpa dorongan tambahan menggunakan karakter terkenal seperti Batman atau Superman.

Meskipun film itu secara teknis disutradarai oleh Steve Norrington, produser dan bintang Wesley Snipes layak mendapatkan sejumlah besar pujian. Menurut para pemain dan kru di lokasi syuting , Snipes banyak melakukan improvisasi.Bahkan Snipes menambah beberapa kalimat-kalimat kasar dan makian, agar semakin Meriah penulis skenario  David S. Goyer, begitu terpesona dengan snipes yang bersikeras itu ditulis ke dalam film. Dan akhirnya membuat film ini semakin hidup.

Pada syuting film Blade memang banyak menggunakan darah palsu, namun beberapa peristiwa nyata yang mengerikan juga terjadi.

Donal Logue, yang memainkan korban abadi Blade Quinn, dislokasi rahangnya ketika sedang merekam adegan dimana Quinn menggigit yang mengakibatkan luka bakar yang mengerikan,

Karen (N’Bushe Wright). Dia harus dilarikan ke ruang gawat darurat terdekat, dan membuat para perawat takut ketika mereka melihat apa yang tampak seperti seorang lelaki yang dibungkus dengan luka bakar tingkat tiga, yang merintih kesakitan.

Ada Adegan lain terbukti yang  sama menakutkan (meskipun kurang menyakitkan) untuk Snipes.

Ketika Blade ditempatkan ke dalam peti jinjing yang berada diklimaks film, Snipes sendiri sebenarnya ditempatkan di dalam peti mati dengan ukuran yang tak sesuai badannya.

“[Ketika] tali kulit memotong ke leher saya … itu benar-benar seperti memotong ke leher dan pergelangan tangan saya,” ujar snipes

“Saya tidak bisa melihat ke bawah untuk melihat apakah ada bagian dari tubuh saya yang menempel di luar [peti mati ] bingkai.(gns)

Continue Reading

Film

Ini 6 Film Hollywood Yang Habiskan Produksi Hingga Triliunan Rupiah

Published

on

Ini 6 Film Hollywood Yang Habiskan Produksi Hingga Triliunan Rupiah

Gencil News- Ini 6 film hollywood yang habiskan produksi hingga triliunan rupiah. Industri film bukan lagi sekedar bagian dari sebuah bisnis hiburan semata. industri film juga hampir sama dengan investasi yang bisa bernilai miliaran hingga triliunan. Untuk anda para pecinta film kemungkinan anda bisa saja membedakan seperti apa kualitas film dengan budget besar dan budget yang cukup.

Untuk sebuah bisnis industri film pengeluaran biaya yang tidak main-main dalam sebuah produk film bukanlah untuk sekedar gengsi, tapi mengejar keuntungan yang berkali-kali lipat dari penayangannnya. Biaya produksi yang tinggi pun bisa menjadi salah satu faktor suksesnya sebuah film selain kualitas naskah dan pemainnya.

Apalagi untuk sebuah film bertema teknologi dan fantasi, tentu saja biaya produksi yang tinggi sudah bukan hal yang asing lagi. Penasaran film-film apa yang mampu menghabiskan biaya hingga triliunan rupiah dibalik biaya produksinya? Berikut daftar film dengan biaya produksi termahal didunia yang dirangkum oleh gencil news.

1. Avengers : Endgame (Rp. 4 hingga 5 Triliun)

Kesuksesan besar Avengers: Endgame memang bukan pencapaian yang murah dan mudah. Marvel Studios membuat sebuah jalan cerita yang panjang, lebih dari 10 tahun, untuk mengakhirinya lewat Endgame. Diawali dari film Iron Man (2008), Marvel membungkus cerita Phase 3 Marvel Cinematic Universe dengan pertempuran hidup dan mati para Avengers mengalahkan Thanos.

Avengers: Endgame total menghasilkan uang sekitar USD2,6 miliar. Demi membuat film ini, Disney dikabarkan menggelontorkan dana sekira USD400 juta sekaligus menjadi film dengan budget produksi termahal sepanjang 2019.

2. Pirates of the Caribean at World’s End (Rp. 3 triliun)

Salah satu film serial tersukses berikiut ialah Pirates of the Carribean yang berhasil menyabet posisi kedua untuk daftar ini, lebih tepatnya seri ketiganya yaitu Pirates of the Carribean at World’s End. Menghabiskan biaya produksi hingga $300 juta atau Rp 3 triliun.

Film bajak laut tersukses di dunia yang di bintangi oleh aktor tampan Johnny Depp ini menjadi biaya produksi termahal untuk film action komedi histroy hingga saat ini.

3. Avengers : Age of Ultron (Rp. 3,6 Triliun)

Siapa yang tidak mengenal judul film yang satu ini. Suka atau tidaknya anda dengan film bergenre superhero ini, tetap saja anda tidak akan merasa asing atau setidaknya pernah mendengar film yang di adaptasi dari komik Marvel ini.

Menjadi salah satu film dengan pendapatan tertinggi di dunia, biaya produksi dari film ini pun tidak main-main yaitu $250 juta atau Rp3,6 triliun.

4. James Bond 007 : Spectre (Rp. 3,5 Triliun)

Film baru dari agen rahasia paling populer 007, James Bond menjadi film selanjutnya yang memiliki biaya produksi paling tinggi didunia yaitu $245 juta atau sekitar Rp3,5 triliun.

Film yang dibintangi oleh aktor Daniel Craig ini pun berhasil menjadi series film di tahun 2015 yang paling laris manis dan banyak ditonton sehingga menjadi box office di berbagai negara pada saat itu.

5. Avatar (Rp. 3,3 Triliun)

Flm yang berhasil meraih 3 penghargaan Oscar pada tahun 2010 ini juga berhasil menjadi film yang paling banyak masuk nominasi pada acara penghargaan yang sama di tahun yang sama. Kesuksesan film avatar tidak hanya dari jumlah penghargaannya saja tapi juga jumlah penonton nya.

Berhasil meraih kemenangan karena visual efek super canggih yang ada pada film, artinya diikuti juga dengan biaya produksi yang tinggi pula. Avatar berhasil menghabiskan biaya produksi sebesar $237 juta atau Rp3,3 triliun.

6. The Amazing Spiderman (Rp. 3,2 Triliun)

Satu lagi film superhero Spiderman yang berhasil masuk sebagai film dengan biaya produksi tertinggi di dunia. Film baru Spiderman yang dibintangi oleh aktor peraih oscar Andrew Garfield ini berhasil menjadi box office pada tahun 2012.

Film yang rilis tahun 2014 dan bergenre Action, Adventure dan Science Fiction ini juga dibintangi oleh aktris cantik pemenang Oscar, Emma Stone. The Amazing spiderman 2 melanjutkan kisah Peter Parker (Andrew Garfield) sebelumnya, yakni setelah Captain Stacy (Denis Leary) tewas dan mengetahui bahwa Peter Parker, adalah sosok dibalik topeng Spiderman. Biaya produksi dari film ini pun mencapai $230 juta atau Rp3,2 trilun.

Continue Reading

Film

Ini 7 Rekomendasi Film Bertema Nasionalisme Indonesia

Published

on

Gencil News– ini 7 rekomendasi film bertema nasionalisme indonesiea. film berteman nasionalisme bisa mengisi hari libur anda. Setiap orang punya cara dalam memaknai nasionalisme, salah satunya pembuat film yang melahirkan karya dengan tema yang mampu membangkitkan rasa cinta terhadap tanah air.

ini 7 rekomendasi film bertema nasionalisme Indonesia dengan situasi yang saat ini masih tidak memungkinkan untuk berbaur di tengah keramaian, maka lebih baik anda luangkan waktu bersama keluarga dirumah dan menikmati tayangan beberapa rekomendasi film bertema nasionalisme ini.

ini 7 rekomendasi film bertema nasionalisme Indonesia

  • Tanah Air Beta

Film yang mengangkat kehidupan keluarga yang terpisah akibat pelepasan Timor Timur dari Indonesia pada tahun 1998 silam, adalah film garapan rumah produksi Alenia, milik Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen,  Nilai nasionalisme di film benar-benar kuat ketika si tokoh utama Tatiana (diperankan Alexandra Gottardo), memilih untuk mengungsi ke Kupang, NTT bersama anak perempuannya, Merry (Griffit Patricia), karena tetap ingin menjadi bagian dari RI. Keputusannya itu harus dibayar mahal karena terpaksa berpisah dari anak laki-lakinya yang masih berada di Timor Timur.

  • Gie

Film yang muncul di tahun 2005 ini adalah film garapan Riri Riza, yang diangkat dari kisah hidup aktivis muda yang bernama Seo Hok Gie. Gie adalah mahasiswa keturunan Tionghoa dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia dikenal sebagai pria yang memiliki pendirian teguh, sangat idealis dan memegang prinsip. Dalam film tersebut, Gie yang diperankan aktor Nicholas Saputra sebagai seseorang yang sangat menginginkan Indonesia berdiri dengan keadilan dan kebenaran murni.

  • Tanah Surga Katanya

Film yang dibintangi Aji Santoso dan Fuad Idris ini berkisah tentang sukarelawan konflik Indonesia-Malaysia 1965 yang harus rela berjuang bersama anak dan cucunya setelah istrinya meninggal di perbatasan Indonesia-Malaysia. Para menghuni kawasan perbatasan tersebut menghadapi dilema dimana mereka hidup dalam kesetiaan dan loyalitas pada Indonesia dengan segala keterbelakangan teknologi dan pembangunan, atau berpindah ke negara tetangga yang menawarkan hidup yang lebih layak.

  • Soekarno

Film Soekarno mengisahkan tentang seorang anak yang sering sakit bernama Kusno (yang kemudian digantikan nama menjadi Soekarno oleh ayahnya) berharap untuk menjadi ksatria layaknya Adipati Karno. Dan harapan tersebut pun berhasil ia lakukan ketika di usianya yang ke-24, ia berdiri di podium sembari berseru: “Kita harus merdeka sekarang!”. Akibat dari perbuatannya, Soekarno pun harus dipenjara dan dituduh menghasut pemberontakan

  • Garuda Di Dadaku

Film arahan sutradara Ifa Isfansyah ini menampilkan nilai nasionalisme para pemain, khususnya Bayu yang diperankan oleh Emir Mahira. Bayu sendiri adalah bocah berusia 11 tahun yang punya tekad kuat untuk menjadi seorang pemain sepak bola profesional dan bermain untuk membela negaranya di kancah internasional.

  • Denias

Film yang diangkat dari kisah nyata anak Papua Ini adalah film garapan dari John de Rantau yang diproduksi pada tahun 2006 dengan menceritakan Denias, anak suku pedalaman Papua yang ingin mendapatkan pendidikan yang layak. Denias adalah gambaran anak papua yang berjuang untuk berhasil di tanah air nya.

  • Laskar Pelangi

Diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Andrea Hirata, film ini menceritakan persahabatan anak-anak Belitong yang walaupun hidup di tempat yang terpencil nggak bikin mereka menyerah untuk belajar dan bersemangat dalam hidup.

Continue Reading

TRENDING